Isy Kariman Aw Mut Syahidan

Blog EntryKetika Pensil Anak-anak Itu Tidak BergerakApr 29, '08 5:12 AM
for everyone
Barusan baca kisah ini di inbox emaiku...
Miris, karena ketidakadilan harus ditelan bulat-bulat, sampai tidak terasa pahitnya, oleh siswa-siswa daerah ini.
Prihatin, terhadap ketidakberdayaan guru yang akhirnya memilih jalan pintas dengan berlaku curang. Sungguh sangat bertolak belakang dengan kemuliaan profesinya.
Geram, memikirkan ulah aparat yang bertindak norak dengan mengedepankan kekerasan.
Kasihan, pada orangtua yang menaruh harapan besar pada buah hatinya....



KASUS UJIAN NASIONAL

Kelengangan Jalan Galang, Lubuk Pakam, pecah. Rabu (23/4) pukul 13.30
ledakan keras dari pucuk senapan menyalak di Sekolah Menengah Atas
Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang. Sekelompok orang berpakaian sipil, tetapi
bersenjata, membuka paksa sebuah ruangan di sana.
Para pendobrak pintu itu ternyata anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror
Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Sumut).

Guru yang ada di dalam ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Bimbingan
Konseling (BK) kaget.

G Sianturi, guru bidang studi Ekonomi, hanya diam. Dia tak menduga ada
petugas berpakaian sipil merangsek masuk ruangan. Petugas memergoki para
guru membetulkan lembar jawaban siswa peserta ujian nasional (UN).

Tanpa banyak kata, mereka menyita 284 lembar jawaban siswa, pensil,
penggaris, dan peruncing pensil. Para guru gemetar, sebagian menangis.

Tiga hari sudah berlalu, tetapi Sianturi mengaku masih shock. Dia
mengatakan hanya ingin membantu siswa yang kesulitan mengerjakan soal Bahasa
Inggris. Diakuinya semua direncanakan para guru. Pada saat para siswa terlihat
tidak bisa mengerjakan soal, guru-guru akan membantu membetulkan jawaban.
"Kami terpaksa," katanya.

Bahasa Inggris adalah mata ujian pertama yang dijadwalkan pukul 08.00-10.00 hari itu.
Begitu soal dan lembar jawaban terkumpul, empat guru Bahasa Inggris membuat kunci jawaban dan 16 guru kemudian "ngebut" membetulkan ulang lembar jawaban 284 siswa di ruang UKS dan BK tadi. Sementara itu, siswa meneruskan mata ujian kedua: Kimia (untuk siswa jurusan IPA), Geografi (jurusan IPS), dan Sastra Indonesia (jurusan Bahasa).

Sianturi menuturkan, guru terpaksa membantu karena kasihan siswa tak
mampu mengerjakan ujian Bahasa Inggris. Mereka sudah memprediksi anak didiknya
akan mengalami kesulitan meski sebelum UN, siswa sudah menjalani uji
coba soal ujian dua kali. Hasil uji coba memang mengkhawatirkan. Itulah
mengapa muncul ide untuk membantu siswa. Sayangnya, cara mereka justru mengubur
makna pendidikan itu sendiri.

Para guru sadar, pilihan mereka merupakan tindakan keliru. "Kami sudah
mengajarinya tiga tahun. Kalau mereka gagal UN, kasihan orangtuanya,
kan," katanya. Ia menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Meski enggan bicara, Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis mengakui
kejadian itu. "Kasihan siswa. Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris, kami
lihat pensil anak-anak itu tak bergerak, tanda tak bisa mengerjakan, "
kata Ramlan dengan wajah menunduk. Wajah itu kusut, tetapi hampa.

Ramlan menggerutu pemerintah terlalu memaksakan UN. Baginya, penyamaan
soal UN sangat tidak adil. "Bagi anak Jakarta, soal Bahasa Inggris itu
mungkin mudah. Namun, bagi siswa kami, soal UN sangat sulit. UN ini terlalu
dipaksakan sehingga kami pun terpaksa membantu siswa," ujarnya.

Argumen Ramlan ini mungkin benar menyangkut kesenjangan kualitas
pendidikan antardaerah. Ramlan dan para guru hanya tidak sampai hati saja melihat
siswa mereka gagal. "Karena sebagian besar orangtua mereka itu buruh tani dan
buruh kebun," katanya.

Kini wajahnya tambah keruh. Dua malam terakhir dia kurang istirahat.
Rabu siang lalu dia harus menjalani pemeriksaan polisi bersama 16 guru lain
sampai Kamis dini hari. Kini mereka berstatus tersangka pelanggar Pasal
263 (perihal pemalsuan surat) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 6
tahun penjara. Mereka wajib lapor kepada polisi dua kali seminggu.

Ramlan ingin semua pihak memahami peristiwa di sekolahnya. Namun, ia tak
melanjutkan perkataannya. Dia buru-buru meninggalkan sekolah saat
sejumlah wartawan ingin meminta penjelasan lagi. Ia mengakhiri pembicaraan dan
pulang.
Para guru kemarin duduk-duduk di lorong sekolah. Satu per satu
meninggalkan tempat duduk setelah tahu yang datang adalah wartawan. Di beberapa
ruang, sejumlah siswa berbincang. Sebagian ikut ekstrakurikuler. Saat didekati,
mereka membalikkan badan.

Sejak peristiwa Rabu lalu, tak banyak informasi keluar dari sekolah.
Suasana sekolah itu kini jadi beku karena kekeliruan. Bangku-bangku dan lorong
sekolah terasa senyap. Di salah satu meja guru bertumpuk koran-koran
berisi berita penggerebekan para guru dan kecurangan sekolah itu.

Akan tetapi, praktik kecurangan UN di Sumut tak cuma terjadi di SMAN 2
Lubuk Pakam. Kecurangan juga terjadi di enam daerah lain di 24 SMA sederajat,
yaitu di Medan, Humbang Hasundutan, Pematang Siantar, Simalungun, Toba
Samosir, dan Binjai. Kecurangan di enam daerah itu masih sebatas laporan
Komunitas Air Mata Guru (KAMG), belum termasuk kejadian lain seperti di
SMAN 2 Lubuk Pakam.

Tahun lalu, KAMG melaporkan kecurangan serupa di sejumlah daerah di
Sumut. Praktik kecurangan terbukti direncanakan demi nama baik sekolah dan
daerah.Yang mengherankan, proses hukum bagi para pelaku kecurangan UN ternyata
tak benar-benar ditegakkan. Setahun kemudian kasus serupa terulang.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Deli Serdang Ajun Komisaris Polisi
Ruruh Wicaksono mengatakan, penggerebekan dilakukan berkat informasi
awal datang dari seseorang.

Kedatangan satuan Densus 88 ke sekolah mendapat reaksi keras dari
Wagino, orangtua murid dan kebetulan Ketua Komite Sekolah SMAN 2 Lubuk Pakam.
"Saya menyayangkan polisi. Tindakan mereka berlebihan. Apalagi ada letusan
senjata," ujarnya.

Wagino juga kesal dan kecewa pada sekolah itu. "Namun, itu bukan tanpa
sebab. Semua terjadi karena UN dipaksakan digelar di seluruh Indonesia.
Bagaimana bisa fair, kualitas guru beda, fasilitas sekolah berbeda.
Anak-anak kami harus menghadapi soal yang sama dengan soal siswa di
Jakarta," katanya.

[Andy Riza Hidayat, Kompas]



30 CommentsChronological   Reverse   Threaded
yudimuslim wrote on Apr 29
dilematis memang mbak..
hal ini sellau mengingatkan ku saat aku ujian uan SD sampai Smu..
vi3nzz wrote on Apr 29, edited on Apr 29
Kalau baca/dengar kisah perjuangan guru2 di daerah itu mestinya menyentakkan kesadaran pihak-pihak yang berkepentingan, betapa masalah pendidikan di negeri kita masih terseok-seok.
yudimuslim wrote on Apr 29
iya mbak..aku sangat setuju..
pada dasarnya aku melihat bahwa pemerintah masih terlalu memaksakan diri..
didaerah ku sebenarnya tidk semua SMU itu bisa mengikuti perkembangan dari pemerintah..karena alat ukur pemerintah adalah smu di ibukota..

*siapa yang tega membiarkan anak didiknya gagal mbak?
niwanda wrote on Apr 29
Bingung... Soal cara penggerebekan kurang setuju, soal kesenjangan ikut prihatin, tapi apa iya tindakan para guru itu dapat dibenarkan?
iwananashaya wrote on Apr 29
miris...
agk1 wrote on Apr 29, edited on Apr 29
UN ini celah serius dlm sistem pendidikan kita. Reaksi "kecurangan" para guru menurut saya sama seperti org yg kepepet mencuri krn kefakiran. Mrk tak bs sepenuhnya disalahkan. Yg norak adalah aparat seperti dlm cerita ini, yg menurut sy itu sdh kelewat batas... Ck.. ck.. ck... Densus 88? kenapa gak sekalian rombongan sama Kopassus, Paskhas, Marinir, dll...
buneyasmin wrote on Apr 29
UN memang kejam... Bubarkan saja....
afyahariz wrote on Apr 29
sedih bacanya.... siapa yang "dibenarkan"? siapa yang dipersalahkan"?
vi3nzz wrote on Apr 29
Sekarang mungkin bukan saatnya main tuding, meski kita tahu ujung-ujungnya akan mengarah pada yang punya kuasa. Semua pihak idealnya berbenah.
Adil bukan berarti sama rata, tapi sesuai dengan porsinya. Kalau ga bisa meningkatkan kualitas pendidikan di daerah baik materi ataupun guru, mending dibuat standar tertentu saja untuk UN tingkat daerah.
Atau guru2nya di upgrade terus agar bisa bersaing dalam pengajaran dgn di kota besar.
afyahariz wrote on Apr 29
vi3nzz said
Atau guru2nya di upgrade terus agar bisa bersaing dalam pengajaran dgn di kota besar.
Nah ... masalahnya kadang kesempatan untuk upgrade guru pun, untuk daerah lebih sedikit .... sedih kan?
vi3nzz wrote on Apr 29, edited on Apr 29
Iya mbak sedih..:(

kita demo aja yuuk...;p
afyahariz wrote on Apr 29
vi3nzz said
kita demo aja yuuk...;p
Mauuu....... tapi kapan ketemunya? he... he...
vinna15 wrote on Apr 29
*miris jg :(

mana TKP di SUMUT lagi,...:((
antoben wrote on Apr 29
Saya kerja di pemerintahan (bukan di Depdiknas). Selama pola pikir & pola tindakan para pejabat masih 'yang penting program jalan' tanpa mempertimbangkan segala ekses yg (mgk) terjadi, arah pembangunan bangsa ini (termasuk pembangunan manusia) bisa2 tidak memiliki kemajuan yg berarti. Stagnan atw mundur mungkin. Tapi melejit tinggi..? Hmm..
vi3nzz wrote on Apr 29, edited on Apr 29
vinna15 said
mana TKP di SUMUT lagi,...:((
wah tambah nyesek bacanya ya vin..:(
vinna15 wrote on Apr 29
iyaa kak vien.....:(

huhuhuhu.....:((
vi3nzz wrote on Apr 29, edited on Apr 29
antoben said
Stagnan atw mundur mungkin. Tapi melejit tinggi..? Hmm..
Optimis harus tetep ada bro..
Gpp lambat asal merayap maju. Saya hanya bisa berharap dan berdo'a agar makin banyak orang-orang yang peduli dan bisa berjuang dengan tangan atau lisannya untuk menegakkan keadilan. Dan kau salah satunya, I hope.
indahmasruroh wrote on Apr 29
ikut prihatin..
duh semoga terselesaikan dengan baik kasusnya..
jangan sampai dipnjara ..mbok yg mafia2 korupsi sana yg di tidak lanjuti...
indonesiaku..oh indonesiaku...T_T
okronra wrote on Apr 29
Kalau digerebek pake senjata mah berlebihan banget deh... Kualitas pendidikan dan guru kita memang masih banyak yang kudu diperbaiki. Daripada nyalah2in dan ngarep2in pemerintah bikin kesel sendiri, kita aja yang berbuat sesuatu. Bisa punya anak asuh, bikin kursus gratis etc.. etc...Mulai dari yang ada di sekitar kita. Insya Allah nular dan meluas kok. Pernah ada yang komentar ke saya "Keenakan dong pemerintah kita." Weeh.. mau berbuat baik kok takut orang lain enak he3x.. Pemimpin yang ngga amanah kan ada pengadilannya sendiri kelak. Tul nggak bu Ustadzah Vien?
vi3nzz wrote on Apr 29
Nah tuh baru usul konkrit...;)
Makasih sumbang sarannya mbak Oki, mudah2an betul-betul mewabah gejala kebaikan ini nantinya.
duniaintan wrote on Apr 29
Ya Allah, sekolah kini bukan tempat yang aman u belajar:(
nunkhermawan wrote on Apr 29
harusnya siswa n siswinya giat belajar biar bisa mengerjakan soal2 n gurunya juga harus di upgrade terus ilmunya....
bundaelly wrote on Apr 30
pendidikan di indonesia.. riwayatmu kini...
moumtaza wrote on May 1
Bapak saya guru SD, Kakak saya guru MAN, saya dulu bercita-cita benar jadi guru, meski waktu membawa saya ke tempat yang berbeda. Dan saat berita itu ada, Ibu saya, tidak jadi makan malam, jika peristiwa itu menimpa anak sulungnya. Malam itu juga diteleponnya anaknya itu, ditanyainya dengan gemetar ketakutan,
"seperti itukah engkau, anakku?"
"TIDAK, BUNDA. Aku hanya guru biasa, tapi aku tahu benar arti kejujuran, meski tangisku meledak, ketika ratusan anak didikku, menjerit usai ujian ..."
vi3nzz wrote on May 1, edited on May 1
"TIDAK, BUNDA. Aku hanya guru biasa, tapi aku tahu benar arti kejujuran, meski tangisku meledak, ketika ratusan anak didikku, menjerit usai ujian ..."
Sepotong kalimatnya membuat hati haru.
Pengalaman saya sebagai guru bisa dihitung dgn jari. Meski sebentar, tapi kesannya membekas dalam. Karenanya saya bisa merasakan nurani seorang guru thd tiap prestasi anak didiknya. Layaklah bila mereka digelari "pahlawan tanpa tanda jasa".
afitchan wrote on May 2, edited on May 2
situasi yang sulit dan dilematis..hmm..do something yuuk..!!!..collect english books from here then send it to our country..see :http://bukuuntukanakbangsa.blogspot.com/
Insya Allah kita bisa,,orang Indo di perth kan banyaakk..hehe..provokasi niih..Sok bu Viena maju jadi ketua PPIP..(hihi,,ga manjung..eh nyambung..!!!)
vi3nzz wrote on May 2
situasi yang sulit dan dilematis..hmm..do something yuuk..!!!..collect english books from here then send it to our country..see :http://bukuuntukanakbangsa.blogspot.com/
Insya Allah kita bisa,,orang Indo di perth kan banyaakk..hehe..provokasi niih..Sok bu Viena maju jadi ketua PPIP..(hihi,,ga manjung..eh nyambung..!!!)
Yuuk..! *sambil liat blog dimaksud*
Kegiatan positif untuk mencerdaskan anak bangsa spt itu memang harus disupport terus. Seperti berandabuku milikmu ya say..mudah2an mampu memberi sumbangsih yang berarti dalam proses transfer ilmu untuk sekitarnya.

Weleehh....kenapa ujung2nya ada provokasi gituh ?
dikomporin sapa neehhh....?! *curiga.com*
gphagiant wrote on May 31
cukup tragis
pondokkata wrote on Sep 8
pendidikan di indonesia? dari mulai yg sadar sampai yang paling tinggi? satu jawabnya ASAL : asal jadi, asal lulus, asal murid, asal guru, dan yang terpenting asal ada.

maaf mbak ikut komen, salam kenal
'Andalusia'
vi3nzz wrote on Sep 8, edited on Sep 8
mudah-mudahan diantara yang asal masih ada segelintir yang serius berjuang di dunia pendidikan Indonesia. termasuk kita. I hope so..:)

thanks atas komennya, salam kenal kembali..Andalusia.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.