Suatu hal yang tak pernah kusangka sebelumnya, jika kepindahanku ke negeri Kangguru ini membawa berkah bagi sebagian saudara seiman.
Masih terbayang di benakku dahulu beratnya rasa hati meninggalkan, bukan saja sanak saudara, namun juga aktivitas mengajar Al-Qur’an untuk murid-murid Sekolah Dasar dekat tempatku bermukim. Belum lagi kegiatan mengajar tahsin Qur’an di masjid bagi mahasiswi atau karyawati di akhir pekan. Betapa singkat terasa pertemuanku dengan mereka. Sepertinya baru saja kureguk manis pahit berkecimpung dalam dunia pendidikan dan menikmati jerih payah menanamkan hafalan pada mereka, aku harus meninggalkan semua itu ke negeri orang. Menuju Perth, ibukota bagian barat Australia, dimana suamiku mendapat kontrak kerja disini.
Dua bulan berselang setelah aku menetap di Perth, awalnya beberapa teman dekat bertanya, mungkinkah aku mengajarkan tajwid Qur’an pada mereka setelah tahu latar belakang kegiatanku dulu. Tentu saja dengan senang hati kusanggupi permintaan itu. Bagai kucing diumpani ikan, aku kembali bersemangat menjalani hari-hari di kota sepi ini. Otakku terasa mengembang lagi setelah sekian lama diperas dalam urusan persoalan domestik rumah tangga yang tak akan kunjung habis jika dipikirkan. Gairah untuk menyampaikan satu ayat Allah saja seperti menggebu-gebu, walau grafik imanku lebih sering berada di bawah standart teman-teman yang kunilai sholih. Duh....
Tak dinyana belum lama satu kelompok majlis Qur’an berjalan, semakin besar animo ibu-ibu Indonesia yang ingin bergabung. Mulai dari yang berstatus Permanent Resident sampai Student nampaknya cukup antusias dengan kajian Tahsin Qur’an ini. Ada juga beberapa yang berasal dari Singapura atau Malaysia. Satu kelompok yang maksimal kubatasi hingga sepuluh orang, membludak hingga lebih dari lima belas orang. Maka pembagian pun dilakukan agar proses pembelajaran menjadi efektif. Sebab agak sulit memantau perkembangan tajwid tiap individu jika terlalu banyak murid dalam satu kelas. Sampai akhirnya hari-hariku penuh diisi dengan kelompok Tahsin Qur’an yang berbeda. Dimulai pagi selepas mengantar anak-anak sekolah, sampai jadual menjemput tiba, aku singgah dari pintu ke pintu nyaris setiap hari karena masing-masing ingin rumahnya ketempatan. Kembali kupuaskan rindu pada aktivitas mengajar dan belajar. Belajar untuk mengajar atau mengajar dalam rangka belajar. Terus demikian. Memenuhi dahaga atas ilmu yang memang tidak boleh berhenti untuk digali dan diberi.
Belajar dan mengajar.
Inilah dua kata yang kemudian selalu berputar di otakku sejak aku mendapat ilmu darinya. Ya, sekitar delapan tahun lalu. Setelah aku mengikuti pengkaderan singkat calon pengajar ilmu tahsin Qur’an secara intensif oleh beliau : Ustadz ‘Abdul ‘Aziz Abdur Rau’f Al-Hafizh, Lc, dialah sumber inspirasi gerak langkah dakwahku hingga kini.
Di kalangan penghafal Qur’an, nama beliau memang sudah tidak asing lagi.
Sebagai direktur Lembaga Tahsin Al-Qur’an Al-Hikmah (Mampang-Jakarta) ketika itu, reputasi beliau begitu ternama di kalangan aktivis Islam. Saat mendapat kesempatan emas untuk masuk ke dalam kelompok Qu’ran yang dipandu dengan beliau, aku seakan tak percaya. Aku bertekad untuk tak melewati barang sehari pun absen dari kelasnya, kecuali karena alasan yang sangat urgen. Alhamdulillah kupenuhi janjiku pada akhirnya.
Pertemuanku dengan beliau disebabkan oleh terseleksinya diriku dalam pengkaderan guru tahsin yang dapat siap mengajar pada lembaga tahsin Qur’an yang baru didirikan di kompleks rumahku. Karena sumber daya pengajar sangat minim dan begitu mendesak, kami ikut pengkaderan dengan cara yang dipersingkat. Kurang lebih dua bulan lamanya, empat hari dalam seminggu, aku dan beberapa kawan muslimah digembleng kurang lebih sehari tiga jam. Senin hingga Kamis, Ustadz AA (begitu sebutan kami di belakang beliau) hadir selalu tepat waktu setelah menempuh perjalanan dengan bis dari Jakarta Selatan ke Karawaci-Tangerang.
Aku ingat penampilannya begitu sederhana. Pakaiannya pun sudah kami hafal.
Perawakannya sedang, rambutnya ikal, senyumnya lebih sering dikulum.
Suaranya khas. Serak dan berat. Beliau jarang berbicara keras dan banyak.
Setiap kalimat yang teruntai dari bibirnya niscaya mampu membuat hati seseorang terketuk ingat akan akhirat. Membuat diri terpekur akan kesibukan yang menipu hingga terabaikan interaksi dengan Al-Qur’an. Melecut semangat kami dalam memperbaiki bacaan Qur’an, memompa gairah untuk menghafal, menumbuhkan optimisme yang tinggi pada janji Allah bagi mereka yang selalu disibukkan dengan kalam-Nya dan menggerakkan harapan kami untuk bisa mengajar sedikit namun pasti. Beliau menanamkan kesabaran pada jiwa kami agar bermujahadah dalam keta’atan berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dari segi membaca, memahami, terlebih menghafal. Motivasi yang beliau sampaikan bukan sekedar keluar dari lisan, namun dicontohkan secara nyata lewat pikiran dan tingkah laku.
Masih lekat segala hal yang beliau ucap, baik teguran, nasihat maupun sindiran. Masih menempel dengan baik setiap gerik mata, bahasa tubuh atau isyarat tangan. Masih kukenang semuanya sampai sering kuceritakan kembali pada murid-muridku dengan ungkapan penuh kekaguman. Mereka memang tidak mengenal beliau. Tapi dengan bangga kusampaikan seluruh wejangan dan ilmu yang pernah beliau ajarkan padaku. Kadang penuh haru dan terbata kuulang lagi nasihat beliau yang seringkali menyentil qolbu.
Secara antusias aku ceritakan pula bagaimana cara beliau menegur bacaanku yang keliru ketika talaqqi (membaca Qur’an di hadapan guru), dengan hanya mengetuk spidol ke meja tanpa Qur’an di hadapannya. Atau sikap beliau ketika mengajar makhorijul huruf dengan bentuk bibir yang tepat, gaya beliau saat mendengarkan setoran hafalan kami juga tiap nasihat beliau tak luput kukutip agar dengan rinci bisa kusampaikan pada murid-muridku kini. Bahkan saking rindunya akan nasihat beliau, aku buru koleksi ceramah singkatnya di Masjid Habiburrahman, Bandung melalui bantuan seorang sahabat yang kutahu ia aktif mengikuti kajian Qur’an bersama Ustadz AA, sehingga ia sudi mengirimkannya padaku via email.
(Beberapa diantaranya bisa kalian dengarkan di sini, wahai sobats...)
Buku Pedoman Dauroh Qur’an (PDQ) yang beliau tulis pun akhirnya menjadi buku yang paling laris dicari oleh teman-temanku di sini. Duakali aku kembali dari tanah air, selalu disertai duapuluh buku yang langsung ludes begitu digelar. Sedemikian intensnya aku menampilkan Ustadz AA dalam bayangan mereka, sampai banyak yang penasaran seperti apa sosok yang menjadi inspirasiku itu. Kendati akhirnya terbayar dengan bantuan VCD Tahsin yang kubawa tahun lalu, namun saat melihat mereka terdiam menyaksikan Ust. AA di layar kaca, hatiku berucap...andai mereka bisa sehari saja duduk bersama beliau pasti akan lebih terasa bekasnya.

Aku memang masih jauh dari sempurna dalam mengajarkan KitabuLlah .
Belum tuntas pula kupraktekkan seluruh nasihat Ustadz AA dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hafalan Qur’anku pun lebih sering macet dibanding melaju mulus. Mengulang-ulang hafalan bahkan kerap terlupakan dari jadual ibadah harian.
Hanya bermodal pada dua kata tadi yang terus berdengung melambungkan harapku. Dua kata yang bersumber dari hadits Rasul saw, yang begitu masyhur, tentang keutamaan interaksi dengan Al-qur’an, ”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an”. Kutipan hadits yang tak pernah bosan diulang-ulang oleh Ustadz AA setiap membuka atau menutup majelis di hadapan kami. Bagai mengukir diatas batu, dua kata itu kini terpatri di relungku. Jelas kulihat dan terasa bila kuraba.
Belajar dan mengajar Al-Qur’an telah menjadi ’dopping’ bagi energiku sehari-hari, mudah-mudahan sampai maut menjemput. Dua amalan yang menjadi sumber harapanku (dengan sangat) agar bisa menutupi lubang dosa-dosaku yang lalu dan akan datang. Dan yang terpenting, inilah cara yang paling tepat untuk membalas segala kebaikan Ustadz AA atas sedikit ilmu yang pernah beliau turunkan padaku. Meski kutahu pastilah sudah berlimpah pahala yang mengalir padanya karena ilmu yang terus menerus terpakai dari banyak pribadi yang menjadi murid beliau. Jua karena kuyakin akan sabda Rasul saw, tentang pahala ilmu yang ditularkan itu tak kan terputus bagi pemberinya meski jasad berpisah dari ruh. Maka tetap kuniatkan dan kupinta pada Allah swt, bahwa bila ada pahala yang kudapat dari usahaku berinteraksi dengan Al-Qur’an semoga selalu diteruskan ke rekening amal sholih beliau. Sebagai ungkapan rasa terimakasihku yang tak ternilai padanya. Atas benih inspirasi yang menumbuhkan (lagi) satu pohon di taman Qur’ani berakar ilmu, berbatang amal, berdaun sabar dan berbuah pahala.
JazakaLlah bil Jannah yaa Ustadz Kariim....
"
Allahumma irhamnaa bil Qur'aan....."***********************
P.S :
Terimakasih buat
Mbak Wanda yang penuh semangat dan cinta mengadakan sayembara menulis dengan tema :
"DIA INSPIRASIKU". Sungguh membangkitkan motivasi dalam menuang rasa syukur ke bentuk tulisan. Semoga membuat banyak MPers tergugah untuk saling menularkan inspirasi demi kebaikan diri dan orang lain. Ayooo...yg mo ikutan nulis, buruan diklik link-nya mbak Wanda ituuh.