ilalang's posts with tag: 'ibrah
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Nafas Olimpiade baru saja usai. Gegap gempita pesta penutupannya tak kalah meriah dengan ketika pembukaan. Spektakuler, mewah, menakjubkan, megah, fantastis, dan berbagai macam kata heboh lainnya mewakili ekspresi tiap mata yang mengikuti pagelaran besar olahraga sedunia itu. Tiap kontingen atlet berbagai negara kembali pulang ke negeri asal dengan rasa hati membuncah. Barusan di TV lokal, kulihat para pahlawan olahraga tanah aborigin ini disambut PM Kevin Rudd dengan sukacita di Sydney. Wajah mereka nampak begitu sumringah antara menahan haru dan bangga di depan sorotan belasan kamera. Banyak bintang baru bermunculan di Olimpiade kemarin. Prestasi mereka merebut perhatian khalayak seluruh dunia dan mengundang decak kekaguman mulai dari tokoh penting negara bahkan hingga orang-orang awam yang hanya sesekali menengok berita olahraga, seperti diriku. Bagaimana tidak, biar cuma melihat beberapa cabang olahraga yang kunilai cukup seru, dengan melihat stamina para atlet itu nyatanya bisa membuatku merenungkan beberapa hal sambil melamunkan yang tidak-tidak. Mau ikutan ga ? *angkat-angkat alis, senyum penuh rahasia*Salah satu cabang yang membuatku bersemangat nonton adalah atletik, khususnya lari. Menyusul renang di urutan kedua. Mungkin karena kompetisi pada keduanya lebih terlihat, hingga terkadang bikin para pemirsa sok tau ikutan mengerahkan tenaga bantuan dari jauh atau sekedar bersorak sorai memberi support layaknya sodara deket atau tetangga atau sahabat sekampus atau temen sekost atooo.....cuma tahu lewat tipi *lah emang bener*. Maka ada benarnya juga jika dibilang bahwa Pesta Olahraga Sedunia alias Olimpiade adalah salah satu cara untuk menyatukan penduduk sedunia.Terbukti saat lihat lomba marathon untuk wanita, rasanya kok terbawa lelah melihat nafas yang terengah dan tersengal demi menyelesaikan lintasan sejauh 42 km itu. Sambil ikut deg-degan dan cemas kuperhatikan wanita yang memimpin di urutan pertama itu, bukan tergolong muda. Usia 38 tahun, Constantina Tomescu namanya, asal Rumania. Tubuhnya tegap, perutnya kencang dan rata (nah inilah lamunan yang tidak-tidak ityuu..;p), kaki panjangnya mengayun lebar dan mantap. Ia meninggalkan jauh sekelompok pesaingnya di belakang. Melesat seorang diri dengan kecepatan yang stabil. Wuiii....Memiliki stamina yang begitu terjaga, teratur mengatur nafas hingga kuat berlari puluhan kilometer tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Kupikir latihan fisik yang rutin, pasti sudah jadi makanan sehari-hari para atlet itu. Disiplin dan tekun juga salah satu kunci keberhasilan mereka meraih prestasi. Ditambah dengan asupan gizi yang selalu diatur, mereka begitu taat mengikuti instruksi pelatih dan manager agar mencapai kemenangan pada setiap event olahraga. Di negara-negara maju yang telah menjadikan olahraga sebagai ajang prestasi, bahkan telah membibit calon-calon atlet sedari kecil. Pembinaan terhadap mereka begitu intensif dan fokus, sampai mata pelajaran lain di sekolah yang tidak berkaitan dengan jasmani kadang diabaikan. Dan memang hasilnya nyata, banyak dari mereka sukses di arena olahraga. Bukan cuma kepuasan pribadi karena berhasil mengukir nama harum diri dan bangsa jika menjadi pemenang, namun juga kepuasan akan bergelimangnya materi. Dalam-dalam aku merenungi fenomena tersebut.Malu hati melihat kegigihan dan kesungguhan olahragawan/wati itu. Untuk mengejar prestasi dunia saja mereka begitu disiplin terhadap diri. Menahan nafsu dari makanan enak dan banyak, jadual tidur berkurang, tiap harinya hanya diisi dengan latihan dan latihan. Padahal semua itu hanya untuk mencapai sebuah prestasi di dunia. Prestasi yang jangka waktunya terbatas dan sementara. Prestasi yang iming-iming balasannya akan musnah, tak abadi. Sedang sebagai muslim yang tahu betul (yakin malah) akan prestasi hakiki di akhirat, seringkali keengganan untuk berlatih mengendalikan nafsu menempel begitu lekat. Jiwa pun dilanda lalai menepati waktu-waktu munajat dengan Pemberi Award yang sesungguhnya. Belum lagi pelanggaran terhadap syari'at-Nya sebagai pokok peraturan berkompetisi di dunia. *Bersyukur ga kena diskualifikasi sebagai hamba*. Ah, begitu Maha Pengasihnya Allah kita....Hidup sejatinya memang sebuah penantian. Dalam proses menunggu mati itulah kita seharusnya bisa berlatih keras untuk senantiasa tekun dalam ibadah. Ibadah yang berarti mengabdi pada-Nya dalam tiap helaan nafas dan aktivitias rutin kita. Sebisa mungkin pula kita coba berlatih merayu jiwa agar terus bersungguh-sungguh dalam ta'at pada-Nya. Lebih jauh lagi, bila ingin mengukir sebuah prestasi indah di akhirat yang balasannya tak ternilai oleh harta dunia plus berlaku sepanjang zaman, maka upaya menegakkan syari'at Allah di diri menjadi satu bentuk kedisiplinan tingkat tinggi. Melebihi tekad para atlet merebut medali emas di Olimpiade. InsyaAllah, Ramadhan inilah ajang yang tepat bagi kita untuk melatih kendali nafsu.
Jangan mau kalah !************ [ yang lagi kepayahan merayu jiwa jelang Ramadhan...:( ]
Undangan yang disampaikan via email itu berbunyi begini : Salams everyone, Just letting you know that there is a Ladies only entertainment night coming up. It is being organised by the Muslim Charity Community of WA. The details are as follows: Where: Riverton leisureplex (Cnr high and Riley rds, Riverton) When: Saturday 12th July from 7pm Tickets are $25 and can be bought from Sr Najwa Chakelli, whose number is 9493 4497 or 0402 204 497 Light refreshments will be served. Please feel free to forward this on to your friends who might be interested.
~Nora
*********
Berbekal rasa penasaran akan isi acara tersebut, aku berencana datang kemudian bersama seorang teman. Dari informasi yang kuperoleh sebelumnya, beberapa temanku bilang bahwa dalam acara khusus wanita itu, kita bisa berpakaian pesta yang heboh dan menanggalkan hijab. Biasanya para wanita asal Arab bahkan akan tampak gemerlap dengan perhiasan mereka. Dalam hati aku tersenyum kecut, boro-boro pakai perhiasan yang heboh, lepas jilbab diantara wanita saja aku masih sungkan. Bukan apa-apa, khawatir menimbulkan kehebohan massa akan keaslian diri yang mempesona keancurannya. *qeqeqeq, mending ngaku daripada dituduh*.... (wahai sobats, ga sepakat itu dianjurkan lho dalam hal ini..;p) Jam tujuh lebih sedkit, ba'da Isya, aku dan Hepi berangkat menuju lokasi. Pakaian kami kurasa cukup rapi dan sopan, layaknya ingin hadir di pesta perkawinan lah. Riasan wajah pun aku kenakan sedikit (padahal yang komplit juga ga pernah tau), karena yakin tak akan ada kaum adam disana. Berhubung tiket belum ada di tangan, maka kami datang agak awal, untuk memastikan bahwa tiket box masih tersedia di tempat. Aha, harum wewangian mulai terendus semilir begitu kami sampai tujuan. Kulihat hampir separuh ruangan diisi dengan meja-meja bundar dikelililingi beberapa kursi. Di hadapan kumpulan meja itu ada sebuah panggung kecil yang diapit oleh seperangkat sound system di sebelah kirinya. Di belakang ruangan tampak sebuah meja panjang sebagai tempat digelarnya penganan untujk sajian makan malam. Kami memilih meja yang agak jauh dari panggung namun dekat dengan meja makanan. Hehe..tahu maksudnya kaann..? *angkat alis, kedip-kedip, senyum ngiler*.
Sambil ngobrol kami memperhatikan para tamu yang mulai berdatangan. Kuperhatikan kebanyakan mereka dari Malaysia atau Singapore. Mungkin karena panitia penyelenggaranya juga kelihatan banyak berwajah melayu dengan celetukan bahasanya yang familiar di telinga kami, pikirku dalam hati. Benar apa yang dikatakan temanku, beberapa tamu yang awalnya datang berhijab, tiba-tiba berubah setelah keluar dari toilet. Bahkan banyak juga yang secara demonstratif melepas jilbab dan abayanya begitu selesai isi buku tamu. Hwaaa.....kami cuma melongo dan saling pandang demi melihat baju yang mereka kenakan. Perlahan suasana di ruangan itu mulai dikerubuti oleh celotehan wanita-wanita cantik berbusana semi ketat. Totally dressed up out of hijab ! Wajah-wajah wanita arabian yang berseliweran membuat kami tak berkedip. Molek dan berani. Fiuuh...Bagaimana jika lelaki yang menatapnya ?
Akhirnya acara dimulai dengan makan malam terlebih dulu. Yak, akhirnya setelah penantian yang kurasa begitu lama, lirikan mataku ke meja panjang penuh makanan itu pun terhenti. Menyusul gerakan tergopoh untuk tiba di deret antrian sesegera mungkin. Benar-benar pemilihan meja yang tepat, karena kami langsung mendapat urutan awal untuk ambil jatah ransum. Thanx to Hepi ! aheuheuheu.... *duww, ini laper ato napsu sih ?*
Sambil menyantap hidangan, kami mendengar MC menyebutkan jadwal acara sampai tengah malam nanti. Diiringi musik melayu yang mulai berdentam, kami terperangah mendengar rangkaian acara yang akan digelar. Sesuai judulnya yaitu "entertainment night", ternyata hiburan yang dimaksud masih tak jauh beda dengan hiburan dunia ala non muslim. Pengunjung dipersilakan untuk turun melantai bergoyang sepuas hati dengan berbagai jenis lagu nantinya. Ada hip hop, disco, slow pop, jazzy, melayu sampai dangdut sodara-sodara ! ck..ck..ck... Aku tertegun. Irama poco-poco yang amat kukenal dulu, sewaktu ikut rutin senam di Indo, menjadi pembuka acara goyang bersama itu. Beberapa wanita mulai turun ke lantai depan. Mempraktekkan gerakan dasarnya ramai-ramai seirama hentakan lagu. Yak ampyuun, jauh-jauh kemari cuma denger poco-poco ?
Hatiku meringis. Miris sekaligus terpana dengan fenomena tersebut. Rasanya gatal pingin gabung dengan mereka, hehe...*engga ding*, gatal pingin segera pulang ke rumah maksute. Padahal kalau mau, gerakan kombinasi pun akan aku ajarkan tuh. wakakakak....*ketauan masih gatal* Aku lirik Hepi, temanku. Tampak wajahnya pun jengah, menandakan ia setuju denganku.
Bergegas kami menghabiskan isi piring di hadapan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika kami pergi. Belum cukup malam untuk sebuah acara hiburan memang. Bisa dipastikan kami-lah tamu yang pertama pulang, tepat setelah makan. Biarlah, daripada telinga dan mata kami dibuai oleh pemandangan yang membuat hati bergumam tak tentu, lebih baik memang kembali ke hangatnya selimut di rumah.
Diluar, ternyata semakin malam hawa dingin makin dahsyat menggigit. Dalam sunyi dan lengangnya jalanan, kami hanya mendesah pelan. Menyayangkan bahwa hiburan yang didapat ternyata belum mampu menghilangkan penat akibat rutinitas aktivitas rumah tanggaku atau perkuliahan Hepi. Hanya hingar bingar musik dan pelampiasan hasrat gerak tubuh yang mungkin bisa tak terkendali. Andai malam hiburan itu diisi dengan ekspresi seni yang lebih berkualitas, seperti, pembacaan puisi, teater, atau demo solo alat musik mungkin lebih berarti. Apalagi ada charity untuk sesama muslim dibalik acara ini.
Ya, andai saja demikian, aku akan lebih bersimpati untuk ikut lagi acara serupa. Supaya donasi yang tersalurkan itu lebih berkah, dan setiap amal kebaikan itu terjaga dari hal-hal yang syubhat.
Duhai, malam mingguku penuh hikmah kiranya...:)
Link: http://bundaathira.multiply.com/journal/item/142Sebuah puisi yang indah dari seorang ibu. Bukan, bukan hanya karena yang menulis salah satu sahabat baik saya hingga saya mencantumkannya disini. Tapi karena ungkapannya mampu menggetarkan naluri ibu. Menguatkan sisi-sisi lemah dari tanggung jawab kami yang tak mudah. Menanamkan asa pada saat kami hampir terpuruk mengemban amanah ini. Membisikkan semangat untuk tetap tegar sebagai pendidik pertama bagi generasi baru.
Terimakasih Bundaathira atas tadzkirahnya. Uhibbuki fillah, Semoga makin dicinta oleh keluarga...
Hari ini aku tersandung. Dengan cara sedikit berakrobatik : terseret beberapa detik sebelum akhirnya terdampar sukses berikut si hape. Sakit nian, amboii. Meringis malu plus sakit campur jadi satu. Sepertinya terkelupasnya kulit di lututku merongrong minta perhatian. Tapi tak mungkin kutengok di depan umum begitu. Ouch, rupanya rok kesayangan pun tercabik, Alhamdulillah tak sampai bolong.
Peristiwa sederhana yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun sebagai orang yang mengaku beriman mustinya bisa mengambil hikmah di balik itu. Berikutnya pikiran pun menjelajah. Mungkinkah ini teguran-Nya ? Atas keberpalingan dan lalai-ku akhir-akhir ini. Ada yang mengusik konsentrasiku kini. Sang waktu kerap terabaikan sia-sia karena ulahku, mungkin.
Kutengok lagi luka itu. Darahnya menggenang di tepi. Aku tak merasa sakitnya sekarang. Malu. Diberi sakit sedikit sudah mengeluh. Malu...atas kelalaianku. Malu pada maksiat yang melekat di hati.
Ya Allah jadikan ini sebagai penebus dosa-dosa kecilku...
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah dibisikkan oleh hatinya, Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya." [ Qs. Qof : 16 ]
|  | "Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya." (Qs.Al-mu'minuun:1-2)
"Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kamu beruntung." (Qs. Al-Hajj : 77)
"Wahai orang-orang beriman ! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah: 153)
"Yang pertama-tama diperhitungkan terhadap seorang hamba di hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang sholatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya buruk, maka ia kecewa dan merugi." (HR. An-nasa'i, At-turmudzi)
"Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya bila sujud sekali saja Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu." (HR.Muslim)
"Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia kafir terang-terangan." (HR. Ahmad)
Bagaimana dengan kualitas sholat kita ? |
"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri .Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur RumahSakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo. Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu. Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita... Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ... Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini. Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidupdalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan! Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli. Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq. Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. "Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah. Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya. Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas.
Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya! Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira. Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur ! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan. Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang keberapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri." Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi. Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya. Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah." Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun. Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound,tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!! Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. "Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" "Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagailulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound. Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT. Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan. Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih. Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan. Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka. Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha." Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu. Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT. Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba Bukan karna ketiadaan kata-kata Tapi karena kupu-kupu kelelahan Akan tidur di atas bibir kita Besok, oh cintaku... besok Kita akan bangun pagi sekali Dengan para pelaut dan perahu layar mereka Dan akan terbang bersama angin Seperti burung-burung
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama! "Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak: "Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita." Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepadasaya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya. Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. "Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat. Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: "Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan." Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas. Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan. Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.
Sebelum berangkat berangkat ngajar, kebetulan browsing sejenak ke you tube untuk cari tilawah Qur'an tentang kematian. Rencananya sekalian cari bahan referensi untuk kelas tahsin ibu-ibu Jum'at yang kebetulan pas masuk ke pembahasan surat An-Naba yang banyak bercerita seputar peristiwa kiamat. So, bolehlah ditambah nanti dengan dzikrulmaut sedikit. Apalagi minggu lalu juga sempet ikutan Daurah Janaiz (pelatihan mengurus mayit).
Bukan tak sengaja jika kemudian perhatianku tersita pada short movie tentang Sakaratul Maut. Walaupun kata-nya dalam bahasa arab, tapi banyak menyitir ayat-ayat Qur'an. Membuat merinding sekaligus air mata berlinang....inget2 betapa banyak dosa dan hal sia-sia yang dilakukan. :(
Oia, sedikit tips : Supaya lebih merasuk dan meresapi coba sambil buka Terjemahan Qur'an surat : Al-Qiyamah, An-Naba, Al-Haqqoh, Al-Wa'qiah. Mudah2an bisa recharge ur imaan. Import.flv (67.3 MB)
Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasinya. Ia pun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. "Aku takut pada neraka," katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dalam dirinya sendiri, isteri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras itu membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam waktu 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa’ Rasyidin. Maka ia pun digelari Khalifah Rasyidin Kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah isterinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai, menyayangi dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi isterinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang, justru sang isterilah yang membawanya sebagai hadiah. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya. Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai. Cinta dan cita bertemu atau bertarung, disini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru.
Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini," kata Umar. Cinta yang terbelah dan tersublimasi di antara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati disini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, "Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!"
| |