Isy Kariman Aw Mut Syahidan

ilalang's posts with tag: bilik hati

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryTitip Rindu Pada AwanAug 13, '08 5:06 AM
for everyone



tengadahku pada iringan kapas putih
di langit biru pagi
untuk sekejap membuai jiwa
atas ulah resah yang mengusik
berisik mencubiti pembuluh nadi

tersenyumku pada bongkahan kapuk
berselimut cakrawala
untuk sekedar melepas angan
atas pahit manis memori
yang mengikat sukma
diam-diam di hati

tercekatku pada kumpulan kabut
yang membumbung
di kejauhan angkasa
untuk sebentar melamun
atas ketidakberdayaan diri
hadapi riuh getir
dalam dada

termenungku pada gumpalan awan
yang mampir di atas jendela
untuk sejenak bertanya
mungkinkah dapat kutitip pesan
atas rindu yang kadang menyesakkan
pada orang-orang terkasih
di negeri kepulauan
.........


6107, 13/08/08, 8 am ]


*mampirkah kiranya awan itu disana....?*




so far away - Carole King

Blog Entry[Dia Inspirasiku] Belajar dan Mengajar Al-Qur'anAug 7, '08 10:04 PM
for everyone

Suatu hal yang tak pernah kusangka sebelumnya, jika kepindahanku ke negeri Kangguru ini membawa berkah  bagi sebagian saudara seiman.
Masih terbayang di benakku dahulu beratnya rasa hati meninggalkan, bukan saja sanak saudara, namun juga aktivitas mengajar Al-Qur’an untuk murid-murid Sekolah Dasar dekat tempatku bermukim. Belum lagi kegiatan mengajar tahsin Qur’an di masjid bagi mahasiswi atau karyawati di akhir pekan. Betapa singkat terasa pertemuanku dengan mereka. Sepertinya baru saja kureguk manis pahit berkecimpung dalam dunia pendidikan dan menikmati jerih payah menanamkan hafalan pada mereka, aku harus meninggalkan semua itu ke negeri orang.
Menuju Perth, ibukota bagian barat Australia, dimana suamiku mendapat kontrak kerja disini. 

Dua bulan berselang setelah aku menetap di Perth, awalnya beberapa teman dekat bertanya, mungkinkah aku mengajarkan tajwid Qur’an pada mereka setelah tahu latar belakang kegiatanku dulu. Tentu saja dengan senang hati kusanggupi permintaan itu. Bagai kucing diumpani ikan, aku kembali bersemangat menjalani hari-hari di kota sepi ini. Otakku terasa mengembang lagi setelah sekian lama diperas dalam urusan persoalan domestik rumah tangga yang tak akan kunjung habis jika dipikirkan. Gairah untuk menyampaikan satu ayat Allah saja seperti menggebu-gebu, walau grafik imanku lebih sering berada di bawah standart teman-teman yang kunilai sholih. Duh....

Tak dinyana belum lama satu kelompok majlis Qur’an berjalan, semakin besar animo ibu-ibu Indonesia yang ingin bergabung. Mulai dari yang berstatus Permanent Resident sampai Student nampaknya cukup antusias dengan kajian Tahsin Qur’an ini. Ada juga beberapa yang berasal dari Singapura atau Malaysia. Satu kelompok yang maksimal kubatasi hingga sepuluh orang, membludak hingga lebih dari lima belas orang. Maka pembagian pun dilakukan agar proses pembelajaran menjadi efektif. Sebab agak sulit memantau perkembangan tajwid tiap individu jika terlalu banyak murid dalam satu kelas. Sampai akhirnya hari-hariku penuh diisi dengan kelompok Tahsin Qur’an yang berbeda. Dimulai pagi selepas mengantar anak-anak sekolah, sampai jadual menjemput tiba, aku singgah dari pintu ke pintu nyaris setiap hari karena masing-masing ingin rumahnya ketempatan. Kembali kupuaskan rindu pada aktivitas mengajar dan belajar. Belajar untuk mengajar atau mengajar dalam rangka belajar. Terus demikian. Memenuhi dahaga atas ilmu yang memang tidak boleh berhenti untuk digali dan diberi.

Belajar dan mengajar.
Inilah dua kata yang kemudian selalu berputar di otakku sejak aku me
ndapat ilmu darinya. Ya, sekitar delapan tahun lalu. Setelah aku mengikuti pengkaderan singkat calon pengajar ilmu tahsin Qur’an secara intensif oleh beliau : Ustadz ‘Abdul ‘Aziz Abdur Rau’f Al-Hafizh, Lc, dialah sumber inspirasi gerak langkah dakwahku hingga kini.
Di kalangan penghafal Qur’an, nama beliau memang sudah tidak asing lagi.
Sebagai direktur Lembaga Tahsin Al-Qur’an Al-Hikmah (Mampang-Jakarta) ketika itu, reputasi beliau begitu ternama di kalangan aktivis Islam. Saat mendapat kesempatan emas untuk masuk ke dalam kelompok Qu’ran yang dipandu dengan beliau, aku seakan tak percaya. Aku bertekad untuk tak melewati barang sehari pun absen dari kelasnya, kecuali karena alasan yang sangat urgen. Alhamdulillah kupenuhi janjiku pada akhirnya. 

Pertemuanku dengan beliau disebabkan oleh terseleksinya diriku dalam pengkaderan guru tahsin yang dapat siap mengajar pada lembaga tahsin Qur’an yang baru didirikan di kompleks rumahku. Karena sumber daya pengajar sangat minim dan begitu mendesak, kami ikut pengkaderan dengan cara yang dipersingkat. Kurang lebih dua bulan lamanya, empat hari dalam seminggu, aku dan beberapa kawan muslimah digembleng kurang lebih sehari tiga jam. Senin hingga Kamis, Ustadz AA (begitu sebutan kami di belakang beliau) hadir selalu tepat waktu setelah menempuh perjalanan dengan bis dari Jakarta Selatan ke Karawaci-Tangerang.

Aku ingat penampilannya begitu sederhana. Pakaiannya pun sudah kami hafal.
Perawakannya sedang, rambutnya ikal, senyumnya lebih sering dikulum.
Suaranya khas. Serak dan berat. Beliau jarang berbicara keras dan banyak.
Setiap kalimat yang teruntai dari bibirnya niscaya mampu membuat hati seseorang terketuk ingat akan akhirat. Membuat diri terpekur akan kesibukan yang menipu hingga terabaikan interaksi dengan Al-Qur’an. Melecut semangat kami dalam memperbaiki bacaan Qur’an, memompa gairah untuk menghafal, menumbuhkan optimisme yang tinggi pada janji Allah bagi mereka yang selalu disibukkan dengan kalam-Nya dan menggerakkan harapan kami untuk bisa mengajar sedikit namun pasti. Beliau menanamkan kesabaran pada jiwa kami agar bermujahadah dalam keta’atan berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dari segi membaca, memahami, terlebih menghafal. Motivasi yang beliau sampaikan bukan sekedar keluar dari lisan, namun dicontohkan secara nyata lewat pikiran dan tingkah laku.

Masih lekat segala hal yang beliau ucap, baik teguran, nasihat maupun sindiran. Masih menempel dengan baik setiap gerik mata, bahasa tubuh atau isyarat tangan. Masih kukenang semuanya sampai sering kuceritakan kembali pada murid-muridku dengan ungkapan penuh kekaguman. Mereka memang tidak mengenal beliau. Tapi dengan bangga kusampaikan seluruh wejangan dan ilmu yang pernah beliau ajarkan padaku. Kadang penuh haru dan terbata kuulang lagi nasihat beliau yang seringkali menyentil qolbu. 
Secara antusias aku ceritakan pula  bagaimana cara beliau menegur bacaanku yang keliru ketika talaqqi (membaca Qur’an di hadapan guru), dengan hanya mengetuk spidol ke meja tanpa Qur’an di hadapannya. Atau sikap beliau ketika mengajar makhorijul huruf dengan bentuk bibir yang tepat, gaya beliau saat mendengarkan setoran hafalan kami juga tiap nasihat beliau tak luput kukutip agar dengan rinci bisa kusampaikan pada murid-muridku kini.  Bahkan saking rindunya akan nasihat beliau, aku buru koleksi ceramah singkatnya di Masjid Habiburrahman, Bandung melalui bantuan seorang sahabat yang kutahu ia aktif mengikuti kajian Qur’an bersama Ustadz AA, sehingga ia sudi mengirimkannya padaku via email.  

(Beberapa diantaranya bisa kalian dengarkan di sini, wahai sobats...)

Buku Pedoman Dauroh Qur’an (PDQ) yang beliau tulis pun akhirnya menjadi buku yang paling laris dicari oleh teman-temanku di sini. Duakali aku kembali dari tanah air, selalu disertai duapuluh buku yang langsung ludes begitu digelar. Sedemikian intensnya aku menampilkan Ustadz AA dalam bayangan mereka, sampai banyak yang penasaran seperti apa sosok yang menjadi inspirasiku itu. Kendati akhirnya terbayar dengan bantuan VCD Tahsin yang kubawa tahun lalu, namun saat melihat mereka terdiam menyaksikan Ust. AA di layar kaca, hatiku berucap...andai mereka bisa sehari saja duduk bersama beliau pasti akan lebih terasa bekasnya.


Aku memang masih jauh dari sempurna dalam mengajarkan KitabuLlah .
Belum tuntas pula kupraktekkan seluruh nasihat Ustadz AA dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hafalan Qur’anku pun lebih sering macet dibanding melaju mulus. Mengulang-ulang hafalan bahkan kerap terlupakan dari jadual ibadah harian.
Hanya bermodal pada dua kata tadi yang terus berdengung melambungkan harapku. Dua kata yang bersumber dari hadits Rasul saw, yang begitu masyhur, tentang keutamaan interaksi dengan Al-qur’an, ”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an”. Kutipan hadits yang  tak pernah bosan diulang-ulang oleh Ustadz AA setiap membuka atau menutup majelis di hadapan kami. Bagai mengukir diatas batu, dua kata itu kini terpatri di relungku. Jelas kulihat dan terasa bila kuraba. 

Belajar dan mengajar Al-Qur’an telah menjadi ’dopping’ bagi energiku sehari-hari, mudah-mudahan sampai maut menjemput. Dua amalan yang menjadi sumber harapanku (dengan sangat) agar bisa menutupi lubang dosa-dosaku yang lalu dan akan datang. Dan yang terpenting, inilah cara yang paling tepat untuk membalas segala kebaikan Ustadz AA atas sedikit ilmu yang pernah beliau turunkan padaku. Meski kutahu pastilah sudah berlimpah pahala yang mengalir padanya karena ilmu yang terus menerus terpakai dari banyak pribadi yang menjadi murid beliau. Jua karena kuyakin akan sabda Rasul saw, tentang pahala ilmu yang ditularkan itu tak kan terputus bagi pemberinya meski jasad berpisah dari ruh. Maka tetap kuniatkan  dan kupinta pada Allah swt, bahwa bila ada pahala yang kudapat dari usahaku berinteraksi dengan Al-Qur’an semoga selalu diteruskan ke rekening amal sholih beliau. Sebagai ungkapan rasa terimakasihku yang tak ternilai padanya. Atas benih inspirasi yang menumbuhkan (lagi) satu pohon di taman Qur’ani berakar ilmu, berbatang amal, berdaun sabar dan berbuah pahala.

JazakaLlah bil Jannah yaa Ustadz Kariim....

"Allahumma irhamnaa bil Qur'aan....."


***********************
P.S : 
Terimakasih buat Mbak Wanda yang penuh semangat dan cinta mengadakan sayembara menulis dengan tema : "DIA INSPIRASIKU". Sungguh membangkitkan motivasi dalam menuang rasa syukur ke bentuk tulisan. Semoga membuat banyak MPers tergugah untuk saling menularkan inspirasi demi kebaikan diri dan orang lain. Ayooo...yg mo ikutan nulis, buruan diklik link-nya mbak Wanda ituuh.



Blog EntrySurat KejutanJul 22, '08 5:38 AM
for everyone

Pagi-pagi di akhir pekan, saat selesai membereskan sisa sarapan, suamiku setengah berseru di muka pintu berkata, "Ummi, dapet surat nih dari Tangerang !"
Alisku bertaut dan membatin, "Dari siapakah gerangan ?"
"Mengapa tak habis-habis penggemarku berkirim surat dari pelosok negeri...?"
*nyengir sok manis*
(eeits, tenang dong pren jangan nimpuk gitu, namanya juga usaha..;p)

Dengan hati membuncah, kulirik nama pengirimnya : PUPUT !..oh hatiku melonjak riang.
Hmm, cukup tebal isinya. Bergegas aku sobek ujung amplopnya : sreseet, srek, sreet, ting. *ini nyobek kertas ato makan rujak sih... (loh?)*
Dan, ternyata ada dua lembar kertas didalamnya. Satu lembar foto ukuran 5 R dan satunya lagi sebuah surat cinta. Kutatap wajah muridku yang kian beranjak remaja di foto itu. Gaya Puput ketika berdeklamasi tampak selalu elegan dan penuh percaya diri di mataku. Wajah imutnya perlahan mulai menunjukkan kematangan bocah menuju gadis.
Si cantik ini makin cerdas saja rupanya, bisik hatiku tersenyum.

Mataku kemudian beralih pada sepucuk kertas surat putih yang masih di tangan.
Kubuka dengan degup jantung tertahan. Tulisan tangannya begitu teratur dan rapi.
Kuperhatikan setiap pemilihan katanya baik-baik.
Energi rindu terasa mengaliri syarafku setiap dia tulis kata : "bu Vienna".
Begini tulisnya....


Kpd. Bu Vienna                                                                  Tangerang, 6-Juli-2008
di tempat

Ass.Wr.Wb.
Bu Vienna, sepertinya baru kali ini ya Puput ngirim surat ke bu Vienna, kan biasanya Puput ngirim sms. Bu, pada saat bu Vienna bikin cerita "Puput Namanya", Puput bacanya sampai menangis terharu lo...karena tahunya bu Vienna masih ingat Puput nulis surat untuk bu Vienna pada saat bu Vienna mau pergi ke Australia, Puput suka buka kerudung di kelas dan wajah Puput yang dulu putih, bulat, imut dan menggemaskan, kadang Puput sendiri sudah lupa dengan itu. Bahkan  bu Vienna mempunyai foto Puput yang sedang cemberut.

O iya, bu Vienna masih ingat gak kapan bu Vienna pergi ke Australia ? Hayo kapan bu ? Puput masih ingat, yaitu hari Jum'at tanggal 31 bulan Maret tahun 2006., yaitu saat Puput kelas II SD. Bu, Puput suka ingat pada saat perpisahan bu Vienna mau pergi ke Australia, semuanya yang ada di MC (baca : SDIT Muslim Cendikia) nangis semua dan ibu memberi Puput foto Puput dan bu Vienna. Sekarang foto itu masih tertata rapi di meja belajar itu, setiap Puput kangen sama ibu, Puput pasti liat foto itu.

Bu, mudah-mudahan ibu suka dengan puisi ini.

GURUKU

Kau sangat berjasa bagiku
Kau banyak memberiku pelajaran
Pelajaran yang berharga bagiku
Pelajaran untuk bekalku nanti

Setiap hari ku dibimbingnya
Di beri nasihat
Walau kadang nasihat itu tak kuingat
Tapi ia selalu mengingatkan

Tapi sekarang dia telah pergi
Hanya foto yang kulihat saat ku rindu padanya
Guruku yang pergi inilah yang paling berharga
Dari guru lainnya, Terimakasih guruku


Bu, Puisi ini puisi ciptaan Puput sendiri. Walau tak seberapa bagus tapi mudah-mudahan bu Vienna suka.






Lama kupandangi surat itu dengan air yang menggenang di sudut mata.

Abi yang berdiri di sisi, berkata pelan..."Ummi terharu ya bacanya...".
Aku mengangguk singkat dan menoleh sambil menahan isak.
Kudengar suaranya yang jua tercekat. Aku pun tak mampu berkata-kata.
Yang kutahu dan kurasa....
hanya gejolak hati yang terus merindu pada si penulis surat : Puput, my lovely student.


PS :
Setelah beberapa kali membaca ulang surat Puput, aku sodorkan foto itu pada Umar, si sulung yang sebaya dengan Puput, sambil memberondongnya dengan pertanyaan nakal,
"Abang masih inget dia ga..?"
"Menurut abang cantik ga ?"
Yang ditanya cuma tersenyum dan tersipu malu, sambil berulang kali bilang, "Ga tauu..."
*hayoooo......;p* (maklum pengen anak perempuan belom kesampean)




Blog EntryMuslim Ladies NiteJul 14, '08 3:53 AM
for everyone

Undangan yang disampaikan via email itu berbunyi begini :

Salams everyone,
Just letting you know that there is a Ladies only entertainment night coming up. It is being organised by the Muslim Charity Community of WA. The details are as follows:

Where: Riverton leisureplex (Cnr high and Riley rds, Riverton)

When: Saturday 12th July from 7pm

Tickets are $25 and can be bought from Sr Najwa Chakelli, whose number is 9493 4497 or 0402 204 497

Light refreshments will be served.

Please feel free to forward this on to your friends who might be interested.

~Nora

*********

Berbekal rasa penasaran akan isi acara tersebut, aku berencana datang kemudian bersama seorang teman. Dari informasi yang kuperoleh sebelumnya, beberapa temanku bilang bahwa dalam acara khusus wanita itu, kita bisa berpakaian pesta yang heboh dan menanggalkan hijab. Biasanya para wanita asal Arab bahkan akan tampak gemerlap dengan perhiasan mereka. Dalam hati aku tersenyum kecut, boro-boro pakai perhiasan yang heboh, lepas jilbab diantara wanita saja aku masih sungkan. Bukan apa-apa, khawatir menimbulkan kehebohan massa akan keaslian diri yang mempesona keancurannya. *qeqeqeq,  mending ngaku daripada dituduh*.... (wahai sobats, ga sepakat itu dianjurkan lho dalam hal ini..;p)

Jam tujuh lebih sedkit, ba'da Isya, aku dan Hepi berangkat menuju lokasi. Pakaian kami kurasa cukup rapi dan sopan, layaknya ingin hadir di pesta perkawinan lah. Riasan wajah pun aku kenakan sedikit (padahal yang komplit juga ga pernah tau), karena yakin tak akan ada kaum adam disana. Berhubung tiket belum ada di tangan, maka kami datang agak awal, untuk memastikan bahwa tiket box masih tersedia di tempat.

Aha, harum wewangian mulai terendus semilir begitu kami sampai tujuan. Kulihat hampir separuh ruangan diisi dengan meja-meja bundar dikelililingi beberapa kursi. Di hadapan kumpulan meja itu ada sebuah panggung kecil yang diapit oleh seperangkat sound system di sebelah kirinya. Di belakang ruangan tampak sebuah meja panjang sebagai tempat digelarnya penganan untujk sajian makan malam. Kami memilih meja yang agak jauh dari panggung namun dekat dengan meja makanan. Hehe..tahu maksudnya kaann..? *angkat alis, kedip-kedip, senyum ngiler*.

Sambil ngobrol kami memperhatikan para tamu yang mulai berdatangan. Kuperhatikan kebanyakan mereka dari Malaysia atau Singapore. Mungkin karena panitia penyelenggaranya juga kelihatan banyak berwajah melayu dengan celetukan bahasanya yang familiar di telinga kami, pikirku dalam hati.  Benar apa yang dikatakan  temanku, beberapa tamu yang awalnya datang berhijab, tiba-tiba berubah setelah keluar dari toilet. Bahkan banyak juga yang secara demonstratif melepas jilbab dan abayanya begitu selesai isi buku tamu. Hwaaa.....kami cuma melongo dan saling pandang demi melihat baju yang mereka kenakan. Perlahan suasana di ruangan itu mulai dikerubuti oleh celotehan wanita-wanita cantik berbusana semi ketat. Totally dressed up out of hijab !
Wajah-wajah wanita arabian yang berseliweran membuat kami tak berkedip.
Molek dan berani. Fiuuh...Bagaimana jika lelaki yang menatapnya ?

Akhirnya acara dimulai dengan makan malam terlebih dulu. Yak, akhirnya setelah penantian yang kurasa begitu lama, lirikan mataku ke meja panjang penuh makanan itu pun terhenti. Menyusul gerakan tergopoh untuk tiba di deret antrian sesegera mungkin. Benar-benar pemilihan meja yang tepat, karena kami langsung mendapat urutan awal  untuk ambil jatah ransum. Thanx to Hepi ! aheuheuheu....
*duww, ini laper ato napsu sih ?*

Sambil menyantap hidangan, kami mendengar MC menyebutkan jadwal acara sampai tengah malam nanti. Diiringi musik melayu yang mulai berdentam, kami terperangah mendengar rangkaian acara yang akan digelar. Sesuai judulnya yaitu "entertainment night", ternyata hiburan yang dimaksud masih tak jauh beda dengan hiburan dunia ala non muslim. Pengunjung dipersilakan untuk turun melantai bergoyang sepuas hati dengan berbagai jenis lagu nantinya. Ada hip hop, disco, slow pop, jazzy, melayu sampai dangdut sodara-sodara ! ck..ck..ck...
Aku tertegun. Irama poco-poco yang amat kukenal dulu, sewaktu ikut rutin senam di Indo, menjadi pembuka acara goyang bersama itu.
Beberapa wanita mulai turun ke lantai depan. Mempraktekkan gerakan dasarnya ramai-ramai seirama hentakan lagu. 
Yak ampyuun, jauh-jauh kemari cuma denger poco-poco ?

Hatiku meringis. Miris sekaligus terpana dengan fenomena tersebut.
Rasanya gatal pingin gabung dengan mereka, hehe...*engga ding*, gatal pingin segera
pulang ke rumah maksute. Padahal kalau mau, gerakan kombinasi pun akan aku ajarkan tuh. wakakakak....*ketauan masih gatal*
Aku lirik Hepi, temanku.
Tampak wajahnya pun jengah, menandakan ia setuju denganku.

Bergegas kami menghabiskan isi piring di hadapan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika kami pergi. Belum cukup malam untuk sebuah acara hiburan
memang. Bisa dipastikan kami-lah tamu yang pertama pulang, tepat setelah makan.
Biarlah, daripada telinga dan mata kami dibuai oleh pemandangan yang membuat hati bergumam tak tentu, lebih baik memang kembali ke hangatnya selimut di rumah.

Diluar, ternyata semakin malam hawa dingin makin dahsyat menggigit.
Dalam sunyi dan lengangnya jalanan, kami hanya mendesah pelan. Menyayangkan bahwa hiburan yang didapat ternyata belum mampu menghilangkan penat akibat rutinitas aktivitas rumah tanggaku atau perkuliahan Hepi. Hanya hingar bingar musik dan pelampiasan hasrat gerak tubuh yang mungkin bisa tak terkendali.
Andai malam hiburan itu diisi dengan ekspresi seni yang lebih berkualitas, seperti, pembacaan puisi, teater, atau demo solo alat musik mungkin lebih berarti. Apalagi ada charity untuk sesama muslim dibalik acara ini.

Ya, andai saja demikian, aku akan lebih bersimpati untuk ikut lagi acara serupa.
Supaya donasi yang tersalurkan itu lebih berkah, dan setiap amal kebaikan itu terjaga dari hal-hal  yang syubhat.

Duhai, malam mingguku penuh hikmah kiranya...:)




Blog EntryHal Jazaa ul Ihsaani Illa al-Ihsaan ?Jul 3, '08 2:40 AM
for everyone

Ada yang menyelinap di hati saat dua nikmat Allah, yang kuraba nyata, datang di hari Jum'at lalu.
Hari dimana sejak pagi hingga petang diliput awan kelam dan curahan hujan begitu melimpah turun dari langit. Hari yang mungkin bagi banyak orang lebih memilih untuk berada di rumah, berselimut tebal sambil membaca novel ditemani  secangkir teh atau kopi hangat.  Sebuah penggambaran kenikmatan suasana bagi diriku sendiri sebenarnya...*terkekeh pelan*

Rasa yang diam-diam menyusup nikmat tersebut berbentuk haru, girang, takjub yang bercampur jadi satu. Rasa itu datang ketika salah seorang sahabat seniorku, yang kuhormati dan kujadikan tempat mengambil pelajaran hidup, merelakan 'koleksi'nya sebagai hadiah untukku. Sebelumnya memang aku sempat meminta koleksinya dulu. Namun saat itu ia hanya bersedia meminjamkan saja. Tak dinyana, hari itu, saat pertemuan rutin kami belajar mengajar tahsin Qur'an, salah satu koleksinya ia letakkan tepat di hadapanku.
Beberapa saat sebelum aku membuka majlis.
Sambil tersenyum aku intip sedikit dalamnya.
Masih baru rupanya. Didalamnya tersusun buku-buku kecil dan tipis sebanyak 30 buah.
Al-Qur'an tajwid  per-juz idamanku ! Yang delapan warna ituuu.......*mata berbinar, pipi  memerah, lidah terjulur,...loh ? ;p*

Aku lirik dia sambil berucap, "Alhamdulillah...boleh pinjam berapa lama nih bu ?"

Yang dilirik hanya menjawab pelan dan tersenyum begitu ramahnya,
"Ambil aja vien, itu buat kamu."

Tiba-tiba hiruk pikuk suasana yang menyertai suara pelan tadi menjadi sedikit hening.
Bukan aku saja rupanya yang tak meyakini pendengaranku, menoleh ke arah si empunya suara. Memandang wajahnya untuk meyakinkan diri masing-masing bahwa apa yang telah kami dengar benar adanya. Bu Lisa, wanita yang terkenal selalu tegas dan tersimak galak itu mengangguk pelan dan tersenyum sekali lagi.
Hohoo.....semua teman serentak menggodanya, setelah sebelumnya ia bersikukuh hanya dapat meminjamkan koleksi Al-Qur'annya pada orang yang meminta, akhirnya luluh juga hatinya. Mungkin akibat "kompor" teman-teman yang intens dan penuh bumbu...., atau mungkin juga karena tak tega melihat hasratku untuk memiliki..., ia pun memberi dengan ikhlas.

Belum lama kenikmatan aku hirup dalam-dalam, di akhir perpisahanku dengan majlis penuh berkah tersebut, datang lagi nikmat serupa.
Kali ini berasal dari sahabat yang lebih muda. Ia baru saja bergabung lagi dalam kelompok tahsin setelah dua minggu lamanya mudik ke Indonesia. Aku ingat, aku telah memesan beberapa helai jilbab dari tanah air padanya.

Ketika aku hendak membayar pesananku itu, ia enggan menyebutkan nominal harganya.
Ketika kudesak terus, ia berbisik pelan, "Udah ga usah bayarlah, itu buat mbak Vienna aja."

Duhai, kenapa hari itu aku merasa telingaku tak cukup mendengar jelas, hingga harus kuminta dia untuk mengulang ucapannya barusan....

**********

Dalam perjalanan pulang, aku merenungi rasa nikmat ini.
Nikmat yang tak terduga datang begitu manis kukecap dalam dinginnya angin bergulung.

Terbayang kemudian, saat beberapa minggu lalu, untuk pertama kalinya aku memberi Al-Quran tajwid pada seseorang yang begitu membutuhkan. Sesaat pemberian itu berlalu, sontak hapeku berdering. Suara sister Kautsar asal Oman mengabarkan bahwa telah datang 30 buah Al-Qur'an tajwid pesananku dahulu.
Gratis ! Masih baru versi timur tengah !
Tak kusangka ia masih ingat padaku.Padahal mungkin sudah enam bulan lamanya kita tak bertemu. Hatiku girang bukan kepalang, buru-buru aku menemuinya sambil menguntai ucapan terimakasih berkali-kali pada kemurahan hatinya. Kudo'akan ia semoga mendapat balasan kebaikan yang lebih banyak dari Allah 'Azza wa Jalla.

Selanjutnya aku sibuk membagi Al-Qur'an tajwid sejumlah 30 buah pada teman-teman yang tergabung dalam kelompok Tahsin Qur'an. Menunaikan niatku, agar mereka bisa dengan mudah membaca surat cinta Allah sesuai hukum tajwid yang tepat melalui Qur'an model tersebut. Masih terbayang bagaimana wajah mereka, saat aku katakan bahwa pemberian itu tak dipungut biaya. Masih membekas di telinga ucapan terimakasih mereka yang membuat dadaku dibungkus nikmat karena kebahagiaan orang lain.

Pelan-pelan lintasan bayangan beranjak. Mengalihkan ingatanku pada seminggu sebelumnya. Ketika seorang teman datang ke rumahku.
Sudah lama sebenarnya ia ingin bersilaturrahim denganku.
Sudah lama ia menagih janjiku untuk berbagi beberapa helai jilbab untuknya.
Aku terharu, rupanya ia sedang mengumpulkan kerudung dan baju muslimah sebagai persiapan untuk bisa memakainya dengan rutin suatu waktu nanti. Buru-buru kuajarkan ia memakai jilbab syar'i yang sesuai untuknya. Aku tersenyum membayangkan betapa rasa senang terlukis di wajahnya setelah kusisihkan jilbabs yang jarang kupakai itu.

Dan lagi-lagi sebuah rasa nikmat menyelinap di hati.

**********

"Hal Jazaa ul Ihsaan Illa al -Ihsan", sepotong ayat dalam surat Ar-Rahman seketika terngiang menyentak batin. Membuatku tertegun, begitu cepat Allah membalas kebaikan dengan kebaikan. Begitu nyata Allah memberi bukti akan janji-Nya.
Mungkin kenikmatan yang kualami tak seberapa berkesan bagi orang lain. Atau mungkin banyak diantara kita yang memiliki pengalaman dengan hikmah yang lebih mendalam bekasnya. Betapa banyak pula kisah kebaikan yang berbalas kebaikan bertaburan di sekeliling kita. Lebih menyentuh dan menggugah rasa......
Itu pasti tak kupungkiri.

Namun, bila ada sebuah rasa nikmat meliputi relungmu...hingga membuat kita merenung bagaimana caranya ia datang, maka bisa jadi itu buah dari kebaikan yang kita lakukan untuk sesama maupun diri sendiri.  Dan saat itulah kita kembali memenuhi rongga dada, membasahkan lisan dan mewujudkan pada prilaku dengan rasa syukur tak berhingga pada-Nya. Sungguh sempurna kelanjutan ayat tersebut yang selalu menyentil qolbu, "Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan ?"
Karenanya bila ada niat baik sekecil apapun tumbuh di hati, segeralah tunaikan...jangan abaikan. Ingatlah, "Tidak ada balasan atas kebaikan kecuali kebaikan pula."
Sebagaimana pada dosa-dosa kecil yang seringkali terabaikan, berhati-hatilah selalu. Pengawasan Allah selalu melekat dan janji-janji-Nya pasti.

".....dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." [ Qs. An-Nisa : 40 ]

Allahu Musta'an.

**************


JazakumuLlah bi ahsanil Jazaa,
untuk ibu Lisa, Dinna dan sist Kautsar.
moga berkah dari pemberiannya selalu mengalir sebagai tambahan pahala bagi kalian semua, saudariku seiman. Uhibbukum fillah....


Blog EntryTarbiyah bukan segala-galanya,........May 7, '08 3:11 AM
for everyone

Sepotong kalimat diatas selalu saja terbersit di kepalaku ketika menjumpai satu noda jama'ah. Mirisnya noda itu kadang diriku jua yang membuatnya. Keterpurukan, keberpalingan, kelalaian, kerap melingkari aktivitas seorang da'i yang bagaimana pun adalah manusia biasa.
Godaan duniawi yang bertubi-tubi dahsyatnya seringkali dengan kejam merenggut syu'ur seorang ikhwah. Setelah jerih payah membangun karakter dalam kurun waktu yang tidak singkat, jatuh bangun dalam kancah dakwah baik berjama'ah maupun fardhi, ada saja yang kemudian berhenti di tengah jalan, berpaling pada jalan yang lebih ringan atau bahkan hanyut terbawa arus zaman.


Masih segar di ingatan, ketika aku memutuskan untuk mulai berbenah diri. Beberapa belas tahun lalu, dalam suasana penuh romantika masa remaja. Bergabung dalam sebuah majlis ilmu sepekan sekali yang diberi istilah “tarbiyah”. Begitu eksklusif dan berkesan keren bagiku, karena jumlah pesertanya yang terbatas. Meski diri masih compang camping dalam penampilan, lisan masih tak terkendali dan adab pergaulan dengan lawan jenis  tak dipatuhi. Tak jarang kami begitu nampak alim sepulang tarbiyah, namun esok hari bagai menguap seluruh norma dan kaidah yang ditanam di benak kami sebelumnya.


Tapi rutinitas itu dengan tekun tetap kuikuti. Ada sebuah bisikan dalam hati bahwa aku harus selalu ada dalam kegiatan tarbiyah ini. Entah sampai kapan. Entah dimana aku berpijak. Keyakinan bahwa inilah salah satu kegiatan yang sangat berperan dalam menjaga iman muncul begitu saja. Demikian awalnya keterikatan itu mulai terjalin.
Sepekan sekali mengisi ulang ruhani, menambah wawasan, menjalin silaturrahim serta berusaha menepati amalan yaumiyyah. Perlahan tapi pasti waktu mulai menunjukkan perubahannya padaku. Dari berpenampilan sekenanya menjadi lebih rapi dan tertutup. Dari sekedar mengetahui ilmu agama, menjadi paham. Dari sekedarnya dalam beramal ibadah, menjadi bergairah dalam menambah amalan sunnah. Dari mengikuti menjadi terlibat. Dari dinasehati kadang berubah peran sebagai penasihat. Menjadi mad’u sekaligus da’i. Hey, bukankan kita semua adalah da’i sebelum menjadi sesuatu ?


Sedikit tapi pasti, grafik tsaqofah beranjak naik.  Ruhiyah yang tak stabil mulai dijaga untuk tidak terlalu anjlok. Kulihat saat itu aku tidak sendiri. Aku bagaikan sekeping mozaik dari kumpulan jama’ah yang beraneka warna. Begitu kau mampu melihat keindahan yang akan terpancar dari bentuk kesatuannya, maka kau tak ingin melepaskan diri dari kumpulan itu. Saat itulah kita akan dengan rela memperjuangkan integritas kita sebagai muslim. Kerelaan yang berpijak kokoh pada landasan cinta terhadap Rabbul ‘Izzati.


Namun tidak ada perjalanan yang selalu mulus rupanya. Perjalanan dakwah yang berliku dan penuh duri seringkali membuat sang musafir kepayahan. Fenomena cairnya militansi berislam mulai merambah di era mu’assasi. (baca: berpartai). Banyak fakta di lapangan menunjukkan bahwa semarak dakwah di negeri ini pada era 80 hingga 90 awal sudah sulit dicari nuansanya. Meski secara kuantitas pertumbuhan gairah beragama meningkat pesat, namun kualitas seperti mereka yang berhijrah di tahun-tahun sulit masih segelintir saja. Sungguh ini bukan mengekploitasi fakta sobats…Tapi dalam ketertegunanku menatap barisan ini, aku mendapati(ku) dan mereka, mulai terbiasa tarik menarik dengan zaman. Tarikan itu kadang sedemikian kuat sehingga mampu menguras isi hati, melenakan akal, dan mengaburkan pandangan. Lunturlah kemudian militansi yang mestinya kita mampu mengejarnya dengan upaya yang maksimal. Seharusnya kita memang harus merasa bersalah jika proses pendakian tangga militansi itu terhenti bukan karena kita tidak mampu, tapi hanya karena kita tidak sungguh-sungguh menggapainya.


Dibalik itu semua, ada satu hal penting yang aku renungi dan camkan dalam hati yang terpatri hingga kini. Menyusuri jalanan yang pangkalnya jauh sedang ujungnya belum tiba ini bukanlah mudah. Jatuh bangunnya kita mestinya bukan menjadi penghalang dalam melaju pasti. Aku memang bersama jama’ah manusia, bukan jama'ah malaikat. Noda-noda  itu pastilah melekat. Tapi sekali lagi, satu yang bisa membuatku tegak. Yaitu kalimat pada judul diatas. Karena itu, izinkanlah aku menyempurnakan kalimat Syaikh Musthafa Masyhur tersebut, bahwasanya…

“Tarbiyah memang bukan segala-galanya, tapi segalanya berawal dari Tarbiyah.”




Blog EntrySekotak coklat untuk kejujuran HamzahMar 18, '08 5:01 AM
for everyone

Musim panas seperti tak berkesudahan. Hawanya begitu membuat kering kulit dan tenggorokan. Cuaca yang menyengat tak jarang pula menyebabkan sebagian orang kehilangan kesabaran atau lebih mudah marah karena hal-hal sepele.

Memandangi kedua anakku sepulang sekolah di musim ini, seringkali terbit rasa ibaku untuk menghibur kelelahan mereka dengan sepotong es krim. Meski tentunya aku tidak akan setiap hari menghadiahi es krim, kecuali dengan syarat. Dan seperti biasa,  kami pun membuat kesepakatan kecil selanjutnya, bahwa mereka akan mendapat hadiah es krim jika dan hanya jika 'lunch' mereka habis tandas pada hari itu. Sebenarnya lunch yang aku sediakan untuk mereka bukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Terbatasnya waktu makan siang di sekolah adalah alasan yang paling sering dikemukakan anak-anak hingga sulit menghabiskan makan siang bawaan mereka. Ditambah godaan untuk bermain dengan teman-teman....waahh, boro-boro habis tuh makanan, lapar saja mungkin bisa hilang seketika.

Akhirnya dengan kesepakatan itulah, laporan yang sama kuterima tiap hari begitu mereka masuk mobil sepulang sekolah.

"Lunch abang habis mi. Ga tau Hamzah.", Umar lugas melapor seraya melirik adiknya.
Sementara yang dilirik pura-pura sibuk pasang seat belt dan senyum  dikulum.
Hmm...ini pasti  tanda ga habis pikirku. 

"Coba aja Ummi cek sendiri deh punya Hamzah", bungsuku langsung menyerahkan lunch box-nya dengan gaya misterius.

"Oo...oh, Subhanallah...punya dede juga habis nih...!", seruku berdecak kagum. ( karena biasanya Hamzah ini yang suka bermasalah dalam menghabiskan lunch).

Mulanya dia tersenyum bangga dipuji demikian. Dan hampir saja aku membelokkan kemudi stir ke arah 'warung es krim' sebelum sesaat kemudian Hamzah melanjutkan 'pengakuan'nya,

"...engg...kan tadi waktu lunch time H makan roti, trus waktu H taro sebentar ada yang step.., ga tau siapa. H ga liat his face. Jadi rotinya H buang, udah kotor ", sambil terbata dia berusaha menjelaskan. (Dia memang biasa menyebut dirinya dengan 'H')

"Yaah, berarti Hamzah ga ngabisin lunch-nya dong ?"
"Masih banyak atau tinggal dikit tadi ?"
"Siapa yang injak makanan Hamzah ?"
"Kok ga lapor ke teacher-nya ?"
Berondongku dengan pertanyaan yang membuat dia semakin terpojok.

"Ah-ah mohon maaf ya sayang, kita ga jadi beli es krim."
"Abis makan siang Hamzah ternyata ga habis " , ujarku datar tanpa perasaan.

Dan mulailah perjalanan pulang ke rumah hari ini diwarnai oleh kekesalan yang membuncah di dada Hamzah. Merengek sambil menahan tangis kemarahan, sementara kakinya terus menendangi bangku di depannya. Bibir mungilnya terus menciut  manyun, sambil mengggerutu tak jelas. Alisnya bertaut, 'nyureng', inget istilah sunda dari mamaku jika aku cemberut.
Aksi nyurengnya itu masih berlanjut sesampainya di rumah. Padahal saat itu tetanggaku, Eileen, seorang nenek yang hidup sendirian di sebelah rumah persis, datang tiba-tiba masuk garasi sambil menenteng sebuah kantong plastik di tangannya.
Oalaa.....dengan sedikit berbasa-basi dan senyum ramahnya ia lalu menyodorkan sekotak coklat untuk kami. Ahaa...satu kejutan manis di sore hari.....

Hamzah tetap tak bergeming. Ngambek.
Tantrumnya kambuh.
Kemarahannya baru sedikit reda setelah iseng-iseng aku mengambil fotonya yang sedang manyun. Ampyuuun....narsis tingkat tinggi nih, dia langsung senyum bergaya gituu. (entah dari mana bakat ini turunnya. *pura-pura ga tau*)



Pada awal menuliskan ini, aku hanya berpikir hanya sekedar ingin bercerita. Namun sesaat sebelum menyelesaikannya, aku seperti tersadar....bahwa sekotak coklat yang kini tergeletak di meja makan itu mungkin adalah hadiah dari Allah untuk bungsuku.
Hadiah, karena dia telah jujur padaku tentang kejadian lunch time-nya tadi siang. Meski dia tahu akibatnya tak mendapat es krim di sore nan menyengat.
Dan Allah telah menggantinya dengan hadiah yang lebih manis dan banyak.

Sedang aku termangu akan kesadaranku yang datang terlambat.
Kesadaran untuk menghargai sebuah kejujuran.




Blog EntryHere I am.Feb 4, '08 1:28 AM
for everyone

Tiga hari sudah, saya kembali menghirup udara panas kota Perth yang selalu menyapa di awal tahun. Kembali pada rutinitas yang membuat rindu.
Kembali pada kesibukan rumah tangga yang tak ada jadual tuntasnya. Kembali bercengkerama dengan layar monitor 14 inchi (kurleb), yang sering membuat lupa diri untuk memasak dan ....mandi, oopss.
Kembali larut dalam aktivitas mengajar tahsin plus makan siang yang menggoda selera. *halaaah*
Kembali setiap akhir pekan berkumpul dengan bocah-bocah setengah bule, bersabar menuntun serta merayu mereka untuk membaca satu halaman buku iqro-nya. Dan, lagi-lagi kembali...pada satu pekerjaan yang paling merepotkan dan selalu membuat saya mengkhayal yang tidak-tidak....
"andai setiap baju yang habis dicuci bisa licin tanpa disterika". 
Andai...

Jum'at malam, 1 Februari jam 22.30 waktu Swan River tepatnya. Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 730 yang saya tumpangi bersama dua bocah yang membuat saya sedikit senewen dan penat itu mendarat. Setelah sebelumnya kami di delay selama 6 jam lebih, terkantuk-kantuk menunggu di ruang tunggu bandara, akibat hujan yang tanpa ampun mengguyur jakarta dan sekitarnya sedari pagi.
Awalnya saya sempet tegang bin nervous. Bukan karena cuaca yang mendung, tapi lebih pada kekhawatiran mengenai barang bawaan saya yang seabreg itu. Khawatir, sepertinya saya ga cukup pe-de untuk melakukan bargaining dengan petugas bagasi jika ternyata overweight. Namun setelah lolos dengan sukses di masalah bagasi, mulai lagi hati ketar-ketir demi melihat lapangan udara yang berkabut dan sejauh mata memandang langit tampak gelap dan suram.

Benarlah kiranya dugaan seorang ibu (ga nyambung kan?). Seluruh penumpang yang tadinya udah duduk manis di pesawat, dan saya pun  tersenyum puas setelah menghabiskan pulsa hape, dengan sopannya sang pramugara mempersilahkan kami turun kembali ke ruang tunggu.
"Mohon maaf bu, begitu cuaca sedikit terlihat cerah, kita langsung berangkat", ujar pramugara tersebut tersenyum meyakinkan.
Apa boleh buat, tentengan seberat 8 kg pun harus ikut dibawa turun pula. Diiringi gerutuan Hamzah seperti biasa, dan Umar yang selalu bertanya, "Kenapa sih kita ga berangkat aja mi ?"
*Menghela napas, sambil nahan keroncongan di perut*.

Selama proses menunggu itu lah, saya akhirnya ikut memantau kondisi di Jakarta yang sudah masuk tingkat "WASPADA BANJIR". Lewat berbagai siaran berita di TV, beberapa ruas jalan utama di Jakarta, banjir bahkan sudah lebih dari setengah meter. Jalan ke bandara juga sudah ditutup. Seluruh penerbangan ditunda sampai waktu yang ditentukan kemudian. Beberapa pesawat yang punya jadual mendarat, terpaksa harus cari landasan di bandara terdekat atau balik ke kandangnya. Saya  miris. Bisa-bisa beberapa tahun lagi, jakarta bener-bener tenggelam. MasyaAllah....
Rupanya pihak Garuda cukup cepat tanggap. Ditengah kelaparan mendera para penumpang, tepat waktu makan siang puluhan box KFC+satu botol Aqua diedarkan. Ah akhirnya.......

Pukul 16.00 langit sudah cukup cerah meski gerimis masih mengundang angin. Kami akhirnya berangkat. Dalam hati saya sempat cemas melihat kondisi anak-anak yang langsung tidur begitu pesawat take off. Bukan apa-apa, berdasarkan pengalaman dan pengamatan..Umar dan Hamzah ini sering sekali punya masalah di pesawat. Ya mual-lah, kesakitan di kuping karena tekanan udara, muntah-lah, bosen-lah (ini mah udah pasti..), atau sakit perut. Empat jam waktu terbang rasanya membuat saya tambah gelisah. Dan, (lagi-lagi) benarlah naluri seorang ibu (tsaah..), apa yang dikhawatirkan pun terjadi. Mereka muntah secara brutal di udara. Oohh.....

"They've really made you nuts, huh ?" , seorang petugas wanita perth airport berkomentar setelah berbasa-basi menanyakan kabar my boys. Antrian yang panjang di imigrasi bikin saya sempet curhat sedikit padanya. Leganya kini dua anak itu dengan riangnya duduk-duduk sambil becanda. Fiuuhh...moga emang cuma mabok udara, bisik saya dalam hati. Ga kebayang kalo nanti malem di rumah bakal muntah-muntah lagi.
Beres scanning kopers, dari jauh terlihat sosok pria yang tiap malam menelpon kami demi menahan kesepiannya. Hamzah pun menghambur ke peluknya. Tubuhnya terlihat lebih kurus memang, dan dia bangga atas itu. Dia merengkuh pundakku seraya berbisik, "Kangen ga sama abi ?"

.........
Hmm....kira-kira kangen ga ?

(sensor dulu ahh......) ;p





© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.