Isy Kariman Aw Mut Syahidan

ilalang's posts with tag: coretan hati

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryDetik-detik Menuju Tanah SuciNov 25, '08 3:36 AM
for everyone

Assalammu'alaykum warohmatuLlahi wa barokaatuh.

Dear Friends and Relatives....

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt, Penguasa, Pemilik, Pengatur jagad alam raya dan seisinya. Sholawat dan salam smoga selalu tercurah pada uswah dan junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Jelang keberangkatan saya dan suami ke tanah suci, izinkan saya untuk kesekian kalinya pamit, meminta keikhlasan untuk memaafkan segala kesalahan baik disengaja ataupun tidak selama interaksi maya maupun nyata.
 
Mohon maaf bagi setiap tamu yang mampir di rumah maya saya, bila jejak sapanya belum sempat  terbalas dengan teguran pengikat silaturrahim di hati. Karena saya harus memenuhi undangan Allah terlebih dulu dan berkonsentrasi demi kebutuhan akhirat pribadi.
Mudah-mudahan silaturrahim kita bisa berjalan lagi di kemudian hari dengan semangat saling berlomba untuk kebaikan semata.
  
Segala kemudahan, kelancaran, keberkahan dalam perjalanan yang kami dapatkan kelak, InsyaAllah adalah buah dari do'a saudara/i saya semua yang dengan sabar selalu mengiringi di kejauhan.
 
InsyaAllah akan saya ingat setiap pesan dan titipan do'a untuk disampaikan di pelataranNya.
 
JazaakmuLlah Khoyron Jazaa.

I'm gonna miss all of you, soooo much !

 
Wassalammu'alaykum warohmatuLlahi wabarokaatuh
 
- v i e N n a -

 

Blog EntryKalimat SenyapNov 18, '08 4:05 AM
for everyone

Hanya beberapa baris kata yang berseliweran di otakku,

.....kala berjibaku dengan lelah menjelang persiapan mudik.


Ejalah kalimat hatiku
pada tepi waktu senyapmu.
Setegas taburan kelip bintang merenda malam
ia kan berujar,
"Sayangilah kesenggangan kita menanti yang kekal..."


[ 6107, 17/11/2008, 22.13 pm ]


It's too short, I thought.
Adakah yang mau melanjutkan....?





Blog EntryNasihatilah aku.....Nov 12, '08 2:38 AM
for everyone

Seharian kemarin mataku sembab.


Keharuan menyelimuti sepanjang hari, dimulai sejak saat dan setelah acara ceramah Haji plus pamitan saya dan temans yang akan berangkat ke tanah suci tahun ini.
Bertempat di kediaman ibu Yessi, wanita yang kuanggap seperti ibu sendiri, Alhamdulillah, banyak juga ternyata yang hadir.
Bergantian, tua-muda menyalami, berpelukan, berbagi do'a, membisikkan petuah penuh kasih padaku.


Terutama dari mereka yang sudah menunaikan rukun Islam kelima itu.


"Banyak bersabar ya Vien....."  *menghela nafas berat*

"Tawakkal selalu, dengan penuh yakin pada Allah".

"Jangan lupa bawa obat flu, sakit kepala, batuk, diare, pegel linu, masuk angin, tetes mata, alergi,......"    *wuiiii.....bakal banyak apotik diserbu calhaj nih*

"Ga perlu bawa baju banyak-banyak...., cd juga yang disposable aja..."   *hiiiyy...*

"Semua perbekalan kalu bisa dipisah dengan suami. Kita menghadap Allah disana nafsi-nafsi. Dia emang mahrom kita, tapi semua keperluan urus sendiri-sendiri."  
*tuh Bi, catet....;p*


"Hati-hati biasanya konflik itu timbul dari orang terdekat kita."  *glek*

"Jaga lisan dan jangan sampai ngebatin or ngedumel di hati..."

"Banyakin sedekah. Apa aja...., ya sajadah, makanan, kaos kaki, tenaga, dll...
"Usahain agar kita selalu cari peluang pahala disana. "


"Pake ini nih (nyodorin singlet dengan kantung di depan)...., tuh ambil aja buat kamu."
*cihuuuy....Alhamdulillah*

"Nanti segala macam rupa dan karakter orang terlihat semua."

"Jaga kesehatan ya sayang...."  *padahal yg dinasehati lagi sakit*

"Jangan sampai ketiduran di Arafah, karena hawanya sering bikin banyak orang ngantuk, apalagi kondisi kita lelah".
"Ingat, disitulah puncak ibadah Haji."   *perlu dicamkan inih*

"Vien, ini ada nappy buat adults...(haaa??), Iyaa efektif kalo-kalo kamu ga kuat nahan buang air kecil. Kan antrian ke kamar mandi suka lamaaa...."   *mringis*

"Ayo kamu exercise dari sekarang, nanti bakalan jalan melulu. Jauuh lagi..."

"Jangan putus untuk dzikrullah. Tipa helaan nafas kalau bisa."

"Bawa buku tentang sejarah para Nabi. Karena akan lebih terasa dihati, napak tilas perjuangan mereka membawa risalah Allah di  muka bumi." *InsyaAllah*



Alhamdulillah, betapa bersyukur aku pada-Nya telah dianugerahi banyak temans yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
InsyaAllah semua tlah  kucatat baik-baik disini, agar ingat dalam memori otak.
Jazakumullah bi ahsanil jazaa....

Niscaya kan kusampaikan titipan segala pinta kalian disana.
Di hadapan Multazam, di Raudhoh, di Arafah pada tiap wajahku menghadap pada-Nya.
Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah....


Adakah yang ingin menambahkan nasihat buatku disini ?  *berharap sangat*
Mau berupa sentilan, teguran, kecaman, juga silakan....
yang pedes-pedes biasanya kan bikin ketagihan. :)

Atau ingin menitipkan do'a ?

Ooyaaah....ingatkan dakuh juga kalu punya hutang / janji yang belum tertunai ya !


Haji - Opick



Blog EntryAntara Amanah dan FitnahNov 10, '08 6:04 PM
for everyone

Sepanjang hasil pengamatanku ‘berkeliaran’ secara maya dari rumah ke rumah yang dimiliki seorang ibu, sungguh tak pernah habis untaian kata yang diungkapkan tentang buah hatinya. Berbagai tipe blog ibu-ibu dari jaman dulu hingga sekarang, sudah banyak membuktikan kenyataan itu. Apakah ia tergolong ibu muda, pertengahan atau jelang lansia, selalu tercantum sekelumit cerita berkisar sang penyejuk mata.

Bahkan cerita sudah digores semenjak proses menjadi ibu dimulai. Dari telat datang bulan, tes kehamilan, ‘ngidam’pas hamil muda, sampai tri semester berikut, diurai dengan detil segala gejala dan perasaan seorang ibu pada khalayak di jagad maya. Tentu saja berita kelahiran jabang bayi segera diumumkan dengan gejolak suka cita  luar biasa, berikut pose bersama permata hati yang nampak mesra.

Oya, mohon maaf sebelumnya bagi kaum bapak yang mampir, tulisan saya ini bukan bermaksud diskriminasi. Hanya sebagian besar contoh saja kok yang diambil dari kaum ibu. Meski para ayah juga tak kurang yang menampilkan cerita cintanya dengan anak-anak mereka. Tapi rasanya belum ada yang sedetil torehan cerita ibu tentang masalah ini. Wajarlah jika pada umumnya sosok ibu lebih dekat dengan anak, karena mereka pasti lebih banyak berinteraksi  secara hati dan fisik.

Gitruu...:)

Lanjut yak,

Seiring dengan pergantian hari, tiap tahap perkembangan anak yang memang menarik untuk dicermati, selalu dikupas dengan rinci. Kebahagiaan yang meliputi sepanjang waktu itu nampaknya akan sangat sayang jika disimpan seorang diri atau antar keluarga/kerabat saja. Semua rasa, bangga, sedih, kagum, marah, lelah, geram, bahagia, inginnya juga dibagi pada semua sahabat maya.

Mulai dari cerita ringan seperti, main slang air, coretan pertama di tembok, celoteh iseng dan lucu, cara buang air, kata-kata cadel, gaya sisiran rambut, kebiasaan tidur, jalan-jalan tamasya, gerak tubuh, mimik wajah, tangan dilipat, duduk yang manis,…deesbe-lah. Sampai cerita yang agak berat, macam sakit parah, kelainan fisik, terapi bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, kecelakaan, penganiayaan, bakat terpendam, penghargaan istimewa,… wuih banyak banget deh pokoknya. Yaaa, semuaaanya diberitakan teramat indah dibubuhi harap serta untai do’a yang tersemat bagi karunia Allah berharga itu.. Kalau perlu seluruh dunia tahu dan ikut mengamininya. Kalau bisa semua makhluq ikut memahami, menanggapi pun merasakan betapa besar rasa sayang ibu terhadap putra-putrinya. Tiap kalimat yang terangkum rapi dalam file yang ditulis oleh seorang ibu mengandung asa, agar jika mereka besar nanti bisa menyelami kisah kasih yang tulus tak pernah putus. Tercatatkan bagi jiwa-jiwa baru cikal bakal generasi penerus.

*Coba bayangkan bagaimana kasih sayang Allah pada kita, yang kadarnya sangaaaat jauuuh melebihi kasih sayang ibu pada anaknya ? *


Sesama wanita dengan peran yang serupa,  aku selalu larut menyimak kisah cinta seorang ibu yang bergelora. Ikut tersenyum mengamati wajah-wajah mungil tanpa dosa di kumpulan album mereka. Turut tenggelam dalam cerita pilu penuh guncangan saat buah hati harus terkapar di rumah sakit. Terbawa geli dengan celoteh lucu plus ga penting putra/i mereka. Trenyuh membaca kegetiran ibu bila si anak mulai sulit untuk diajak komunikasi. Kagum dengan perjuangan mereka mendidik keturunannya dengan sabar dan bijaksana. Tak jarang airmata ikut-ikutan menggenang, akibat haru terhadap deskripsi kasih sayang dari tiap anak mereka yang tak terduga bentuknya. Ah, masih banyak lagi sebenarnya perasaan yang berkecamuk tiap menikmati kisah mereka. Rasanya jika semua dikumpulkan, bisa-bisa menambah seri buku “Chicken Soup for a Mother Soul” hingga edisi tak terhingga.

Menyentuh, menggetarkan dan penuh warna.

Biasanya setelah itu aku suka kembali merenungi perjalanan karir sebagai ‘madrasah’ bagi dua pejuang kecilku. Rasanya masih banyak hak mereka yang belum kutunaikan dengan sempurna.

Berada dalam kondisi dirantau di Negara yang minim komunitas muslim, seringkali membuat hati ketar-ketir menjaga keimanan mereka. Beberapa teman senior yang sudah kategori punya mantu juga ikut menelorkan wejangan setiap ada kesempatan berbincang. Rata-rata yang punya anak wanita, banyak yang segera menikahkan setelah mereka lulus Senior High School. Yang punya anak pria mewanti-wanti agar selalu awas terhadap gelagat anak yang mudah terbius racun ‘drugs’. Kisah pergaulan remaja yang begitu bebas disini lebih sering membuat cemas dan hati bertanya gamang,

“Apakah mereka bisa selalu terjaga di jalan-Nya yang lurus?”

*sambil terbayang surat At-Tahrim ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”*

“Dapatkah aku membesarkan mereka di tengah hiruk pikuk godaan duniawi yang semakin tak terkendali ?”

“Bagaimana kelanjutan hidupmu nanti , nak ?”

hhhhh…

Memang semua kekhawatiran itu tak berguna kalau tiada usaha membesarkan anak-anak dengan pendidikan agama sedari dini. Melalui media keluarga, tempat pertama mereka dibesarkan. Wadah tumbuh yang paling ideal dalam mengambil contoh berikut ilmu guna bersosialisasi. Namun tetap saja ada kecemasan bergayut jika bekal yang kusiapkan untuk mereka tak mencukupi. Sedang diri ini masih dalam terseok-seok belajar untuk menjadi orang tua, guru, kakak, sahabat, bagi mereka.

*sigh, lagi*

Berdasarkan literatur  Islam yang pernah kupelajari, kedudukan anak bisa berfungsi amanah juga fitnah (ujian). Dua posisi ini perlu dicermati betul oleh orangtua. Ia bisa menjadi investasi yang menguntungkan orangtuanya di akhirat kelak bila kita mampu mengemban amanah Allah ini dengan benar. Mampu menanamkan aqidah yang mantap, menasehati dengan lembut dan sabar, dan memberi teladan dalam berakhlaq mulia. Sebaliknya ia pun bisa menjadi ujian/fitnah, jika kehadirannya ditengah keluarga malah memudarkan kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya. Lantaran perhatian orangtua yang hanya tercurah demi memenuhi kesejahteraan duniawi mereka saja, akhirnya sering berujung terabaikannya waktu-waktu ibadah. Berhati-hatilah juga dalam mensikapi kelebihan potensi anak baik lewat tulisan maupun lisan kita. Sebab ia bisa menjadi sinyal tumbuhnya sikap saling berbangga-bangga diantara orangtua. Alangkah baik jika yang dibanggakan berupa prestasi akhirat agar menjadi cambuk untuk berlomba dalam kebaikan dengan sesama. Tapi bila yang dijadikan ukuran kebanggaan cuma berkutat seputar prestasi dunia……?

Hhmm….nampaknya kita perlu lebih giat ‘belajar’ lagi jadi orangtua, bila ingin ‘lulus’ dari  ujian’ Allah ini.


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". [ Qs. Al-Hadiid : 20 ]

Belajar bareng yuk ?

***********

pic taken from here



Blog EntryJerat was-wasNov 3, '08 7:16 PM
for everyone

Terik menghujam bumi

kala bayang rapuh meniti langkah
Desir angin gamang kian menggoda sumpah
Ragu meliuk, mengerling, memutar arah
Bising bercampur aduk pada sudut gelap berjelaga
Tawa, tangis, rintih, murka
Tarik ulur tumpang tindih lumpuhkan waras
Berselang seling antara laju roda waktu yang menggilas
kadang malas kerap was-was
 
Sadar !
atau kutampar
Buyar !
sebelum menyala gusar
 
Apa mengatur siapa ?
Lawan kecamuk diri
Perangi sang hawa di tepi
 
Kaki yang lumpuh atau hati menyerah mati ?
Rela menelan kalah umpama bayang tumbang
di siang hari


[ 6107, 23/10/08, 9.08  pm ]



PROSES KREATIF...
Puisi ini adalah sebuah dialog hati pada jiwa yang kadang dijerat was-was untuk maju menyampaikan sebuah amanah di jalan panjang  nan terjal bernama Dakwah. Menumpuknya lalai dan khilaf acap jadi  alasan untuk menghindar dari janji sebagai  penyeru. Selalu berdalih namun  tak kunjung memperbaiki diri. Hanya kemauan keras untuk bangkit sajalah yang bisa menepis segala ragu. Sebelum hawa nafsu kembali mengangkangi.

**********



إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ   

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

[ Qs. Fushillat : 30 ]

 


Blog EntryDialog Cinta, Suatu MalamOct 21, '08 1:44 AM
for everyone

Setiap malam menjelang tidur ada ritual yang tak pernah dilewatkan oleh pejuang-pejuang kecilku. Ritual singkat yang membuat mereka candu gelisah bila tak tertunai sebelum menutup mata. Sejak mereka kecil, mungkin saat usia Umar, sulungku, 3 tahun (Hamzah baru saja lahir), aku mulai membiasakan ritual ini untuk mereka.

Kuusap kepalanya, kubelai ubun-ubunnya, sambil komat-kamit berdo'a (seperti di sini) :

"Allahumma ihfazh hu min baini yadaihi wa min kholfihi wa 'an yamiini hi wa 'an syimaali hi waq dzi fit tauhiida fii qolbi hi wa a'inni 'alaa tarbiyati hi yaa Arham Arraahimiin. Allahuma inni u'iidzuhubika wa dzurriyatahu min asyyathoonirrojiim."

Selalu. Saat tiba waktu beristirahat di pembaringan, mereka kan datang dan berkata,

" Eh, Ummi kan blom do'ain kita..."  atau

"Oiya, do'ain dulu dong Mi...." 

seraya menyorongkan kepala-kepala mungil di depan wajahku.
Atau, jika mereka melihatku masih sibuk menyetrika ataupun sedang online di depan komputer..tetap mereka mengingatkan manja,

"Nanti Ummi ke kamar ya do'ain kita...."

Begitupun saat aku ingin tidur lebih cepat dari jam tidur mereka, karena kurang sehat atau terlampau penat, tatkala aku pamit tidur, salah satu tetap akan ingat dan berkata cemas,

" Nanti gimana dong Mi do'ainnya....?"

Biasanya kujawab sedikit bawel,

"Makanyaa, cepet gosok gigi dari sekarang. Udah gitu langsung sholat 'Isya.
Mumpung Ummi belom tidur...Jadi bisa dido'ain."

*exhausted, kadang bikin galak mode ON*

*******

Malam itu, saat aku menunaikan ritual kecilku seperti biasa...
Terbitlah rasa ingin tahuku : Mengapa mereka begitu addicted dan terus menagih jika do'a Ummi belum terlaksana.
Kudekati Umar. Sepertinya ia sudah lebih rasional untuk dijadikan teman diskusi.
Setelah mendo'akannya, aku berbaring disisinya dan bertanya,

Ummi : "Bang, kenapa sih abang selalu minta do'ain Ummi sebelum tidur ?"

Umar : "Enak ajaah...., dielus-elus terus disayang sama Ummi."

Ummi : "Then, how do you feel after di do'ain Ummi ?"
            "Are you feel safe, secure, happy ...or what ?" *tatapan menyelidik*
            
(aku kasih option supaya ia mudah mengekspresikan rasa hatinya)

Umar : Diam berfikir agak lama dengan mata menerawang....
           Sejurus kemudian dia menatapku sambil menjawab mantap,
           "Feel grateful......"

Ummi : Bengong ga percaya dengan apa yang terdengar..
            "Apa bang...?" *suara pelan tercekat*

Umar : "Feel grateful that I have a mom like you."

Ummi : "Ohhhh......"

Kubenamkan wajahku ke dalam pipi empuknya. Lembut dan lamaaaa......
Lalu kubisiki telinganya dengan untaian do'a penuh syukur dan harap pada-Nya.


Ya Allah masukkan ia ke dalam generasi Rabbani yang Kau cintai....

     

Blog EntryDiamOct 16, '08 9:17 PM
for everyone

Rapuh - Opick



Bukannya diamku marah
Bukannya diamku mungkir
Bukannya diamku mampet
Bukan pula malas...
atau mutung.


Hanya,
ada yang harus dijaga.
dalam hening waktu bicara
dalam ukiran harap mengangkasa
dalam jenak meniti do'a





Aku masih disini..
terpaku menatap raga
luluh rapuh dilanda dosa
tenggelam bungkam terhempas nista


Diam.

Terpejam.

agar lilin itu tetap nyala terjaga
bagai janji setia pada-Nya




[ 6107, 16/10/2008, 09.48 pm ]
"mengertilah, terbiasalah..."

"oh..maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintai-Mu
dalam dadaku harap hanya
diri-Mu yang bertahta..."



Blog EntryTerkena VirusOct 10, '08 3:43 AM
for everyone

Seminggu tepatnya laptop kami satu-satunya terkena virus.

Terakhir kali setelah sesiangan saya pakai berselancar di dunia maya, malamnya dia sekarat. Suami yang kembali ingin mengaktifkannya tertegun sambil berkata lirih,

"Kayaknya kompi kita kena virus deh Mi."

Layar monitornya terlihat hitam saja, meskipun sempat nge'boot' di awal. Sekali dua kali muncul wallpaper yang tanpa icons di tepi. Tapi ga bisa diapa-apain. Diam, tak bergeming. Hang, gitu deh istilah teknisnya. Berrkali-kali di restart ya begitu lagi hasilnya.  Berhubung suami juga sibuk urusan kantor dan ga terlalu ahli urusan teknologi informatika, proses penyembuhannya pun jadi agak lama. Dan saya pun nelangsa....sambil ngobrol didepan laptop bak orang hilang ingatan.

"Kasihan ya kamu lagi sakit. Sabar ya nanti diobati..., biar sembuh dan kita bisa bercengkerama lagi..."  *ngelus-ngelus yang 'sakit'*

(bujug, ini yang sakit siapa ya sesungguhnya ? ;D)

Lalu merayu Abi habis-habisan...

"Ayo dong Bi, dibawa ke temen yang jago IT.., biar cepet diperbaiki."

"Dia kan yang suka menghibur Ummi..., kan kita jadi susah nih mau bayar-bayar tagihan dan cek tabungan."    (sok bikin alasan yang lebih penting)

Akhirnya, perlahan-lahan dia sembuh juga setelah dibawa ke 'dokter kompi' kenalan kami. Meski efeknya menyakitkan, karena dia harus diformat ulang yang mengakibatkan semua data dan softwares lenyap tak berbekas. Semua files penting, foto-foto kenangan, softwares berguna tak ada lagi. Mana sebagian belum sempet di back up.     

*huhuhu...sedih kalu inget*

Layaknya bayi, laptop kami itu nampaknya ingin ikut berlebaran. Kembali ke fitrahnya. Suci, bersiihh...hingga di shorcut wallpaper depan cuma tersisa satu icon recycle bin. Aku hanya diam menatapnya. Sambil termenung, baru juga kehilangan 'mainan dunia' udah merasa merana. Baru kehilangan nikmat teknologi komunikasi yang serba cepat, praktis dan mudah, udah kelimpungan. *Malu Vieen...maluu...*

Gimana jika nikmat panca indera kita yang diambil ?

Satu saja, semisal nikmat bersuara. Boro-boro bisa tilawah Qur'an, mengucap Hamdalah sebagai ungkapan lewat lisan aja ga mampu. Ya Allah, betapa menderitanya....Sedang aku masih sering lalai beribadah karena urusan dunia yang menyita.

Astagfirullahal'adzhim.

*Moga 'virus internet' tidak sampai membuat saya hang, lupa pada tanggungjawab yang harus dipenuhi di realita.*

 


Blog EntryBanyuwangi Dalam LamunanOct 1, '08 8:19 PM
for everyone
Beginilah nasib perantau...
Ketika lebaran datang hanya bisa melamunkan keriangan silaturrahim di kampung halaman. Dua tahun terlewati sudah aku hanya mendengar cerita mudiknya orangtua dan abang satu-satunya. Yup that's right, sesuai judul diatas, kemana lagi kalu bukan ke Banyuwangi.
Kota tempat para leluhurku bermukim.

Diriku memang tidak lahir disana. Apalagi tumbuh dan besar.
Hanya sedari kecil selalu dibawa ke kota kelahiran Papah itu tiap 1 Syawal datang menjelang. Masih lekat di memori rasanya nikmat ber-konvoi bersama keluarga paman dan sepupu menikmati dua hari perjalanan darat di masa-masa lalu...

Mampir makan di restoran kota yang dilewati (keringanan ga puasa sebagai musafir perlu dimanfaatkan toh ? ;D), nginep di hotel murah, istirahat dan sholat di masjid, buang air di POM bensin, bacain jalur peta, suntuk dalam kemacetan, mogok kehabisan minyak kopling, terbawa tegang ketika menyalip bus antar kota, ban selip karena banjir, anak-anak yang muntah karena mabuk perjalanan, nyasar karena di detour, bobo sampe ngiler-ngiler, ngegosipin temen-temen sekolah sama abang, berbagi rizqi pada dhuafa secara spontan, melihat binatang liar di Baluran dan yang pasti tak terlewatkan adalah mengintip keindahan dalamnya laut di pasir putih Situbondo sambil makan nasi bungkus...

Owwhh...nikmeh tuenann !



Potongan-potongan ingatan yang selalu saja muncul saat-saat lebaran seperti ini.
Membawa anganku berkelana dengan hati meringis menahan rindu.
Belum lagi suasana di rumah Datuks (sebutan nenek dan kakek di keluarga besar kami) yang sederhana dan hanya beberapa meter saja di belakang Masjid Baiturrahman seperti yang nampak pada gambar diatas. Daerah tersebut dikenal dengan nama kauman.
Rumah dimana anak yang berjumlah 11 orang, berikut cucu dan cicit tumplek blek disana, seketika menjadi full house. Bangunan langgar dipekarangan yang biasa dipakai Datuk mengajar ngaji tetangga sekitar, berubah menjadi ruang serbaguna. Ya buat tidur, nyetrika, main kartu UNO hingga larut, sholat tarawih, cerita gebetan terbaru para sepupu ABG, gitaran sambil nyanyi-nyanyi sumbang lagu The Beatles, ngebanyol garing plus basi dengan Pa'leks (Pamans), sampai belagak insap denger petuah mandraguna dari the Godfather.

Mendekati hari H, dapur Datuk sudah riuh oleh bahan makanan yang akan diolah.
Dibantu korps menantu (tantes/buliks sayah) yang ahli masak, berbagai jenis masakan siap tampil memukau mata dan lidah para tamu dan saudara di Hari Raya. Desas desus bocoran menu yang biasanya sudah beredar di kalangan bapak-bapak, membuat mereka ga tahan untuk bolak-balik sok dibutuhkan di dapur. Berharap dipanggil sebagai kandidat juru cicip pas berbuka nanti.
Huaah, dasarr.

Penuh !
Itu yang terbayang kala 'Iedul Fithri datang di rumah Datuk. Tetangga, saudara, kerabat, masuk lewat pintu muka dan belakang. Tua, muda berseliweran mengumbar senyum dan ucapan maaf lahir batin. Aku yang cuma numpang tetesan darah Banyuwangi, berkali-kali harus bertanya pada pamans jika ada kalimat mereka yang samar kutangkap maknanya. Payah ya ?
Biariin...,
yang penting tetap tersemat kebanggaan di hati sebagai "Isun Lare Osing".
*jiaah, ngaku-ngaku*

Selanjutnya hari-hari berikut dipadati dengan program berkeliling.
Seru dan asik, karena semua bisa dijalani dengan berjalan kaki atau naik becak.
Maklum sesepuh saya cukup banyak disana. Beberapa bahkan saking tuanya udah ga hapal nama cucu-cicit dari kemenakan. Hingga agak sulit kalu berkunjung tanpa bawa-bawa nama si Papah.
"Saya Dede (nama beken di keluarga), anaknya Munif, cucunya pak Maksum...",
.....baru deh para tetua itu 'ngeh dan manggut-m
anggut. Entah beneran paham atau biar singkat aja prosesi perkenalan itu. Ora urus lah. Sing penting jadual silaturrahim tuntass... dan daku bisa berkeliling mencicipi penganan khas di tiap rumah.
*nyengir kuda*

Satu lagi yang bikin lamunan rinduku kian menjadi-jadi adalah kegiatan ini :
jalan-jalan berkeliling kota, menikmati sunrise di pantai ba'da subuh, jajan rujak soto dan nyebrang ke pulau dewata. Ya..ya semua selalu masuk dalam agenda penting setiap mudik. Pantai di Banyuwangi menurutku bukan termasuk pantai yang indah. Hanya karena punya nilai historis tersendiri bagiku saja, rasanya tak mungkin kulewatkan untuk sekedar absen dan numpang poto disana. Thus, supaya cerita pulang kampung menjadi lebih keren dengan bumbu setor muka di Bali, maka segenap pasukan Osing turunan bela-belain nyebrang naik Ferry dari Ketapang ke Gilimanuk untuk belanja suvenirs disana. Mudah, singkat dan beres sudah urusan oleh-oleh.

Oya, tentang rujak, ini adalah makanan wajib khas Banyuwangi yang kiosnya tersebar hingga pelosok kota. Dan yang paling tob surkotob dan terkenal adalah si rujak soto ityu.
Lazimnya makanan yang paling diincar, tiap warung rujak pasti segera diserbu oleh antrian pembeli sehari setelah Hari Raya. Dan berdasarken undang-undang tak tertulis di keluarga kami, bagi para sepupu ataw keponakan yang baru bersukacita mendapat angpau, diharusken dengan lapang dada mentraktir struktur keluarga yang lebih tua. Terutama berupa traktiran rujak dan bakso. Hihihi..wajah mereka tiba-tiba terlihat sangat sengsara telah menjadi bagian dari keluarga inih. Kasimaan syekali.


Well, MPers budiman dimanapun anda berada...t
erutama yang bernasib sama seperti sayah, nampaknya lamunan ini harus diakhiri. Secara my boys sudah merajalela tak terkendali mentang-mentang libur sekolah. Dan kami pun masih harus lanjut silaturrahim ke handai taulan di negeri rantau. 
Ini semua gara-gara sms 'racun' dari salah satu pamanku yang tega luar biasa, sehingga aku harus me-recall semua kenangan tentang Banyuwangi.

"Iya maaf lahir batin juga dari Lek Yik seklrg. Lg ngumpul semua di Bwi. Mama, papa, abang jg br nyampe di kauman. Rame banget (inc. makanannya).
Ada nasi samin, sate, gulai, ikan bkr, baso rujak,dll. Aduuh, bingung nih..mau mkn yg mn dl yaa...?"


Puuuihh. Menyebalkan.
*manyun lima senti*
Bikin orang senewen pengen terbang kesana.
Sampai secara ga jelas membabi buta browsing tiket murah di hari H.
Dapet ? ya engaaaa laahhhhh ! Boro-boro mampu kebeli, penerbangannya aja kagak ada.
Baru ada lagi tanggal 4 Okt.

Yee...udah basi kali tuh nasi samin.

"sabar-sabar Vien, jangan jadi Hulk dulu dunk...."

"grrrhhh...."


[ P.S : poto-poto diambil dari mbah Gugel ]



Blog EntryMalam ke-27 itu...Sep 27, '08 9:53 PM
for everyone

Berawal dari sedikit ragu ketika undangan Qiyamullail bersama sisters dari Muslim Woman Support Centre (WMSC) datang melalui sms. Seorang sahabat asal Singapura, sis Suryati, yang sudah lama kukenal mengirim sms undangan itu seminggu sebelumnya. Isinya yang singkat cukup membuat hatiku terperanjat, disusul keraguan untuk bisa menyempatkan hadir disana. Bukan.., bukan karena aktivitas tahajud bersama tidak menggugah hasratku, tapi karena ada permintaan khusus agar aku juga bisa memberi sedikit speech tentang Qiyamullail. Tentu dalam bahasa Inggris, karena mereka yang hadir nanti berlatarbelakang dari berbagai bangsa.
Ya Allah.....why me ?

Beberapa kali sms itu datang meminta konfirmasi, hanya kudiamkan saja. Maksud hati akan kureply setelah punya alasan tepat untuk menghindar dari permintaan yang membayangkannya saja sudah bikin perut mules. Andai speech itu dalam bahasa ibuku, mestilah kutimbang dengan perasaan tak seberat ini. Sampai tibalah hari H, dimana sore harinya sister Suryati menelpon kembali...(dengan logat Malay)

”Gimana Vien, udah siap kan ngisi nanti malam ?”

”Siapa saja kawan-kawan Indonesia  yang  bisa ikutan ?”

”Engg....umm, duh gimana ya...Belum siap nih bu...”, sambil gugup aku tersipu.

”...Baru juga nge-print makalah hasil browsing di Internet.”

(ketauan dah, nanya ustadz gugel dulu)

”Bu Suryati aja deh yang ngomong, kan bahasa Inggrisnya lebih bagus. Rasanya kok kurang menghayati kalo nyampein materi bukan dalam bahasa Indo...belum lagi banyak vocab yang ga ngerti. Tentang agama lho ini bu, gawat kan kalo ga berangkat dari hati yang paham. Trus.....bla..bla..bla” , panjang lebar aku beralasan. 

”Ah...sudah tak apa. So you can practising your English in front of us. That’s great kan ?”

”Coba mana saya dengarkan dulu, kamu punya materi.

Aku tertawa pahit.

”Waduh, ini kumpulan materinya juga panjang. Blom sempet saya ringkas. Betul deh saya ga siaaap..” suaraku mulai memelas blass.

”Hoho....don’t worry lah sister, nanti saya dampingi. Ok, don’t be too late ya..after maghrib, saya ketemu kamu di rumah sister Aminah.”

Bu Suryati menutup pembicaraan.

Glek…aku lemas tak berkutik.

Nego gagal, tak ada satupun alasan shahih bisa kulontar. Mana suami juga sudah mendukung dan menyatakan mampu meng-handle acara sahurnya d Boys. Sebenarnya aku juga sangat ingin datang untuk melewatkan malam dengan Qiyamullail bersama sisters dari berbagai negara. Asik dan berkesan pastinya bertambah banyak saudari seiman.

Andai tak perlu ada tugas berat itu…

Hhhh...sungguh tugas macam ini selalu kuterima dengan hati gamang, sekalipun dalam bahasa Indonesia. Rasa diri tak pantas, masih banyak khilaf, banyak maksiat, banyak lalai, keikhlasan juga perlu dikaji ulang,.....fiuuh too many weaknesses kalau mau didata satu persatu. Entah, apakah mungkin memang bisikan syaithan yang turut bermain agar langkah dakwahku surut, sebagaimana perkataan suami ketika kuungkap selimut gundah tiap saatnya datang kesempatan menyampaikan sedikit saja dari Kitabullah.

Ba’da maghrib aku mulai bergegas. Benakku berputar cepat siapa gerangan yang akan kuajak dan punya peluang besar untuk bermalam bersama. Tentunya juga bisa memback-up performaku nanti. *Aha...ibu Yessy ! Nama itu langsung muncul di kepala. Beliau yang kuanggap seperti ibuku ini memang sudah terkenal aktif dalam berinteraksi dengan komunitas Muslim di Western Australia. Acara seperti ini pasti tak mungkin dilewatkannya. Tepat dugaanku, bu Yessy dengan antusias dan bersemangat menerima ajakanku. Bahkan setengah berteriak dia bilang bahwa Sister Aminah (sang tuan rumah) adalah sahabat baiknya sejak dulu aktif di MWSC. Oh, ternyata bu Yessy juga salah satu pengurus di sana. Memang rizqi ga kemana ya, meski beliau terluput dalam undangan mereka, nyatanya tetap bisa hadir denganku.

Kami tiba di tujuan sekitar jam 8 malam.

Rumah sister Aminah sangat besar. Beberapa mobil terparkir rapi di pekarangannya.
Di dalamnya, di salah satu ruangan yang difungsikan sebagai musholla, sudah terlihat beberapa wanita melakukan sholat ’Isya berjama’ah. Tenang dan khusyu’.

Setelah selesai mereka menyapa kedatangan kami. Sister Aminah nampak begitu surprise dengan kedatangan bu Yessy. Sister Suryati memandangku riang dan berbisik, ”Alhamdulillah, kamu datang juga Vien.”
Hehehe, dia agak khawatir aku melarikan diri rupanya.

Tak lama kemudian kami melanjutkan sholat tarawih 8 rakaat.
Tiga imam memimpin jama’ah secara bergantian. Mereka masih muda belia. Ada yang hafal, ada juga yang memakai Mushaf. Subhanallah, suaranya begitu jernih mengalir dengan makhroj berlogat Aussie.

Tibalah saat yang membuat jantungku bergemuruh dan mual mulai menjalar.

Kacau...

Ibu Suryati membuka acara dengan suara yang syahdu. Rasa haru  mulai meliputi ku saat itu. Kami duduk melingkar. Tak banyak yang bisa hadir. Ada duabelas orang semuanya termasuk diriku. Kutatap mereka sekeliling : beragam usia, warna kulit, latar belakang keturunan, namun satu keyakinan. Tumbuh rasa takjub di hati melihat kesungguhan mereka berIslam di negeri ini.

Alhamdulillah acara diawali dengan ta’aruf, jadi aku masih punya waktu untuk  menentramkan hati. Mulailah satu-satu mengenalkan dirinya....ada yang asli Aussie, keturunan Indonesia, Cina, Afghanistan, India juga Somalia. Beberapa muslimah muda ada yang masih kuliah ataupun sudah kerja. Dua diantaranya adalah putri Sister Aminah sendiri yang keturunan Cina.

Ingin rasanya kuulur sessi perkenalan itu hingga lebih panjang, namun apa daya saat eksekusi itu datang juga. Saat semua mata memandang kearahku penuh perhatian menanti. Saat aku sendiri lebih banyak menunduk tak mampu menatap mereka kembali.

Oh my…

Dengan terbata aku memohon pemakluman mereka terlebih dulu akan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas.

“Honestly, I’m very unconfident giving this kind of talk to you…because my English is not quite good. But I’m trying to take this opportunity to give a speech in front of you. Just because I think that all of you won’t laughing at me if I make some mistakes then…”

dan sister Suryati dengan jahilnya nyeletuk,

”.....yeah, they won’t laughing at you, but sure do...I will.” 


Sisteeeeeeerrrrrrr please deh !

Kupelototi dia yang ngikik geli diiringi tawa yang lain.

Lumayan agak turun rasa tegang…

So, tetap berbekal naskah 4 lembar yang kupegang erat dengan dalils yang sudah termaktub didalamnya, kusampaikan materi Qiyamullail sambil beberapa kali dibantu oleh sis Suryati dan bu Yessy agar lebih pas menerjemahkan kalimat. Sekitar 45 menit termasuk diskusi sedikit tentang Laylatul Qodr usai sudah. Beberapa sisters yang tak bisa ikut mabit karena besok harus kerja pamit pulang. Waktu saat itu sudah menunjukkan jam 11.30 am, dan kita harus segera istirahat supaya nanti  malam bisa kuat bangun untuk mempraktikkan Qiyamullail secara berjamaah.

**************

Qum !

Bangunlah !

Wahai orang-orang yang berselimut....


Rabbanaa...

Di malam ganjil-Mu kami menghadap

Dalam desah cemas dan harap

Walau berat sungguh mata menatap

Jua payah tubuh menopang tegap

 

Rabbanaa..

Izinkan lelehan air mata jadi saksi

Lantunan kalam-Mu jadi peneguh hati

Di sepertiga malam penghujung bulan suci

Agar langkah kami ringan di akhirat nanti


Rabbanna….

Dengan kerendahan hati kami menguntai do’a-do’a

Bagi diri, keluarga, keturunan, saudara-saudara kami yang tengah berjuang membela agama-Mu, yang tertimpa musibah, yang terdzholimi, yang berada dalam kesempitan hidup, yang sedang lalai serta bagi mereka yang sudah mendahului kami.

Ampunilah segala dosa kami dan berilah kami pertolongan untuk berjuang menegakkan Islam di dalam diri dan di atas bumi-Mu.

Ya Rahmaan Ya Rahiim

Ya Mujiibas saa’iliin

Allahumma innaka ‘afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwaa fa’fu’annaa
birohmatiKa yaa ArhamarRoohimiin.

Allahumma innaa nas aluKa ridhooKa wa aljannah, wa na'uudzubika min sakhotika wa an-naar.


****************

Selama 3 tahun menikmati perguliran malam-malam Ramadhan yang mampir di langit kota ini, dengan izin Allah aku mendapat kesempatan yang mengesankan.

That’s the most unforgetable wonderful night I’ve ever had in Perth during Ramadhan.

Jazakumullah bil Jannah to sister Aminah dan keluarga atas wakaf rumahnya di malam ke-27. Juga pada seluruh sisters yang hadir  semoga Allah senantiasa menjaga keimanan kita untuk tetap kuat menjalankan syari’atNya di manapun kita berpijak. Buat sister Suryati, semangat terus dengan dakwah lewat tarbiyah. Dan buat bu Yessy, selalu kuungkapkan : I love you more and more…

Jika Laylatul Qodr turun pada malam itu, moga kita semua mendapat keberkahan Allah atasnya.

Allahumma amiin.



Al Muzzammil (Surah 73) - Rashid Alfasy




Blog EntryTarget Ramadhan The BoyzSep 1, '08 9:37 PM
for everyone



Semakin dekat hari-hari mendekati Ramadhan, seperti biasa aku kembali mendengungkan petuah nan bijak bestari bagi Umar dan Hamzah, dua bocah laki-laki kucinta itu. Seperti biasa pula Umar menyimak dengan serius dan Hamzah terlihat cuek sambil bermain benda-benda di sekitarnya. Kadang kupikir si bontot ini memang masih sulit diberi pengertian dengan cara ceramah yang mengandung kecerewetan bermutu. *teuteup..* Jadi kufokuskan pada abangnya saja kemudian.
Kami lalu menyusun target bacaan Qur'an yang harus Umar kejar selama bulan Ramadhan.
Ya, minimal dalam sehari dia kurayu agar mampu menyelesaikan setengah juz. Maksimalnya se-juz. Alhamdulillah dia menyanggupi, meski aku harus siaga mengingatkannya tiap waktu sholat (kecuali dzhuhur, karena dia masih di sekolah).

Nah, ternyataa..pada hari pertama kemarin, siapa sangka Hamzah pun mampu menahan lapar dan haus. Meski sahurnya istimewa karena mulai jam 7.30 am, dan di pertengahan hari 'jebol' sedikit dengan beberapa gigitan roti, dia mau menahan lagi sampai magrib tiba. Ummi sampai sorak sorai bergembira, tepuk tangan dan jejingkrakan. *hehe..untung ga sampe ngemil-ngemil*
Ah..ah...rupanya dia mendengar juga petuahku. Ga sia-sia kemarin-kemarin ngomong sampai berbusa-busa di sepanjang jalanan ke sekolah. *kering-kering dah tengggorokan*

Dan hari ini...ya di hari kedua ini, hai orang-orang yang berpuasa, saksikanlah ! *eleuh*
Untuk pertama kalinya Hamzah mau ikutan sahur di waktu yang sebenarnya. Dengan mata mengantuk dia rela kusuapi, sambil main nintendo DS (supaya melek dikit). Memang jika dibandingkan dengan abangnya, yang memulai puasa penuh di usia 4,5 tahun, usia Hamzah yang 6 tahun ini agak sedikit terlambat. Biarlah...yang penting dia sudah mau memulai tanpa banyak rewel dan ngambek. ;)) 

Sebelum berangkat sekolah tadi dia masih bertanya bekal rotinya.
Aku pompa terus semangatnya bahwa dia bisa menahan lapar dan haus seperti kemarin. Sedikit tersipu, dia mengaku lupa kalau sedang berpuasa.

Aku bilang bahwa Ummi begitu bangga pada kemauannya untuk berlatih puasa.
Dan kukatakan, akan ada hadiah banyak menanti karena usahanya.

Dari Allah langsung pun melalui Ummi. InsyaAllah.

Mudah-mudahan kuat ya nak....