ilalang's posts with tag: dakwah
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Betul kiranya dampak seni itu mempengaruhi kenikmatan indrawi seseorang.Coba tengok atau bayangkan deh jika ada lukisan pemandangan alam berupa alur sungai di tengah hutan..dengan pantulan sinar matahari yang menerobos di balik rimbun dedaunan, begitu jernih hingga bebatuan di kedalamannya terlihat. Riak-riak kecil terbaca dalam sapuan kuas yang begitu halus dan indah. Mestilah ada rasa damai dan tentram tatkala menatapnya lekat, biarpun jasad belum pernah mengecap secara nyata. Seni.... sebuah kata yang mengundang imajinasi untuk membuat, menemukan, berkreasi tentang sesuatu materi ataupun pekerjaan hingga terlihat menarik. Menarik disini bukan berarti relatif. Tapi mengikuti fitrah manusia yang secara rasa memiliki kecenderungan sama. Seperti terbuainya telinga dengan kicau burung yang bersahutan di pagi hari, terhiburnya hidung dengan harum bunga, terpukaunya pandang pada keindahan ciptaan-Nya, termanjakannya lidah oleh beragam jenis masakan, dan seterusnya. Anehnya seni seringkali dijadikan objek 'kambing hitam'. Banyak dari mereka yang mengaku pekerja seni berdalih bahwa karya foto dengan obyek 'polos', tanpa busana adalah sebuah karya seni bukan pornografi. Atau goyangan eksotis yang membuat tubuh penonton panas dingin juga disebut sebagai salah satu karya seni olah tubuh. Bagi saya pribadi, sesuatu dianggap 'nyeni' karena memang dia unik dan menyedot perhatian panca indera kita. Bukannya kemudian dengan melihat sesuatu yang 'nyeni' itu hawa nafsu menjadi tidak terkontrol dan imajinasi penikmatnya berkembang sendiri dan kadang lebih liar dari subjek yang dilihat atau dirasa. Lantas apa gunanya seni jika estetikanya tak bisa membawa pikiran penikmat ke arah yang dinginkan si seniman ? Tak mampu menguasai potensi indera manusia menuju estetika yang ingin ditonjolkan ? Oke-lah kalau mereka tetap berdalih, jika saya atau banyak orang di belakang yang protes masalah pornografi dikatakan buta seni. Tapi buat apa karya yang mereka anggap seni itu diumbar di khalayak umum ? Edarkan saja di kalangan seniman yang memper-Tuhankan hawa nafsu. Yang menganggap hal seperti itu sebuah karya seni. Beres kan ? Atau joget aja setengah telanjang di dalam ruangan pub, diskotik dan ruang privat lainnya...Ga usah ngotot tampil di layar kaca buat ditonton oleh berjuta pasang mata, kalau ga mau di sambit sama publik yang dinilai belum melek seni. Akur kan ? Lah ini.... Malah sembrono nyebrang ke ruang publik. Trus koar-koar bahwa ini adalah Hak Azasi mereka sebagai Manusia. Blah ! Emangnya kita bukan manusia...?! Ciih.... *mulai esmosi* Kalau mau dihargain sebagai manusia, maka hargailah orang lain sebagai manusia. Jika ingin dihormati kepentingannya, maka hormatilah kepentingan orang lain. Begitu harusnya aturan main bermasyarakat. Ngomong Hak Azasi tapi ga nge-hormatin Hak Azasi orang lain yang ingin menikmati seni yang sesungguhnya. Seni yang mengundang decak kagum karena keindahannya mengikuti fitrah manusia. Seni yang universal. Nah kalau banyak pihak yang mulai resah dengan tayangan TV berbau mesum, media massa berbumbu esek-esek, tampilan gambar tak senonoh di majalah. Lazimnya sebagai manusia yang berakal, sadar dong kalau aktivitasnya sudah mengusik kenyamanan orang lain. Sudah berdampak negatif pada generasi mendatang. Sudah berhasil merusak mental dan mematikan akal anak bangsa. Sudah sangat mengganggu hati dan pikiran manusia yang ingin hidup tenang dan lurus sesuai garis yang ditunjukkan Pencipta dan Pengatur jagad raya. Kecuali jika mereka yaah..-sori sori aja- itu cuma tubuhnya aja manusia. Tapi otaknya sempit, alias ga mampu berpikir dengan akalnya. Hingga pantas-pantas saja jika derajatnya tak ubah bagai hewan. Bahkan kata ALlah lebih buruk lagi. *Na'udzu biLlahi min dzaalik* Terus, bagaimana makhluq seperti mereka mau diatur RUU pornografi, yang hingga kini masih belum jelas ujungnya, jika aturan Sang Maha Pembuat hukum saja masih diabaikan ? Apa efek buruk menikmati pornografi itu harus berimbas dulu kepada keluarga mereka ? Apa harus didemo terus menerus secara frontal ? Dasar bebal... Hhhh..... *sigh* Emang bener kata temen lama saya yang kini menjabat sebagai ketua Masyarakat Tolak Pornografi, Azimah Soebagijo..."Tidak cukup berkata "tidak" pada pornografi. Kita harus seret dalang-dalang industri pornografi ke meja hijau. Untuk itulah, RUU tentang pornografi penting untuk segera diundangkan". Jadi ga usah bimbang dan pikir panjang lah untuk segera menuju ke sini, buktikan keseriusan kita dalam memberantas pornografi, minimal di negeri sendiri. Sebelum lebih banyak lagi bencana menimpa keturunan kita kelak.
Ditunggu ya sobats.... Kita sereeet mereka ke meja hijau. Lalu di adiliiii....! Kerangkeenngg ! Eksekusiiiiiii ....! *sadistis mode ON* Grrhhh, enaknya diapain lagi ya ??!!
****** Picture taken from here
Catatan ini kurangkai penuh modifikasi setelah menyimak nasihat singkat jelang berbuka puasa di konsulat minggu lalu. Ustadz Abdullah Mu'adz, dalam kesempatan itu, hanya menguraikan beberapa poin dengan banyak ilustrasi bergaya betawi. Pemakaian bahasanya yang lancar dan khas seringkali membuat audience tersenyum geli, tanpa mengurangi sedikitpun pesan yang dikandung. Bahkan bagiku, pesannya langsung menancap tajam di hati dan membuatku tertunduk dalam....... : malu pernah menjadi korban kuasa hawa nafsu.
*************
Ibarat sebuah medan peperangan, Ramadhan menjadi ajang seorang muslim berjuang mengerahkan daya upaya untuk meluluhlantakkan satu musuh utama bernama hawa nafsu. Musuh yang bersumber di tiap diri insan itu memang lebih sering ditunggangi oleh syaithon sebagai provokator kemungkaran setia hingga akhir zaman. Dibisikannya berbagai tipu daya berbumbu indah, sehingga sang hawa larut terseret mabuk dalam pusaran yang seringkali berdampak rasa senang di jiwa. Padahal kesenangan tersebut semu, karena hanya terbaluri oleh nikmat berorientasi nilai-nilai duniawi. Anehnya meski bersifat membius sesaat, si pelaku kerap menjadi candu untuk mereguknya kembali, padahal nurani sudah berkata sebaliknya. Nah, hawa jenis inilah yang jika dalam istilah syari'at dikenal dengan sebutan : Ammarotul bis suu'.
Kembali pada tujuan 'berperang' di bulan suci, supaya kemenangan gemilang dapat kita raih dengan mudah, maka strategi jitu harus dirancang sedemikian rupa demi melibas sang musuh. Salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan mengenal karakter hawa nafsu sendiri. Dengan cara ini diharapkan, kita bisa mengukur sejauh mana daya biusnya mampu mengaktifkan dopamin di otak dan dapat menelikungnya agar tak berkutik. Mengalahkannya dengan telak karena akal dan hati telah bersekutu dalam celupan nur Ilahi.
Dibawah ini ada beberapa sifat hawa nafsu yang mesti dicermati. Dan jika kita simak satu-satu, niscaya terasa betapa kita (eh, saya maksudnya) pernah diperdaya olehnya di waktu-waktu iman sedang lemah dan hubungan dengan Allah dirasa mengendur.
1. Terus meminta, tak pernah berhenti. Contoh yang paling simpel mungkin jika kita belanja kebutuhan sandang, entah baju, sepatu, dan asesoris lainnya, sepertinya selalu saja ingin menuruti trend atau selera mata. Padahal yeng tersedia di rumah sudah lebih dari cukup, tapi belum puas kalau belum memiliki model dan corak terkini.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan seperti ini sebagaimana hewan yang suka menjulurkan lidahnya...
"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." [ Qs. 7 : 176 ]
2. Senang menabrak rambu-rambu Rambu-rambu yang dimaksud bukan hanya syari'at dalam agama, tapi juga mencakup norma universal, bahkan kadang logika juga diterabas. Coba saja tengok kelakuan pemuja seks bebas di dunia. Tidak cukup puas dengan lawan jenis, yang homogen dilirik juga. Bosan dengan sesama, binatang pun jadi sasaran. Na'udzu billahi min dzaalik ! Akal sebagai kendali logika sudah pindah rupanya ke telapak kaki, hingga kelakuan tak ubahnya seperti hewan....Bahkan lebih hina.
3. Mencari berbagai alasan pembenaran. Demi memanjakan hawa nafsu yang terus merongrong, biasanya seseorang sering mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya. Padahal dia sendiri sudah resah dalam kubangan dosa. Sebagaimana sabda Rasul saw, "Bahwa dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan tidak suka jika hal itu diketahui orang."
4. Membuat dalil sendiri Tidak cukup dengan mencari alasan (poin datas), maka dicarilah dalil-dalil dari ayat Allah untuk menguatkan argumennya. Alih-alih terlihat benar, tindakan ini malah membuat seseorang makin terperdaya oleh belitan hawa nafsu. Hati dan akalnya tertutup untuk melihat kebenaran hakiki. (hmm, jadi inget para aktivis JIL..)
"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji , mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui ?" [ Qs. 7 : 28 ]
5. Menungggangi pikiran dan perasaan Ketika hawa nafsu sudah menjadi panglima, maka ia pun bertindak sebagai juru bicara atas semua tindak. Akal dan hati bagai dicocok hidungnya, akan menurut kemana pun nafsu memerintah. Sampai mungkin tanpa sadar ia telah menzhalimi dirinya. Mungkin ia merasa bebas, tak terikat oleh rambu dan aturan agama...namun sungguh sebaliknya ia terkekang oleh hawa nafsu yang memperdayakan akal. Hingga fitrahnya tenggelam dalam kubangan nafsu pekat, tak bisa lagi membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuanNya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya ? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat ? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?" [ Qs.45 :23 ]
6. Bersinergi dengan kelicikan iblis. Sudah barang tentu segala kemungkaran akan diback up sepenuhnya oleh biang musuh manusia, yaitu iblis. Dengan segala kelicikan, iblis akan merayu hawa nafsu untuk terus berpaling pada kesesatan. Dan ia rela menghiasi jalan maksiat agar nampak 'lurus' dan indah. "Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya..." [ Qs. 15 :39 ]
Sobats, begitulah sifat hawa nafsu yang tak terkendali. Ia tak mungkin kita hilangkan dari jiwa. Seumpama api, ia akan membakar dan menghanguskan apa saja yang didekatnya. Namun kita tetap membutuhkan kehangatan api tersebut di kala dingin datang menyengat dan sebagai penerang saat gulita. Demikian halnya hawa nafsu. Ia butuh diarahkan agar sesuai fitrah insani kita. Mendampinginya dengan pengetahuan yang berlandaskan Qur'an dan Sunnah hingga tunduk, rela berbuat apa saja demi kebaikan diri dan ummat.
Moga Ramadhan ini menjadi saksi kemenangan kita melawan hawa nafsu. Alangkah indahnya jika kita termasuk golongan yang dipanggil sang Kekasih seperti ini :
"Hai jiwa yang tenang... Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku."
[Qs. Al-Fajr : 27-30 ]
Allahu 'alamu bishowwab
Sebenernya tulisan ini reposting dari file lama...Lagi iseng benahin sudut-sudut 'rumah', eh ada yang kurang sedep di mata liat tampilan postingan berjudul diatas. Trus, diutak utik kesana kemari malah makin berantakan. Daripada putus asa tak guna, kuposting saja lagi. Memang dicomot dari sini, bukan tulisan pribadi.Namun kusuka betul membacanya berulang kali. Seperti membisikkan sebuah sindiran pada jiwa, yang kerap digugah lalai atau jenuh atau malas atau lupa atau....Whatever-lah tiap alasan itu. Yang pasti ujungnya memang : FUTUR.Jadi.. aku sangat ingin menyimpannya di sini.Mohon dipersori bagi yang pernah mampir dan kasih komen waktu dulu.Moga ga bosen untuk baca lagi dan meninggalkan jejak (lagi). :))********** Mungkin kita hanya sekadar makin sering terlambat. Mungkin juga sekadar sering lupa. Atau cuma sedikit bertambah lalai. Atau mungkin cuma sekadar semakin enteng untuk tidak terlibat. Bisa juga semacam ketenangan dalam kealpaan. Dan tentu kita tidak menyebutnya sebagai futur…. Bisa jadi, kita cuma sedikit malas. Di mana dengannya, dalih kita menjadi agak banyak dan bervariasi. Atau kita hanya semacam sedikit pilih pilih tugas. Ada agak banyak tugas yang kita rasa sudah tidak pantas (lagi) kita kerjakan. Dan kita juga tidak menyebutnya sebagai futur…. Mungkin kita hanya sedikit terganggu. Kita hanya sedikit agak terganggu dalam tilawah, atau dalam puasa atau mungkin lainnya. Sebenarnya tidak berat, cuma sekadar agak sulit menikmatinya. Dan kita memang sulit mendefinisikannya sebagai futur…. Kita mungkin cuma semacam bosan. Atau sekadar ingin melongokkan kepala ke luar sana. Atau kita cuma kaget kecil-kecilan. Atau sedikit silau. Atau bahkan, sedikit lebih ringan daripada itu. Dan sulit bagi kita untuk menyebutnya futur…. Atau kita cuma sedikit tersadarkan. Pada realitas keluarga kita. Anak dan istri kita. Rumah dan kendaraan kita. Sedikit tersadar akan realitas karir kita. Atau sedikit menghitung-hitung realitass sosial kita. Dan tentu saja itu bukan futur…
Bisa juga kita cuma sekadar melihat tikungan sejarah. Ada yang berbeda di depan sana. Dan kita semacam sedang sedikit membuat apresiasi. Atau (paling tidak) semacam antisipasi. Tidak lebih dari itu. (mungkin) itu juga bukan futur… *********** keterangan dikit ajah....[ FUTUR ] secara bahasa : berhenti setelah bergerak atau malas setelah giat.secara istilah : minimal ---> malas atau kurang semangat dalam mengemban amanah dakwah. maksimal ----> berhenti atau diam setelah sebelumnya giat dan aktif.Pernahkah tak ada judul..? aku, kau, dia atau kita ?
Keimanan menjadi penentu bagi tiap mukmin untuk mengoptimalkan ruh ibadah di bulan Ramadhan. Puasa sebagai ibadah utama di bulan suci juga melambangkan kesyukuran kita atas karunia tertinggi Allah itu, yakni : Iman. Rangkaian do'a khusus di bulan Ramadhan yang memenuhi langit dunia ketika kita Shoum hendaknya betul-betul diresapi maknanya. Terutama yang berkaitan dengan harapan untuk kehidupan akhirat. Seperti biasa Taujih Ust. AA, penuh metafora.., berbobot dan selalu menggugah semangat ibadah. Apakah itu Shaum, Sholat, Tilawah, maupun Qiyam. Lagi-lagi terimakasih tak terhingga pada akh Wanda Yulianto, yang begitu rajin mengirimi rekaman Ustadz Abdul 'Aziz. Moga jika ada pahala dari tiap hati yang tercerahkan, niscaya mengalir juga untukmu. JazakaLlah bi ahsanil jazaa...
Nafas Olimpiade baru saja usai. Gegap gempita pesta penutupannya tak kalah meriah dengan ketika pembukaan. Spektakuler, mewah, menakjubkan, megah, fantastis, dan berbagai macam kata heboh lainnya mewakili ekspresi tiap mata yang mengikuti pagelaran besar olahraga sedunia itu. Tiap kontingen atlet berbagai negara kembali pulang ke negeri asal dengan rasa hati membuncah. Barusan di TV lokal, kulihat para pahlawan olahraga tanah aborigin ini disambut PM Kevin Rudd dengan sukacita di Sydney. Wajah mereka nampak begitu sumringah antara menahan haru dan bangga di depan sorotan belasan kamera. Banyak bintang baru bermunculan di Olimpiade kemarin. Prestasi mereka merebut perhatian khalayak seluruh dunia dan mengundang decak kekaguman mulai dari tokoh penting negara bahkan hingga orang-orang awam yang hanya sesekali menengok berita olahraga, seperti diriku. Bagaimana tidak, biar cuma melihat beberapa cabang olahraga yang kunilai cukup seru, dengan melihat stamina para atlet itu nyatanya bisa membuatku merenungkan beberapa hal sambil melamunkan yang tidak-tidak. Mau ikutan ga ? *angkat-angkat alis, senyum penuh rahasia*Salah satu cabang yang membuatku bersemangat nonton adalah atletik, khususnya lari. Menyusul renang di urutan kedua. Mungkin karena kompetisi pada keduanya lebih terlihat, hingga terkadang bikin para pemirsa sok tau ikutan mengerahkan tenaga bantuan dari jauh atau sekedar bersorak sorai memberi support layaknya sodara deket atau tetangga atau sahabat sekampus atau temen sekost atooo.....cuma tahu lewat tipi *lah emang bener*. Maka ada benarnya juga jika dibilang bahwa Pesta Olahraga Sedunia alias Olimpiade adalah salah satu cara untuk menyatukan penduduk sedunia.Terbukti saat lihat lomba marathon untuk wanita, rasanya kok terbawa lelah melihat nafas yang terengah dan tersengal demi menyelesaikan lintasan sejauh 42 km itu. Sambil ikut deg-degan dan cemas kuperhatikan wanita yang memimpin di urutan pertama itu, bukan tergolong muda. Usia 38 tahun, Constantina Tomescu namanya, asal Rumania. Tubuhnya tegap, perutnya kencang dan rata (nah inilah lamunan yang tidak-tidak ityuu..;p), kaki panjangnya mengayun lebar dan mantap. Ia meninggalkan jauh sekelompok pesaingnya di belakang. Melesat seorang diri dengan kecepatan yang stabil. Wuiii....Memiliki stamina yang begitu terjaga, teratur mengatur nafas hingga kuat berlari puluhan kilometer tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Kupikir latihan fisik yang rutin, pasti sudah jadi makanan sehari-hari para atlet itu. Disiplin dan tekun juga salah satu kunci keberhasilan mereka meraih prestasi. Ditambah dengan asupan gizi yang selalu diatur, mereka begitu taat mengikuti instruksi pelatih dan manager agar mencapai kemenangan pada setiap event olahraga. Di negara-negara maju yang telah menjadikan olahraga sebagai ajang prestasi, bahkan telah membibit calon-calon atlet sedari kecil. Pembinaan terhadap mereka begitu intensif dan fokus, sampai mata pelajaran lain di sekolah yang tidak berkaitan dengan jasmani kadang diabaikan. Dan memang hasilnya nyata, banyak dari mereka sukses di arena olahraga. Bukan cuma kepuasan pribadi karena berhasil mengukir nama harum diri dan bangsa jika menjadi pemenang, namun juga kepuasan akan bergelimangnya materi. Dalam-dalam aku merenungi fenomena tersebut.Malu hati melihat kegigihan dan kesungguhan olahragawan/wati itu. Untuk mengejar prestasi dunia saja mereka begitu disiplin terhadap diri. Menahan nafsu dari makanan enak dan banyak, jadual tidur berkurang, tiap harinya hanya diisi dengan latihan dan latihan. Padahal semua itu hanya untuk mencapai sebuah prestasi di dunia. Prestasi yang jangka waktunya terbatas dan sementara. Prestasi yang iming-iming balasannya akan musnah, tak abadi. Sedang sebagai muslim yang tahu betul (yakin malah) akan prestasi hakiki di akhirat, seringkali keengganan untuk berlatih mengendalikan nafsu menempel begitu lekat. Jiwa pun dilanda lalai menepati waktu-waktu munajat dengan Pemberi Award yang sesungguhnya. Belum lagi pelanggaran terhadap syari'at-Nya sebagai pokok peraturan berkompetisi di dunia. *Bersyukur ga kena diskualifikasi sebagai hamba*. Ah, begitu Maha Pengasihnya Allah kita....Hidup sejatinya memang sebuah penantian. Dalam proses menunggu mati itulah kita seharusnya bisa berlatih keras untuk senantiasa tekun dalam ibadah. Ibadah yang berarti mengabdi pada-Nya dalam tiap helaan nafas dan aktivitias rutin kita. Sebisa mungkin pula kita coba berlatih merayu jiwa agar terus bersungguh-sungguh dalam ta'at pada-Nya. Lebih jauh lagi, bila ingin mengukir sebuah prestasi indah di akhirat yang balasannya tak ternilai oleh harta dunia plus berlaku sepanjang zaman, maka upaya menegakkan syari'at Allah di diri menjadi satu bentuk kedisiplinan tingkat tinggi. Melebihi tekad para atlet merebut medali emas di Olimpiade. InsyaAllah, Ramadhan inilah ajang yang tepat bagi kita untuk melatih kendali nafsu.
Jangan mau kalah !************ [ yang lagi kepayahan merayu jiwa jelang Ramadhan...:( ]
Inilah hasil liputan global tentang acara yang pernah saya posting di sini. Secara fisik memang tidak ada keterlibatan saya disana. Hanya terbersit rasa bangga dan kagum pada perjuangan saudara-saudari seiman yang sukses menyelenggarakan event yang cukup besar di negara orang. Alhamdulillah... Semoga acara yang melibatkan banyak pihak itu dapat menjadi salah satu tonggak dakwah Islam yang kian meluas di benua kangguru. Import.flv (11.2 MB)
Seringkali seseorang berkata sambil setengah tertawa, ”Saya belum dapat hidayah”, ketika ditanya mengapa ia tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok. Beberapa teman wanitaku pun berkata malu-malu bahwa ia belum mendapat hidayah untuk menutup aurat dengan istiqomah, walau aku tak pernah menyinggung masalah itu. Atau ada juga yang telah berkecukupan materi untuk berangkat haji, menampik halus dengan jawaban, ”Saya belum dapat hidayah”, pada teman yang menyarankannya ke tanah suci dibanding sekedar liburan berjalan-jalan ke luar negeri. Padahal andai direnungi lebih dalam, bagaimana mungkin hidayah itu datang kalau kita tidak bersungguh-sungguh mencarinya ? Bagaimana seseorang mampu meninggalkan jerat narkoba misalnya, jika ia tak bersikeras menghindari lingkungan yang selalu mengajaknya kesana ? Bagaimana seorang wanita bisa menutup aurat dengan sempurna bila tak terbersit kemauan kuat untuk mematuhi salah satu syari’at Allah itu ? Mengupas masalah hidayah memang cukup berliku. Karena setiap orang melalui pengalaman spiritual yang berbeda dalam menggapai pencerahan untuk hidupnya. Pencerahan yang kemudian mengantarkannya pada jenjang pemahaman dan pengamalan syari’at Allah yang lebih tinggi. Seorang temanku di usianya yang lebih dari 50 tahun menuturkan pengalamannya yang amat berkesan dalam mencari hidayah. Sejak lima tahun terakhir ia mengakui telah banyak perubahan besar dalam hidupnya. Tepatnya sejak ia mengalami cobaan, ketika salah seorang anaknya divonis kanker otak. Awalnya ia bagai orang linglung menerima berita itu. Berbagai terapi pengobatan ia jalani demi kesembuhan anaknya. Hampir saja ia mengambil jalan ke arah perdukunan sebelum akhirnya bertemu dengan seseorang yang menyadarkannya untuk merenungi semua cobaan tersebut dengan rasa ikhlas. Dengan berurai air mata ia bercerita bahwa saat itulah ia merasa hidayah telah berkenan masuk ke hatinya. Hingga ia berusaha mencari hikmah dibalik ujian dan perlahan-lahan mulai mendekat pada Yang Maha Berkehendak. Hidayah, yang istilah itu dulu begitu asing di telinganya ternyata mampu menembus sanubarinya meski di usia yang cukup senja. Padahal sebelum cobaan datang, setiap kenikmatan dunia pernah ia jalani. Sampai ia pun malu menyebutnya satu persatu. Kadang ia berkomentar pendek jika menasehati teman yang masih lalai dalam ibadah, ”Jangan kayak gue, dapet hidayah harus berkorban anak sakit otak dulu.” Begitulah sesuai Sunatullah yang kita temui dalam perjalanan hidup, idealnya segala sesuatu akan datang jika kita berusaha mendapatkannya. Si A menjadi juara kelas jika ia sungguh-sungguh belajar. Si B ingin kaya maka ia bekerja keras dan rajin menabung. Si C selalu terlihat rapi dan menarik karena ia selalu merawat diri dan mengikuti perkembangan mode terkini, misalnya. Bayangkan demi prestasi dunia kadang kita mampu menempuh jalan yang sulit untuk mencapainya. Dan tentu semua hasil jerih payah itu memang tak lepas dari kehendak Allah. Namun adakah satu usaha untuk benar-benar mengikuti apa yang Allah inginkan dari kita ? Jadi ingat, beberapa bulan lalu datang beberapa teman dari team ESQ Indonesia untuk mengadakan penjajakan (preview) sebelum training sesungguhnya bulan Agustus nanti di Perth. Berbagai organisasi dari komunitas Indonesia atau Malaysia diundang menghadiri acara ini secara gratis. Namun begitu selesai acara, banyak yang berkomentar sedikit skeptis tentang traning tersebut. Mereka membayangkan betapa mahal biaya yang harus dikeluarkan hanya demi sebuah pelatihan kepribadian dan spiritual. Tak pantas rasanya bila dakwah Islam mesti dijual dengan harga yang relatif tinggi. Apalagi isi acara itu kurang lebih tak ubahnya malam renungan pada acara orientasi Islam di masa sekolah/kuliah. Kendati dari hasil survey, training tersebut setidaknya banyak membawa pencerahan baru untuk berkehidupan lebih agamis bagi pesertanya, mereka yang menolak ikutan rata-rata berdalih bahwa hidayah akan pengetahuan Islam telah cukup didapat dari berbagai bentuk pengajian lain. Dan merasa tidak harus mengeluarkan biaya yang begitu besar hanya untuk ikut training yang dikemas secara Islami. Aku hanya tercenung mendengar argumentasi yang terasa dangkal. Bila ada waktu luang dan materi yang cukup, mengapa tidak kita sisihkan untuk sebuah momen yang jelas-jelas menawarkan perbaikan bagi pribadi ? Sementara kita tak pernah pikir panjang untuk membelanjakan harta pada sesuatu yang bersifat duniawi. Sedang hidayah yang kita duga sudah diperoleh pun akan pudar jika tak dipelihara dengan serius, yang salah satunya dengan mengikuti berbagai kegiatan yang meningkatkan iman. Bukankah kita tak pernah tahu dari pintu mana hidayah itu datang jika begitu banyak alasan untuk membuka pintunya ? Mungkin kita harus menyempatkan diri untuk bertanya pada jiwa... Jika kau merasa telah sampai hidayah atasmu, bagaimana caranya engkau mendapatkan karunia tak terhingga itu ? Apakah dengan pengorbanan menukar kesenangan dunia ? Apakah harus melewati cibiran dan pandangan sinis orang di sekitarmu ? Apakah harus dengan susah payah menanggalkan kebiasaan buruk yang menyenangkan hati ? Apakah harus menguras separuh lebih harta kekayaanmu ? Apakah dengan musibah yang menimpa keluarga atau dirimu sendiri ? Ketahuilah bahwa setiap jerih payah raga pun batin dalam menemukan hidayah akan dibayar kontan oleh-Nya. Oleh karena itulah ia begitu mahal dan berharga.
Dan terakhir, bila benar-benar telah kau rasakan manisnya hidayah di relung.. jaga dan siramilah dengan amal ibadah yang rutin. Sungguh ia bukan hanya karunia terindah dari Allah. Tapi juga termahal. Karena segala pengorbanan dalam menggapainya hanya bisa terbeli dengan surga. Allahu'alamu bishshowab.
"Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin. Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." [ Qs. Al-Isra' : 19 ]
| Start: | Aug 9, '08 | | Location: | Sydney |
Dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan sekaligus menunaikan program kerja tahunannya, PIP PKS ANZ akan mengadakan event yang cukup besar guna merintis komunikasi dan silaturrrahim kepada pihak-pihak yang belum mendapat informasi yang benar tentang Islam maupun tentang Bangsa Indonesia itu sendiri. Diharapkan pula agenda ini dapat meningkatkan interaksi sosial diantara masyarakat Indonesia yang bermukim di Sydney pada khususnya atau yang tersebar di beberapa state lain di Australia pada umumnya. Bertempat di Paul Keating Park, Bankstown, secara garis besar acara tersebut akan dibagi menjadi dua sessi : I. Sesi Seminar (Indoor) : 9.00 – 11.00 am Seminar dilakukan di Bankstown Town Hall, dengan pembicara : - Muhammad Kasuba, MA – Bupati Halmahera Selatan - Dr.Greg Fealy – Fellow and Senior Lecturer, Indonesian Politics, ANU. - Prof.Dr.Arief Budiman – Head of Indonesian Studies, University of Melbourne. Tema : “Peran Organisasi kemasyarakatan dan politik dalam pemberdayaan potensi keberagaman di Indonesia serta sebagai fasilitator Sumbangsih Anak bangsa di Luar Negeri”. II. Sesi Pagelaran Budaya & Food festival (Outdoor) : 11.00 am – 16.00 pm Acara dilakukan di Paul Keating Park, dengan beberapa atraksi diantaranya : - Pentas tarian dari Minang, Aceh, Palembang, Sunda, Halmahera Selatan. - Lomba Pakaian Daerah utk anak-anak. - Orasi budaya oleh Prof.Adrian Vickers (Sydney Uni) - Live Performance : Dik Doank. - Sekitar 20 stall makanan khas Indonesia akan dijajakan pada sesi ini. Dalam rangka mensosialisasikan dan mencitrakan PKS secara positif di tengah masyarakat Sydney yang majemuk, dengan tetap menjaga nilai-nilai Islam, akan dilakukan pula penjajagan proses komunikasi antara bupati Halmahera Selatan – M.Kasuba dengan Mayor Bankstown – Mrs.Tahnia Mihailuk. Disamping itu, akan diusahakan pula Mayor Bankstown City Council untuk membuka acara Indonesia Day ini. Secara umum, PIPPKS telah melakukan konsultasi dengan pihak Dewan Syariah Pusat terkait dengan batasan-batasan yang perlu diketahui dalam mengatur acara yang bersifat heterogen seperti ini. Diantara ketentuannya adalah sebagai berikut : - Minuman keras dan babi haram untk diperjualbelikan. AlhamduliLlah sejauh ini pihak panitia melaporkan bahwa makanan yg dijual adalah halal. - Pengadaan Pentas Seni tidak menampilkan sesuatu yg berhubungan dengan ritual keagamaan. Tarian dilakukan oleh laki-laki dengan menutup aurat. Untuk penari perempuan secara hukum asal tidak diperbolehkan, walaupun dalam beberapa kondisi, diperbolehkan, tetapi tetap harus benar-benar menutup aurat. Namun sejauh ini pihak panitia memberikan informasi bahwa belum ada penari perempuan yg akan tampil. Sayang sekali saya tak bisa menghadiri acara tersebut karena kendala dana dan waktu. Bagi sobats yang punya rencana ke Aussie, berkunjunglah ke sana. Atau mungkin bisa membantu menyebarkan informasi ini pada rekans yang berdomisili di OZ dan sekitarnya. Mari kita do'akan bersama agar setiap urusan mulai dari proses menuju, saat berlangsung sampai kegiatan tersebut usai, selalu dimudahkan oleh Allah swt. Hingga tercapai tujuan dakwah di balik esensi setiap programnya. Allahumma amiin. PS : Beberapa promosinya bisa dilihat di Sini atau di Sini
Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. An-Nahl : 98)
Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan syaitan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al-Qur’an. Godaan itu antara lain: - Waswas syaitan bagi pengajar Al-Qur’an.
Godaannya adalah “Berhentilah mengajar Al-Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!” Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al-Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila tiap pengajar tunduk dengan waswas tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki sesungguhnya hanya Allah Swt, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar Al-Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara 2 hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah Swt dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.
- Waswas syaitan bagi pembaca Al-Qur’an.
Godaannya adalah menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul waswas perasaan sudah terlalu lama bersama Al-Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain. Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada wakut untuk tilawah Al-Qur’an. Sebagai solusinya, carilah jawaban dari dalam diri sendiri, contohnya: - Kita kecam diri sendiri: “Mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup sedangkan untuk bertilawah Al-Qur’an tidak ada waktu?” Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada-tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?
- Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?” Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan memandang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah Swt kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al-Qur’an.
- Waswas syaitan bagi penghafal Al-Qur’an.
Godaannya adalah bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal. Sebetulnya hanya satu keinginan syaitan: “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al-Qur’an!” Sebagai solusinya, antara lain: - Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?” Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:
- Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi bentuk taubatannasuha kepada Allah Swt.
- Ingin mendalami agama Islam lebih jauh, sesuai ungkapan salafush shalih: “Tidak disebut seorang itu alim kecuali jika ia telah hafal Al-Qur’an.”
- Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.
- Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al-Qur’an dan mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.
- Waswas syaitan bagi orang yang memahami Al-Qur’an.
Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tasfir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al-Qur’an. Beberapa solusinya antara lain: - Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al-Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al-Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al-Qur’an karena tiap kegiatan ada fadhillah-nya.
- Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku. Misal dalam satu pekan tiap hari tilawah, tiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja. [ Ust. Abdul 'Aziz Abdur Ra'uf, Lc, Al-hafizh ]
" Ya Allah, jangan palingkan hatiku dari kitab-Mu dan jangan Kau biarkan lidahku berat untuk membaca dan menghafalkannya......" *picture taken from : google*
Setiap aku melihat seorang yang -cenderung- renta, menyapu jalanan atau membersihkan fasilitas umum dengan rutin dan tekun, aku merasa kagum pada keikhlasannya. Terngiang perkataan suami, ketika ia mengomentari seorang kerabat yang berprofesi sebagai Ustadz yang kerap berkeliling dengan sepeda dari kampung ke kampung. Ustadz tersebut menderita albino sehingga memiliki penglihatan yang sangat kurang tajam, karenanya ia harus bersepeda super lambat dan hati-hati. "Mungkin dia tidak terkenal di dunia, tapi bisa jadi begitu populer di kalangan penduduk langit", komentar yang singkat namun cukup menyentil batinku.
******* Dalam pikiranku, tiap insan yang memiliki kecenderungan bergaul dan memperluas jaringan kekerabatannya dalam satu komunitas di ruang lingkup tertentu, cukup menjadi pemicu yang membuatnya rentan terjangkiti virus popularitas. Semakin banyak dikenal orang, semakin hati membuncah ingin terus menjaga kelestarian pamor dan memperluasnya jika mungkin. Angin bangga diri meniup makin kencang ketika sesuatu yang ditonjolkan telah menyedot perhatian orang banyak dan menjadi buah bibir yang sering diperbincangkan dari waktu ke waktu.Karena itu, demi mendongkrak kesan yang sudah dibangun pada benak publik tentangnya, segala bentuk keunikan gaya hidup, prilaku, karya tulis, tutur kata, ataupun asesoris dalam penampilan, senantiasa diasah agar dapat tampil berbeda dari kelaziman. Kenyataan ini tak dipungkiri telah menjadikan popularitas sebagai sesuatu yang didamba bagi mereka yang banyak berprofesi di depan layar. Dengan kata lain, sebagai orang yang memiliki kapasitas amal atau ilmu tertentu yang mengharuskannya lebih sering tampil di muka khalayak.Salah satu contoh yang paling mudah untuk melihat gejala penyakit ini adalah pada mereka yang berkecimpung di dunia hiburan. Di dunia entertainment, dimana kepopuleran suatu hal yang dicari dan sangat melekat pada pelakunya telah memotivasi para artis pujaan dalam mencari sensasi. Melalui hal-hal kecil seperti cara berpakaian, gaya bicara, model rambut, koleksi barang-barang antik, sampai rela melakukan hal yang berdampak merugikan diri sendiri seperti bergonta-ganti pasangan, bercerai, berselingkuh, terjerat kriminalitas atau narkoba dipublikasikan begitu gencarnya di setiap media. Bahkan kadang berita itu direkayasa sedemikian rupa demi menaikkan rating ketenaran yang sudah diincar.Taraf ini mungkin bisa dikategorikan kronis, karena sudah tak peduli lagi oleh rasa malu hingga meraih popularitas lewat pengumbaran aib pribadi. Di kalangan yang lebih menonjolkan kadar intelektualitas, pun mewabah.Tak kurang tokoh sosial, politik, ekonomi, budaya, termasuk agama, dapat terserang candu popularitas ketika ide atau opini mereka terekam oleh media dan diapresiasi masyarakat. Tak peduli apakah sambutan hangat ataupun cibiran sinis, yang penting namanya terlibat dalam perbincangan terkini. Titel pun mulai disemat di depan nama demi menjaga citra muatan kecerdasan (baca : IQ), sebagai bukti terhadap wewenang ilmiah yang dimiliki. Terkadang deretannya begitu panjang, hingga menenggelamkan nama si pemilik gelar sendiri : Prof. Dr. dr. H. Fulan bin Anu, Msc. MBA. SH. ST. (ck..ck..kalo kurang tambahin sendiri deh, yang pasti tinggal nambah satu lagi yaitu: Alm. ;p*)Semakin runyam kemudian ketika virus ini dengan semena-mena hinggap pada mereka yang kerap dijuluki Aktivis Dakwah atau lebih kita kenal dengan Da'i.Seorang aktivis dalam benak kita tentulah orang yang harus selalu aktif dalam menjalankan roda hidupnya. Bila dikaitkan dengan kata Dakwah, maka setiap aktivitasnya mestilah diupayakan agar selalu berlandaskan nafas dan semangat menebar nilai-nilai Islam di setiap segmen kehidupan masyarakat sekitarnya. (Oh, heroik sekali kedengarannya...) Keadaan ini tentu membuat para da'i harus tampil sebagai penggerak bagi tumbuhnya motivasi beramal sholih, minimal di lingkungan sekitar. Dimana ia harus menjadi contoh pertama yang memang layak untuk diikuti. Betul ga ? :)Nah, disinilah timbulnya celah si bibit virus popularitas berkembang biak. Dalam konteks istilah agama, virus ini mungkin identik dengan Riya'. Salah satu penyakit hati yang ditakuti karena dapat 'membumihanguskan' amalan karena sifatnya samar dan sulit dideteksi oleh penderitanya sendiri. Begitu bahayanya dampak Riya', Rasulullah saw sampai memberi 'warning' bagi para sahabat dengan bersabda : " Yang paling aku takuti menjangkiti kalian adalah syirik kecil, yaitu penyakit riya' ". Karena ia mampu menyelusup halus, merayap menguasai hati, mecairkan ikhlas dan memusnahkan pahala. Ibarat semut hitam yang berjalan di batu hitam di malam yang gelap gulita. Siapakah yang bisa melihat keberadaannya kecuali Allah swt ? Siapa yang tidak bergidik ngeri membayangkan kemungkinan susah payah kita memberi kebaikan pada orang lain hangus tak berbekas karena ulah hati yang jumawa ?Maka jika seorang da'i sudah terpedaya dengan virus popularitas tadi, bukan tidak mungkin yang ia dapat adalah memang ketenaran di mata penduduk bumi. Setiap lapisan masyarakat mengenalnya, harum namanya di seantero jagad...namun ternyata penduduk langit enggan menyapanya. Bahkan mengetahui keberadaannya pun tidak. Sungguh menyedihkan bukan ?Alangkah amat jauh ketertipuan atas bangga diri terhadap popularitas semu. Alangkah besar kerugian kita disisi Allah. Berjuang dengan dalih menegakkan agama-Nya, namun cuma catatan kosong yang kita hadapi di akhirat. Na'udzu biLlahi min dzaalik.Sobat, tulisan ini bukan dibuat untuk menafikan nilai-nilai baik yang sudah seharusnya ditebar bagi kebaikan ummat, tapi lebih kepada ajakan untuk selalu mewaspadai bibit riya' yang bisa merontokkan benih amal yang kita tabung sebagai bekal menuju kampung keabadian. Aku dan kalian mungkin saja terkena virus ini. Mewaspadainya sambil beramal sholih itu harus. Mencermati hati agar tidak mudah terlena dengan kepopuleran itu perlu. Mengagumi pekerjaan mereka yang mungkin di mata umum termarginalkan dan dianggap remeh, itu bisa jadi mengasah mata batin kita untuk kembali berada pada jalur keikhlasan. So, tinggal pilih..ingin populer di dunia atau di langit ?Allahu'alamu bishshowab.
Sepotong kalimat diatas selalu saja terbersit di kepalaku ketika menjumpai satu noda jama'ah. Mirisnya noda itu kadang diriku jua yang membuatnya. Keterpurukan, keberpalingan, kelalaian, kerap melingkari aktivitas seorang da'i yang bagaimana pun adalah manusia biasa. Godaan duniawi yang bertubi-tubi dahsyatnya seringkali dengan kejam merenggut syu'ur seorang ikhwah. Setelah jerih payah membangun karakter dalam kurun waktu yang tidak singkat, jatuh bangun dalam kancah dakwah baik berjama'ah maupun fardhi, ada saja yang kemudian berhenti di tengah jalan, berpaling pada jalan yang lebih ringan atau bahkan hanyut terbawa arus zaman.
Masih segar di ingatan, ketika aku memutuskan untuk mulai berbenah diri. Beberapa belas tahun lalu, dalam suasana penuh romantika masa remaja. Bergabung dalam sebuah majlis ilmu sepekan sekali yang diberi istilah “tarbiyah”. Begitu eksklusif dan berkesan keren bagiku, karena jumlah pesertanya yang terbatas. Meski diri masih compang camping dalam penampilan, lisan masih tak terkendali dan adab pergaulan dengan lawan jenis tak dipatuhi. Tak jarang kami begitu nampak alim sepulang tarbiyah, namun esok hari bagai menguap seluruh norma dan kaidah yang ditanam di benak kami sebelumnya.
Tapi rutinitas itu dengan tekun tetap kuikuti. Ada sebuah bisikan dalam hati bahwa aku harus selalu ada dalam kegiatan tarbiyah ini. Entah sampai kapan. Entah dimana aku berpijak. Keyakinan bahwa inilah salah satu kegiatan yang sangat berperan dalam menjaga iman muncul begitu saja. Demikian awalnya keterikatan itu mulai terjalin. Sepekan sekali mengisi ulang ruhani, menambah wawasan, menjalin silaturrahim serta berusaha menepati amalan yaumiyyah. Perlahan tapi pasti waktu mulai menunjukkan perubahannya padaku. Dari berpenampilan sekenanya menjadi lebih rapi dan tertutup. Dari sekedar mengetahui ilmu agama, menjadi paham. Dari sekedarnya dalam beramal ibadah, menjadi bergairah dalam menambah amalan sunnah. Dari mengikuti menjadi terlibat. Dari dinasehati kadang berubah peran sebagai penasihat. Menjadi mad’u sekaligus da’i. Hey, bukankan kita semua adalah da’i sebelum menjadi sesuatu ?
Sedikit tapi pasti, grafik tsaqofah beranjak naik. Ruhiyah yang tak stabil mulai dijaga untuk tidak terlalu anjlok. Kulihat saat itu aku tidak sendiri. Aku bagaikan sekeping mozaik dari kumpulan jama’ah yang beraneka warna. Begitu kau mampu melihat keindahan yang akan terpancar dari bentuk kesatuannya, maka kau tak ingin melepaskan diri dari kumpulan itu. Saat itulah kita akan dengan rela memperjuangkan integritas kita sebagai muslim. Kerelaan yang berpijak kokoh pada landasan cinta terhadap Rabbul ‘Izzati.
Namun tidak ada perjalanan yang selalu mulus rupanya. Perjalanan dakwah yang berliku dan penuh duri seringkali membuat sang musafir kepayahan. Fenomena cairnya militansi berislam mulai merambah di era mu’assasi. (baca: berpartai). Banyak fakta di lapangan menunjukkan bahwa semarak dakwah di negeri ini pada era 80 hingga 90 awal sudah sulit dicari nuansanya. Meski secara kuantitas pertumbuhan gairah beragama meningkat pesat, namun kualitas seperti mereka yang berhijrah di tahun-tahun sulit masih segelintir saja. Sungguh ini bukan mengekploitasi fakta sobats…Tapi dalam ketertegunanku menatap barisan ini, aku mendapati(ku) dan mereka, mulai terbiasa tarik menarik dengan zaman. Tarikan itu kadang sedemikian kuat sehingga mampu menguras isi hati, melenakan akal, dan mengaburkan pandangan. Lunturlah kemudian militansi yang mestinya kita mampu mengejarnya dengan upaya yang maksimal. Seharusnya kita memang harus merasa bersalah jika proses pendakian tangga militansi itu terhenti bukan karena kita tidak mampu, tapi hanya karena kita tidak sungguh-sungguh menggapainya.
Dibalik itu semua, ada satu hal penting yang aku renungi dan camkan dalam hati yang terpatri hingga kini. Menyusuri jalanan yang pangkalnya jauh sedang ujungnya belum tiba ini bukanlah mudah. Jatuh bangunnya kita mestinya bukan menjadi penghalang dalam melaju pasti. Aku memang bersama jama’ah manusia, bukan jama'ah malaikat. Noda-noda itu pastilah melekat. Tapi sekali lagi, satu yang bisa membuatku tegak. Yaitu kalimat pada judul diatas. Karena itu, izinkanlah aku menyempurnakan kalimat Syaikh Musthafa Masyhur tersebut, bahwasanya…
“Tarbiyah memang bukan segala-galanya, tapi segalanya berawal dari Tarbiyah.”
Tiap menyimak Ust. Anis Matta berceramah (tentang materi apapun), selalu saja membuat telinga berdiri. Stand by dari awal hingga akhir kalimat, bagaimanapun kondisinya. Seperti kumpulan ikan di kolam yang bersiaga menerima lemparan remah dari pengunjung di tepian. Berlomba ingin mendapat kebaikan dari sebuah momen. Muatan materi yang disampaikan beliau selalu terasa hidup, mencerdaskan, memotivasi, segar dan membuat pencerahan baru. Mengulang-ulangnya bahkan tidak berkesan basi, atau membuat bosan. Dalam rekaman berdurasi kurang lebih 35 menit ini, Ust. Anis menyampaikan beberapa urgensi bedakwah di kalangan elit dan profesional, sebagai salah satu fondasi yang signifikan bagi pembentukan struktur masyarakat Islam. Dimana melalui kalangan ini, prospek bagi kemulusan jalan dakwah dapat terbentang lebih luas nantinya. Ada beberapa poin yang penting diperhatikan oleh mereka yang mengaku Du'at. Bahwa keikhlasan adalah modal utama dan tak dapat diganggu gugat itu pasti. Tapi satu hal lain yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai sekali-kali terjerumus dalam transaksi keuangan dengan kelompok elit. Karena inilah celah besar yang mempengaruhi posisi para Da'i nantinya. Well, just listen and action ! Nahnu Du'at Qobla Kulli Syaiin. PS : Jazakallah untuk akh BenQ, atas sharing playlist-nya..:) | Tarbiyah Islamiyah di kalangan profesional dan elit | | | | | |
|  | "Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya." (Qs.Al-mu'minuun:1-2)
"Wahai orang-orang yang beriman ! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuat baiklah agar kamu beruntung." (Qs. Al-Hajj : 77)
"Wahai orang-orang beriman ! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah: 153)
"Yang pertama-tama diperhitungkan terhadap seorang hamba di hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang sholatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya buruk, maka ia kecewa dan merugi." (HR. An-nasa'i, At-turmudzi)
"Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya bila sujud sekali saja Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu." (HR.Muslim)
"Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia kafir terang-terangan." (HR. Ahmad)
Bagaimana dengan kualitas sholat kita ? |
Link: http://www.pakdenono.com/home.htmIni salah situ situs yang menurut saya didalamnya cukup banyak terdapat E book Islam dan download CD or VCD gratis. Hanya bisa mendo'akan bagi si pemilik, moga amalnya menyediakan sarana ilmu bagi orang lain dibalas dengan kebaikan berlimpah oleh Allah SWT.
Silakan menjelajahinya dan mengambil yang bermanfaat untuk 'amar ma'ruf nahi munkar.
“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk hati mereka karen keingkaran mereka. Maka sedikit sekali mereka yang beriman.”
(QS Al-Baqarah [2]:88) Sikap suka memvonis diri bertolak belakang dengan tawadlu untuk membuka diri terhadap dakwah. Ketika dakwah Rasulullah ditanggapi kaum Yahudi dengan “Saya tidak mungkin mampu menerima da’wah ini, karena hati saya sudah tertutup” berarti mereka bukan saja jauh dari hidayah Al-Qur’an bahkan Allah Swt melaknat sikap kufur tersebut dan mereka jauh untuk menjadi manusia yang beriman. Berinteraksi dengan Al-Qur’an, apapun bentuknya - bertilawah, menghafal, mentadabburkan, mengajarkan atau memahaminya - tanpa didukung oleh keimanan yang memadai akan menyebabkan jiwa merasa berat, susah, repot, dsb. Keimanan yang telah Allah karuniakan kepada kita hendaknya dijadikan modal utama untuk dapat hidup bersama Al-Qur’an. Ungkapan-ungkapan bernada pesimis yang keluar di alam bawah sadar kita akan menjadi suatu vonis yang “mematikan” dan menjadikan diri kita berada di dalam kondisi kelemahan total. Jangankan untuk melakukan upaya berinteraksi dengan Al-Qur’an, sekedar keinginan saja tidak mungkin terjadi dalam diri kita sekalipun kita sudah beriman. Kita harus optimis dan membantah ungkapan-ungkapan tersebut agar keluar dari kungkungan ketidakberdayaan diri yang sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri. Berikut contohnya: - Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih tidak bakat”
Berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan masalah bakat atau tidak bakat. Ia adalah kebutuhan hidup orang beriman, sebagaimana tubuh butuh makan, minum dan tidur. Bakat biasanya berkaitan dengan keterampilan seperti menjahit, atau olah raga seperti juara bulutangkis. Mustahil kalau kita tak siap shalat 5 waktu dan tidak shaum karena alasan tidak bakat. Permasalahan sesungguhnya biasanya terkendala oleh pola pikir yang salah sehingga menghasilkan penyikapan yang salah pula. - Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih memang ditakdirkan gak bakalan mampu menghafal”
Takdir adalah kehendak Allah Swt. Dari mana kita tahu bahwa Allah Swt telah menghendaki kita untuk tidak dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an? Kalau hanya dari perasaan, itu artinya berburuk sangka kepada Allah Swt. Seharusnya syaitan yang kita jadikan kambing hitam, dan kita berlindung kepada Allah dari godaan syaitan. Atau kemungkinan lain, karena kita terlalu banyak dosa dan jiwa kita terlalu jauh dari kesucian. Jika itu penyebabnya, bertaubat dan mohonlah ampunan kepada Allah Swt. Lengkapilah dengan banyak berdzikir dan beramal shalih agar Allah Swt memberi kekuatan kepada diri kita untuk bisa mengatasi rasa malas, futur dan tak bergairah terhadap Al-Qur’an. - Bantahan terhadap vonis diri: “Bagaimana mungkin orang seperti ana yang sibuk seperti ini bisa menghafal Al-Qur’an”
Allah Swt menciptakan manusia dengan dibekali kemampuan yang sangat luar biasa untuk beradaptasi terhadap kehidupan. Artinya, sesibuk apapun kita, kalau kita mau dan bertekad kuat, insya Allah kita bisa melakukannya. Sudahkan kita mengakui bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini? Kalau jawabannya ‘ya’ tetapi kita belum melakukannya artinya ada ketidaksesuaian antara hati dan lidah, entah hati yang berbohong atau lidah yang tak jujur. Kita pasti akan menyempatkan diri untuk sesuatu yang kita anggap penting. Kalau menunggu “kalau sempat”, syaitan tak akan pernah membiarkan diri kita untuk sempat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kitalah yang harus menyempatkan diri, minimal 40 menit dari 24 jam per hari agar kita bisa khatam tiap bulan sekali. Kalau kita mengakui kebenaran bantahan di atas, mulailah dari sesuatu yang paling mudah untuk dilakukan. Misal tilawah 5-10 halaman per hari, menghafal 1-1/2 halaman per pekan. Lalu perbanyaklah doa agar Allah Swt menolong kita untuk mampu dan bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan pola yang sebaik-baiknya. Semoga Allah Swt. melindungi kita dari hati yang dikunci mati karena kekafiran. Sumber : 17 motivasi berinteraksi dengan Al-qur'an, Ust.Abdul 'Aziz 'Abdur Ra'uf, Al-hafizh
Link: http://perisaidakwah.com/content/view/62/1/Bukanlah orang asing itu yang berpisah dari negerinya. Tetapi orang asing itu adalah orang yang melihat manusia di sekitarnya bermain-main, ia membangunkan manusia sekitarnya yang tertidur, dan ia di atas jalan kebaikan ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan. Benarlah perkataan penyair, ketika ia berkata:
Seorang sahabat berkata, engkau terlihat asing ..... Di antara manusia, engkau tidak memiliki kekasih ....... Aku berkata: sekali-kali tidak, bahkan manusia itulah yang terasing ..... Aku berada pada duniaNya dan mendapat petunjuk di atas jalanNya ...... Demikianlah orang terasing. Orang terasing di sisi manusia ia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka.
[Syaikh Al Ghamidi]
Postingan dari saudara seiman di sebuah milis, menyentil dan cukuplah menambah energi baru dalam jalan panjang nan berliku bernama dakwah ini... Ada seorang bapak yang bisa betah berjam-jam mengutak-atik mesin sebuah mobil, bahkan tidak jarang waktu weekend dia habiskan untuk memenuhi berbagai permintaan rekan-rekannya untuk membetulkan mobil-mobilnya. Atau seorang ibu yang begitu senangnya membuatkan makanan tertentu, apakah itu donat, sayur asem, atau spring roll, untuk kemudian dibagikan kepada teman-temannya. Atau ada juga seorang designer yang rela bekerja sampai larut malam bahkan sering over time tanpa disuruh atasannya, demi selesainya sebuah project. Ada sebuah kepuasan, ada sebuah kebahagiaan yang dirasakan oleh si bapak, si ibu ini atau si karyawan ini, ketika melihat mobilnya kembali normal, atau makanannya habis ludes tak tersisa atau designnya sukses dipamerkan. Ya, puas, senang dan bahagia. Kepuasan untuk memberi, kesenangan untuk membantu dan kebahagiaan untuk mencipta .. Ya Ikhwati ... Islam dengan segala kesyumuliyahan dan ketakamuliyahannya, ibarat sebuah pesawat superjumbo tercanggih yang siap landing ke sebuah landasan pacu yang kokoh. Landasan pacu itu harus dibuat dari kontruksi beton yang handal yang mampu memikul beban pesawat yang demikian beratnya. Beton yang bahan campurannya sempat dikorupsi, atau yang ketika pencetakannya kurang dari lama waktu yang seharusnya, dipastikan akan hancur, minimal mengalami retak dan berlubang ketika sang jumbo jet tersebut mendarat. Para kader tidak ubah ibaratnya bagai landasan pacu tersebut. Dipundak merekalah bangunan Islam ini akan ditegakkan. Kita semua disatukan dalam jama’ah ini adalah dalam rangka untuk saling berbagi beban da’wah yang semakin hari semakin berat. Merancang dan mengevaluasi program kerja, mengelola struktur dan wajihah, mencetak binaan yang muntijah, mengantisipasi tarbiyah anak kader, melayani permintaan ceramah diluar belum lagi meng-ishlah permasalahan pribadi kader atau sesama kader adalah sekian dari beban-beban yang perlu dishare bersama. Sebagaimana sang bapak dan ibu diatas yang bisa bertahan untuk terus menerus melakukannya bahkan tidak jarang justru sudah sampai kepada tingkat mencari – mencari siapa sekarang yang harus saya bantu, mencari siapa sekarang yang harus saya beri, SubhanaLlah .... maka sesungguhnya seorang kader lebih layak dan sangat perlu kepada yang disebut passion ini. Passion yang dimaknai sebagai seperangkat perasaan atau emosi yang senantiasa menggelora dikarenakan adanya rasa nikmat, suka, dan cinta akan sesuatu. Kita bisa bayangkan, jika seorang kader memiliki passion dalam dirinya, niscaya keinginannya untuk memberi, kemauannya untuk membantu, semangatnya untuk berkontribusi akan begitu terpancar dari sorot matanya dan dari tutur katanya serta perilakunya. “ Akhi apa yang saya bisa bantu !”, “Sini, biar ana saja yang kerjakan!”, “Sudah antum istirahat saja, sekarang gantian ana yg antar” “ Afwan, ana tidak pandai merangkai kata-kata, tapi kalau kerja lapangan, ana ahlinya !” adalah sebagian kecil perumpamaan akan adanya energi dalam diri yang meluap-luap yang lahir dari sebuah passion kepada da’wah ini. Atau bisa juga berbentuk inisiatif-inisiatif melakukan aktivitas yang tidak atau belum pernah terfikirkan oleh struktur tetapi tetap sesuai dengan sasaran umum da’wah. Ikhwati fiLlah ... Khawatirilah, bahwa tanpa adanya passion ini, kita hanya akan menjalani kehidupan bersama da’wah ini sebagai sebuah beban, dan keterpaksaan, tidak jarang justru menjadi beban tersendiri bagi jama’ah ... Diminta laporannya lupa atau tidak sempat, bekerja kalau ada komando, rapat kalau ada waktu, pertemuan selalu terlambat, diberi amanah selalu pas-pasan, buka email terkadang seminggu sekali, mau telepon nggak punya pulsa, ditugaskan mengantar jalannya nggak tahu.... Kalau meminjam komentar seorang ustadz, “ Apa yang bisa dibangun dari sesuatu yang sisa seperti ini .... ? “ sisa waktu, sisa tenaga, sisa pikiran. Ikhwati fiLlah ... Sudah saatnya kita mendewasakan diri kita dalam berjama’ah ini. Da’wah ini memerlukan kreativitas dan pro-aktivitas kita dalam bekerja. Berilah yang berlebih kepada da’wah ini. Jika ada sebuah amanah, tawarkan diri ini, dan bantulah kepada mereka yang telah terlebih dahulu membuat kebajikan. Cukuplah kisah Hud-Hud dengan inisiatifnya menjadi pengingatan bagi kita semua. Percayalah ... da’wah ini, tangannya senantiasa terbuka terhadap berbagai inisiatif, pintunya senantiasa menunggu berbagai usulan disertai keinginan untuk melakukannya. Sepanjang semua itu masih dalam koridor manhaj, kita semua dipersilahkan melakukannya ... Ramadhan ada dihadapan, mari mohon kepada-Nya agar Allah kembali menyalakan api semangat untuk lebih bisa memberi dan lebih mampu berkontribusi kepada da’wah ini. Sydney, 9 September 2007 Abu Muhammad
| |