What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Keharuan menyelimuti sepanjang hari, dimulai sejak saat dan setelah acara ceramah Haji plus pamitan saya dan temans yang akan berangkat ke tanah suci tahun ini. Bertempat di kediaman ibu Yessi, wanita yang kuanggap seperti ibu sendiri, Alhamdulillah, banyak juga ternyata yang hadir. Bergantian, tua-muda menyalami, berpelukan, berbagi do'a, membisikkan petuah penuh kasih padaku.
Terutama dari mereka yang sudah menunaikan rukun Islam kelima itu.
"Banyak bersabar ya Vien....." *menghela nafas berat*
"Tawakkal selalu, dengan penuh yakin pada Allah".
"Jangan lupa bawa obat flu, sakit kepala, batuk, diare, pegel linu, masuk angin, tetes mata, alergi,......" *wuiiii.....bakal banyak apotik diserbu calhaj nih*
"Ga perlu bawa baju banyak-banyak...., cd juga yang disposable aja..." *hiiiyy...*
"Semua perbekalan kalu bisa dipisah dengan suami. Kita menghadap Allah disana nafsi-nafsi. Dia emang mahrom kita, tapi semua keperluan urus sendiri-sendiri." *tuh Bi, catet....;p*
"Hati-hati biasanya konflik itu timbul dari orang terdekat kita." *glek*
"Jaga lisan dan jangan sampai ngebatin or ngedumel di hati..."
"Banyakin sedekah. Apa aja...., ya sajadah, makanan, kaos kaki, tenaga, dll... "Usahain agar kita selalu cari peluang pahala disana. "
"Pake ini nih (nyodorin singlet dengan kantung di depan)...., tuh ambil aja buat kamu." *cihuuuy....Alhamdulillah*
"Nanti segala macam rupa dan karakter orang terlihat semua."
"Jaga kesehatan ya sayang...." *padahal yg dinasehati lagi sakit*
"Jangan sampai ketiduran di Arafah, karena hawanya sering bikin banyak orang ngantuk, apalagi kondisi kita lelah". "Ingat, disitulah puncak ibadah Haji." *perlu dicamkan inih*
"Vien, ini ada nappy buat adults...(haaa??), Iyaa efektif kalo-kalo kamu ga kuat nahan buang air kecil. Kan antrian ke kamar mandi suka lamaaa...." *mringis*
"Ayo kamu exercise dari sekarang, nanti bakalan jalan melulu. Jauuh lagi..."
"Jangan putus untuk dzikrullah. Tipa helaan nafas kalau bisa."
"Bawa buku tentang sejarah para Nabi. Karena akan lebih terasa dihati, napak tilas perjuangan mereka membawa risalah Allah di muka bumi."*InsyaAllah*
Alhamdulillah, betapa bersyukur aku pada-Nya telah dianugerahi banyak temans yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. InsyaAllah semua tlah kucatat baik-baik disini, agar ingat dalam memori otak. Jazakumullah bi ahsanil jazaa....
Niscaya kan kusampaikan titipan segala pinta kalian disana. Di hadapan Multazam, di Raudhoh, di Arafah pada tiap wajahku menghadap pada-Nya. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah....
Adakah yang ingin menambahkan nasihat buatku disini ? *berharap sangat* Mau berupa sentilan, teguran, kecaman, juga silakan.... yang pedes-pedes biasanya kan bikin ketagihan. :)
Atau ingin menitipkan do'a ?
Ooyaaah....ingatkan dakuh juga kalu punya hutang / janji yang belum tertunai ya !
Beginilah nasib perantau... Ketika lebaran datang hanya bisa melamunkan keriangan silaturrahim di kampung halaman. Dua tahun terlewati sudah aku hanya mendengar cerita mudiknya orangtua dan abang satu-satunya. Yup that's right, sesuai judul diatas, kemana lagi kalu bukan ke Banyuwangi. Kota tempat para leluhurku bermukim.
Diriku memang tidak lahir disana. Apalagi tumbuh dan besar. Hanya sedari kecil selalu dibawa ke kota kelahiran Papah itu tiap 1 Syawal datang menjelang. Masih lekat di memori rasanya nikmat ber-konvoi bersama keluarga paman dan sepupu menikmati dua hari perjalanan darat di masa-masa lalu...
Mampir makan di restoran kota yang dilewati (keringanan ga puasa sebagai musafir perlu dimanfaatkan toh ? ;D), nginep di hotel murah, istirahat dan sholat di masjid, buang air di POM bensin, bacain jalur peta, suntuk dalam kemacetan, mogok kehabisan minyak kopling, terbawa tegang ketika menyalip bus antar kota, ban selip karena banjir, anak-anak yang muntah karena mabuk perjalanan, nyasar karena di detour, bobo sampe ngiler-ngiler, ngegosipin temen-temen sekolah sama abang, berbagi rizqi pada dhuafa secara spontan, melihat binatang liar di Baluran dan yang pasti tak terlewatkan adalah mengintip keindahan dalamnya laut di pasir putih Situbondo sambil makan nasi bungkus...
Owwhh...nikmeh tuenann !
Potongan-potongan ingatan yang selalu saja muncul saat-saat lebaran seperti ini. Membawa anganku berkelana dengan hati meringis menahan rindu. Belum lagi suasana di rumah Datuks (sebutan nenek dan kakek di keluarga besar kami) yang sederhana dan hanya beberapa meter saja di belakang Masjid Baiturrahman seperti yang nampak pada gambar diatas. Daerah tersebut dikenal dengan nama kauman. Rumah dimana anak yang berjumlah 11 orang, berikut cucu dan cicit tumplek blek disana, seketika menjadi full house. Bangunan langgar dipekarangan yang biasa dipakai Datuk mengajar ngaji tetangga sekitar, berubah menjadi ruang serbaguna. Ya buat tidur, nyetrika, main kartu UNO hingga larut, sholat tarawih, cerita gebetan terbaru para sepupu ABG, gitaran sambil nyanyi-nyanyi sumbang lagu The Beatles, ngebanyol garing plus basi dengan Pa'leks (Pamans), sampai belagak insap denger petuah mandraguna dari the Godfather.
Mendekati hari H, dapur Datuk sudah riuh oleh bahan makanan yang akan diolah. Dibantu korps menantu (tantes/buliks sayah) yang ahli masak, berbagai jenis masakan siap tampil memukau mata dan lidah para tamu dan saudara di Hari Raya. Desas desus bocoran menu yang biasanya sudah beredar di kalangan bapak-bapak, membuat mereka ga tahan untuk bolak-balik sok dibutuhkan di dapur. Berharap dipanggil sebagai kandidat juru cicip pas berbuka nanti. Huaah, dasarr.
Penuh ! Itu yang terbayang kala 'Iedul Fithri datang di rumah Datuk. Tetangga, saudara, kerabat, masuk lewat pintu muka dan belakang. Tua, muda berseliweran mengumbar senyum dan ucapan maaf lahir batin. Aku yang cuma numpang tetesan darah Banyuwangi, berkali-kali harus bertanya pada pamans jika ada kalimat mereka yang samar kutangkap maknanya. Payah ya ? Biariin..., yang penting tetap tersemat kebanggaan di hati sebagai "Isun Lare Osing". *jiaah, ngaku-ngaku*
Selanjutnya hari-hari berikut dipadati dengan program berkeliling. Seru dan asik, karena semua bisa dijalani dengan berjalan kaki atau naik becak. Maklum sesepuh saya cukup banyak disana. Beberapa bahkan saking tuanya udah ga hapal nama cucu-cicit dari kemenakan. Hingga agak sulit kalu berkunjung tanpa bawa-bawa nama si Papah. "Saya Dede (nama beken di keluarga), anaknya Munif, cucunya pak Maksum...", .....baru deh para tetua itu 'ngeh dan manggut-manggut. Entah beneran paham atau biar singkat aja prosesi perkenalan itu. Ora urus lah. Sing penting jadual silaturrahim tuntass... dan daku bisa berkeliling mencicipi penganan khas di tiap rumah. *nyengir kuda*
Satu lagi yang bikin lamunan rinduku kian menjadi-jadi adalah kegiatan ini : jalan-jalan berkeliling kota, menikmati sunrise di pantai ba'da subuh, jajan rujak soto dan nyebrang ke pulau dewata. Ya..ya semua selalu masuk dalam agenda penting setiap mudik. Pantai di Banyuwangi menurutku bukan termasuk pantai yang indah. Hanya karena punya nilai historis tersendiri bagiku saja, rasanya tak mungkin kulewatkan untuk sekedar absen dan numpang poto disana. Thus, supaya cerita pulang kampung menjadi lebih keren dengan bumbu setor muka di Bali, maka segenap pasukan Osing turunan bela-belain nyebrang naik Ferry dari Ketapang ke Gilimanuk untuk belanja suvenirs disana. Mudah, singkat dan beres sudah urusan oleh-oleh.
Oya, tentang rujak, ini adalah makanan wajib khas Banyuwangi yang kiosnya tersebar hingga pelosok kota. Dan yang paling tob surkotob dan terkenal adalah si rujak soto ityu. Lazimnya makanan yang paling diincar, tiap warung rujak pasti segera diserbu oleh antrian pembeli sehari setelah Hari Raya. Dan berdasarken undang-undang tak tertulis di keluarga kami, bagi para sepupu ataw keponakan yang baru bersukacita mendapat angpau, diharusken dengan lapang dada mentraktir struktur keluarga yang lebih tua. Terutama berupa traktiran rujak dan bakso. Hihihi..wajah mereka tiba-tiba terlihat sangat sengsara telah menjadi bagian dari keluarga inih. Kasimaan syekali.
Well, MPers budiman dimanapun anda berada...terutama yang bernasib sama seperti sayah, nampaknya lamunan ini harus diakhiri. Secara my boys sudah merajalela tak terkendali mentang-mentang libur sekolah. Dan kami pun masih harus lanjut silaturrahim ke handai taulan di negeri rantau. Ini semua gara-gara sms 'racun' dari salah satu pamanku yang tega luar biasa, sehingga aku harus me-recall semua kenangan tentang Banyuwangi.
"Iya maaf lahir batin juga dari Lek Yik seklrg. Lg ngumpul semua di Bwi. Mama, papa, abang jg br nyampe di kauman. Rame banget (inc. makanannya). Ada nasi samin, sate, gulai, ikan bkr, baso rujak,dll. Aduuh, bingung nih..mau mkn yg mn dl yaa...?"
Puuuihh. Menyebalkan. *manyun lima senti* Bikin orang senewen pengen terbang kesana. Sampai secara ga jelas membabi buta browsing tiket murah di hari H. Dapet ? ya engaaaa laahhhhh ! Boro-boro mampu kebeli, penerbangannya aja kagak ada. Baru ada lagi tanggal 4 Okt. Yee...udah basi kali tuh nasi samin.
"sabar-sabar Vien, jangan jadi Hulk dulu dunk...."
Berawal dari sedikit ragu ketika undangan Qiyamullail bersama sisters dari Muslim Woman Support Centre (WMSC) datang melalui sms. Seorang sahabat asal Singapura, sis Suryati, yang sudah lama kukenal mengirim sms undangan itu seminggu sebelumnya. Isinya yang singkat cukup membuat hatiku terperanjat, disusul keraguan untuk bisa menyempatkan hadir disana. Bukan.., bukan karena aktivitas tahajud bersama tidak menggugah hasratku, tapi karena ada permintaan khusus agar aku juga bisa memberi sedikit speech tentang Qiyamullail. Tentu dalam bahasa Inggris, karena mereka yang hadir nanti berlatarbelakang dari berbagai bangsa. Ya Allah.....why me ?
Beberapa kali sms itu datang meminta konfirmasi, hanya kudiamkan saja. Maksud hati akan kureply setelah punya alasan tepat untuk menghindar dari permintaan yang membayangkannya saja sudah bikin perut mules. Andai speech itu dalam bahasa ibuku, mestilah kutimbang dengan perasaan tak seberat ini. Sampai tibalah hari H, dimana sore harinya sister Suryati menelpon kembali...(dengan logat Malay)
”Gimana Vien, udah siap kan ngisi nanti malam ?”
”Siapa saja kawan-kawan Indonesia yang bisa ikutan ?”
”...Baru juga nge-print makalah hasil browsing di Internet.”
(ketauan dah, nanya ustadz gugel dulu)
”Bu Suryati aja deh yang ngomong, kan bahasa Inggrisnya lebih bagus. Rasanya kok kurang menghayati kalo nyampein materi bukan dalam bahasa Indo...belum lagi banyak vocab yang ga ngerti. Tentang agama lho ini bu, gawat kan kalo ga berangkat dari hati yang paham. Trus.....bla..bla..bla” , panjang lebar aku beralasan.
”Ah...sudah tak apa. So you can practising your English in front of us. That’s great kan ?”
”Coba mana saya dengarkan dulu, kamu punya materi.”
Aku tertawa pahit.
”Waduh, ini kumpulan materinya juga panjang. Blom sempet saya ringkas. Betul deh saya ga siaaap..” suaraku mulai memelas blass.
”Hoho....don’t worry lah sister, nanti saya dampingi. Ok, don’t be too late ya..after maghrib, saya ketemu kamu di rumah sister Aminah.”
Bu Suryati menutup pembicaraan.
Glek…aku lemas tak berkutik.
Nego gagal, tak ada satupun alasan shahih bisa kulontar. Mana suami juga sudah mendukung dan menyatakan mampu meng-handle acara sahurnya d Boys. Sebenarnya aku juga sangat ingin datang untuk melewatkan malam dengan Qiyamullail bersama sisters dari berbagai negara. Asik dan berkesan pastinya bertambah banyak saudari seiman.
Andai tak perlu ada tugas berat itu…
Hhhh...sungguh tugas macam ini selalu kuterima dengan hati gamang, sekalipun dalam bahasa Indonesia. Rasa diri tak pantas, masih banyak khilaf, banyak maksiat, banyak lalai, keikhlasan juga perlu dikaji ulang,.....fiuuh too many weaknesses kalau mau didata satu persatu. Entah, apakah mungkin memang bisikan syaithan yang turut bermain agar langkah dakwahku surut, sebagaimana perkataan suami ketika kuungkap selimut gundah tiap saatnya datang kesempatan menyampaikan sedikit saja dari Kitabullah.
Ba’da maghrib aku mulai bergegas. Benakku berputar cepat siapa gerangan yang akan kuajak dan punya peluang besar untuk bermalam bersama. Tentunya juga bisa memback-up performaku nanti. *Aha...ibu Yessy ! Nama itu langsung muncul di kepala. Beliau yang kuanggap seperti ibuku ini memang sudah terkenal aktif dalam berinteraksi dengan komunitas Muslim di Western Australia. Acara seperti ini pasti tak mungkin dilewatkannya. Tepat dugaanku, bu Yessy dengan antusias dan bersemangat menerima ajakanku. Bahkan setengah berteriak dia bilang bahwa Sister Aminah (sang tuan rumah) adalah sahabat baiknya sejak dulu aktif di MWSC. Oh, ternyata bu Yessy juga salah satu pengurus di sana. Memang rizqi ga kemana ya, meski beliau terluput dalam undangan mereka, nyatanya tetap bisa hadir denganku.
Kami tiba di tujuan sekitar jam 8 malam.
Rumah sister Aminah sangat besar. Beberapa mobil terparkir rapi di pekarangannya. Di dalamnya, di salah satu ruangan yang difungsikan sebagai musholla, sudah terlihat beberapa wanita melakukan sholat ’Isya berjama’ah. Tenang dan khusyu’.
Setelah selesai mereka menyapa kedatangan kami. Sister Aminah nampak begitu surprise dengan kedatangan bu Yessy. Sister Suryati memandangku riang dan berbisik, ”Alhamdulillah, kamu datang juga Vien.” Hehehe, dia agak khawatir aku melarikan diri rupanya.
Tak lama kemudian kami melanjutkan sholat tarawih 8 rakaat. Tiga imam memimpin jama’ah secara bergantian. Mereka masih muda belia. Ada yang hafal, ada juga yang memakai Mushaf. Subhanallah, suaranya begitu jernih mengalir dengan makhroj berlogat Aussie.
Tibalah saat yang membuat jantungku bergemuruh dan mual mulai menjalar.
Kacau...
Ibu Suryati membuka acara dengan suara yang syahdu. Rasa harumulai meliputi ku saat itu. Kami duduk melingkar. Tak banyak yang bisa hadir. Ada duabelas orang semuanya termasuk diriku. Kutatap mereka sekeliling : beragam usia, warna kulit, latar belakang keturunan, namun satu keyakinan. Tumbuh rasa takjub di hati melihat kesungguhan mereka berIslam di negeri ini.
Alhamdulillah acara diawali dengan ta’aruf, jadi aku masih punya waktu untukmenentramkan hati. Mulailah satu-satu mengenalkan dirinya....ada yang asli Aussie, keturunan Indonesia, Cina, Afghanistan, India juga Somalia. Beberapa muslimah muda ada yang masih kuliah ataupun sudah kerja. Dua diantaranya adalah putri Sister Aminah sendiri yang keturunan Cina.
Ingin rasanya kuulur sessi perkenalan itu hingga lebih panjang, namun apa daya saat eksekusi itu datang juga. Saat semua mata memandang kearahku penuh perhatian menanti. Saat aku sendiri lebih banyak menunduk tak mampu menatap mereka kembali.
Oh my…
Dengan terbata aku memohon pemakluman mereka terlebih dulu akan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas.
“Honestly, I’m very unconfident giving this kind of talk to you…because my English is not quite good. But I’m trying to take this opportunity to give a speech in front of you. Just because I think that all of you won’t laughing at me if I make some mistakes then…”
dan sister Suryati dengan jahilnya nyeletuk,
”.....yeah, they won’t laughing at you, but sure do...I will.”
Sisteeeeeeerrrrrrr please deh !
Kupelototi dia yang ngikik geli diiringi tawa yang lain.
Lumayan agak turun rasa tegang…
So, tetap berbekal naskah 4 lembar yang kupegang erat dengan dalils yang sudah termaktub didalamnya, kusampaikan materi Qiyamullail sambil beberapa kali dibantu oleh sis Suryati dan bu Yessy agar lebih pas menerjemahkan kalimat. Sekitar 45 menit termasuk diskusi sedikit tentang Laylatul Qodr usai sudah. Beberapa sisters yang tak bisa ikut mabit karena besok harus kerja pamit pulang. Waktu saat itu sudah menunjukkan jam 11.30 am, dan kita harus segera istirahat supaya nanti malam bisa kuat bangun untuk mempraktikkan Qiyamullail secara berjamaah.
**************
Qum !
Bangunlah !
Wahai orang-orang yang berselimut....
Rabbanaa...
Di malam ganjil-Mu kami menghadap
Dalam desah cemas dan harap
Walau berat sungguh mata menatap
Jua payah tubuh menopang tegap
Rabbanaa..
Izinkan lelehan air mata jadi saksi
Lantunan kalam-Mu jadi peneguh hati
Di sepertiga malam penghujung bulan suci
Agar langkah kami ringan di akhirat nanti
Rabbanna….
Dengan kerendahan hati kami menguntai do’a-do’a
Bagi diri, keluarga, keturunan, saudara-saudara kami yang tengah berjuang membela agama-Mu, yang tertimpa musibah, yang terdzholimi, yang berada dalam kesempitan hidup, yang sedang lalai serta bagi mereka yang sudah mendahului kami.
Ampunilah segala dosa kami dan berilah kami pertolongan untuk berjuang menegakkan Islam di dalam diri dan di atas bumi-Mu.
Allahumma innaa nas aluKa ridhooKa wa aljannah, wa na'uudzubika min sakhotika wa an-naar.
****************
Selama 3 tahun menikmati perguliran malam-malam Ramadhan yang mampir di langit kota ini, dengan izin Allah aku mendapat kesempatan yang mengesankan.
That’s the most unforgetable wonderful night I’ve ever had in Perth during Ramadhan.
Jazakumullah bil Jannah to sister Aminah dan keluarga atas wakaf rumahnya di malam ke-27. Juga pada seluruh sisters yang hadirsemoga Allah senantiasa menjaga keimanan kita untuk tetap kuat menjalankan syari’atNya di manapun kita berpijak. Buat sister Suryati, semangat terus dengan dakwah lewat tarbiyah. Dan buat bu Yessy, selalu kuungkapkan : I love you more and more…
Jika Laylatul Qodr turun pada malam itu, moga kita semua mendapat keberkahan Allah atasnya.
Pagi-pagi di akhir pekan, saat selesai membereskan sisa sarapan, suamiku setengah berseru di muka pintu berkata, "Ummi, dapet surat nih dari Tangerang !" Alisku bertaut dan membatin, "Dari siapakah gerangan ?" "Mengapa tak habis-habis penggemarku berkirim surat dari pelosok negeri...?" *nyengir sok manis* (eeits, tenang dong pren jangan nimpuk gitu, namanya juga usaha..;p)
Dengan hati membuncah, kulirik nama pengirimnya : PUPUT!..oh hatiku melonjak riang. Hmm, cukup tebal isinya. Bergegas aku sobek ujung amplopnya : sreseet, srek, sreet, ting. *ini nyobek kertas ato makan rujak sih... (loh?)* Dan, ternyata ada dua lembar kertas didalamnya. Satu lembar foto ukuran 5 R dan satunya lagi sebuah surat cinta. Kutatap wajah muridku yang kian beranjak remaja di foto itu. Gaya Puput ketika berdeklamasi tampak selalu elegan dan penuh percaya diri di mataku. Wajah imutnya perlahan mulai menunjukkan kematangan bocah menuju gadis. Si cantik ini makin cerdas saja rupanya, bisik hatiku tersenyum.
Mataku kemudian beralih pada sepucuk kertas surat putih yang masih di tangan. Kubuka dengan degup jantung tertahan. Tulisan tangannya begitu teratur dan rapi. Kuperhatikan setiap pemilihan katanya baik-baik. Energi rindu terasa mengaliri syarafku setiap dia tulis kata : "bu Vienna". Begini tulisnya....
Kpd. Bu Vienna Tangerang, 6-Juli-2008 di tempat
Ass.Wr.Wb. Bu Vienna, sepertinya baru kali ini ya Puput ngirim surat ke bu Vienna, kan biasanya Puput ngirim sms. Bu, pada saat bu Vienna bikin cerita "Puput Namanya", Puput bacanya sampai menangis terharu lo...karena tahunya bu Vienna masih ingat Puput nulis surat untuk bu Vienna pada saat bu Vienna mau pergi ke Australia, Puput suka buka kerudung di kelas dan wajah Puput yang dulu putih, bulat, imut dan menggemaskan, kadang Puput sendiri sudah lupa dengan itu. Bahkan bu Vienna mempunyai foto Puput yang sedang cemberut.
O iya, bu Vienna masih ingat gak kapan bu Vienna pergi ke Australia ? Hayo kapan bu ? Puput masih ingat, yaitu hari Jum'at tanggal 31 bulan Maret tahun 2006., yaitu saat Puput kelas II SD. Bu, Puput suka ingat pada saat perpisahan bu Vienna mau pergi ke Australia, semuanya yang ada di MC (baca : SDIT Muslim Cendikia) nangis semua dan ibu memberi Puput foto Puput dan bu Vienna. Sekarang foto itu masih tertata rapi di meja belajar itu, setiap Puput kangen sama ibu, Puput pasti liat foto itu.
Bu, mudah-mudahan ibu suka dengan puisi ini.
GURUKU
Kau sangat berjasa bagiku Kau banyak memberiku pelajaran Pelajaran yang berharga bagiku Pelajaran untuk bekalku nanti
Setiap hari ku dibimbingnya Di beri nasihat Walau kadang nasihat itu tak kuingat Tapi ia selalu mengingatkan
Tapi sekarang dia telah pergi Hanya foto yang kulihat saat ku rindu padanya Guruku yang pergi inilah yang paling berharga Dari guru lainnya, Terimakasih guruku
Bu, Puisi ini puisi ciptaan Puput sendiri. Walau tak seberapa bagus tapi mudah-mudahan bu Vienna suka.
Lama kupandangi surat itu dengan air yang menggenang di sudut mata. Abi yang berdiri di sisi, berkata pelan..."Ummi terharu ya bacanya...". Aku mengangguk singkat dan menoleh sambil menahan isak. Kudengar suaranya yang jua tercekat. Aku pun tak mampu berkata-kata. Yang kutahu dan kurasa.... hanya gejolak hati yang terus merindu pada si penulis surat : Puput, my lovely student.
PS : Setelah beberapa kali membaca ulang surat Puput, aku sodorkan foto itu pada Umar, si sulung yang sebaya dengan Puput, sambil memberondongnya dengan pertanyaan nakal, "Abang masih inget dia ga..?" "Menurut abang cantik ga ?" Yang ditanya cuma tersenyum dan tersipu malu, sambil berulang kali bilang, "Ga tauu..." *hayoooo......;p* (maklum pengen anak perempuan belom kesampean)
Adalah sebuah lagu yang diambil dari soundtrack film "The Sound Of Music". Liriknya terdengar sederhana dan romantis. Film musikal ini kemudian menjadi kenangan bagiku, tatkala aku mendengar proses bagaimana Mama memberiku nama. Akibat terpesona dengan penggambaran kota Austria yang begitu indahnya, sebagai setting lokasi film tersebut, Mama yang ketika menontonnya sedang hamil diriku, berinisiatif mengambil nama ibukotanya untuk bayi dalam perutnya.
Yup guys, as you all knew... My name is : VIENNA, that was exactly the same with the capital city of Austria.
Dan ternyata setiap lagu dalam film tersebut bernada indah. "Edelweiss" salah satu favoritku.....
Edelweiss, edelweiss, every morning you greet me small and white, clean and bright, you look happy to meet me blossom of snow may you bloom and grow, bloom and grow forever edelweiss, edelweiss, bless my home-land forever
Undangan yang disampaikan via email itu berbunyi begini :
Salams everyone, Just letting you know that there is a Ladies only entertainment night coming up. It is being organised by the Muslim Charity Community of WA. The details are as follows:
Where: Riverton leisureplex (Cnr high and Riley rds, Riverton)
When: Saturday 12th July from 7pm
Tickets are $25 and can be bought from Sr Najwa Chakelli, whose number is 9493 4497 or0402 204 497
Light refreshments will be served.
Please feel free to forward this on to your friends who might be interested.
~Nora
*********
Berbekal rasa penasaran akan isi acara tersebut, aku berencana datang kemudian bersama seorang teman. Dari informasi yang kuperoleh sebelumnya, beberapa temanku bilang bahwa dalam acara khusus wanita itu, kita bisa berpakaian pesta yang heboh dan menanggalkan hijab. Biasanya para wanita asal Arab bahkan akan tampak gemerlap dengan perhiasan mereka. Dalam hati aku tersenyum kecut, boro-boro pakai perhiasan yang heboh, lepas jilbab diantara wanita saja aku masih sungkan. Bukan apa-apa, khawatir menimbulkan kehebohan massa akan keaslian diri yang mempesona keancurannya. *qeqeqeq, mending ngaku daripada dituduh*.... (wahai sobats, ga sepakat itu dianjurkan lho dalam hal ini..;p)
Jam tujuh lebih sedkit, ba'da Isya, aku dan Hepi berangkat menuju lokasi. Pakaian kami kurasa cukup rapi dan sopan, layaknya ingin hadir di pesta perkawinan lah. Riasan wajah pun aku kenakan sedikit (padahal yang komplit juga ga pernah tau), karena yakin tak akan ada kaum adam disana. Berhubung tiket belum ada di tangan, maka kami datang agak awal, untuk memastikan bahwa tiket box masih tersedia di tempat.
Aha, harum wewangian mulai terendus semilir begitu kami sampai tujuan. Kulihat hampir separuh ruangan diisi dengan meja-meja bundar dikelililingi beberapa kursi. Di hadapan kumpulan meja itu ada sebuah panggung kecil yang diapit oleh seperangkat sound system di sebelah kirinya. Di belakang ruangan tampak sebuah meja panjang sebagai tempat digelarnya penganan untujk sajian makan malam. Kami memilih meja yang agak jauh dari panggung namun dekat dengan meja makanan. Hehe..tahu maksudnya kaann..? *angkat alis, kedip-kedip, senyum ngiler*.
Sambil ngobrol kami memperhatikan para tamu yang mulai berdatangan. Kuperhatikan kebanyakan mereka dari Malaysia atau Singapore. Mungkin karena panitia penyelenggaranya juga kelihatan banyak berwajah melayu dengan celetukan bahasanya yang familiar di telinga kami, pikirku dalam hati. Benar apa yang dikatakan temanku, beberapa tamu yang awalnya datang berhijab, tiba-tiba berubah setelah keluar dari toilet. Bahkan banyak juga yang secara demonstratif melepas jilbab dan abayanya begitu selesai isi buku tamu. Hwaaa.....kami cuma melongo dan saling pandang demi melihat baju yang mereka kenakan. Perlahan suasana di ruangan itu mulai dikerubuti oleh celotehan wanita-wanita cantik berbusana semi ketat. Totally dressed up out of hijab ! Wajah-wajah wanita arabian yang berseliweran membuat kami tak berkedip. Molek dan berani. Fiuuh...Bagaimana jika lelaki yang menatapnya ?
Akhirnya acara dimulai dengan makan malam terlebih dulu. Yak, akhirnya setelah penantian yang kurasa begitu lama, lirikan mataku ke meja panjang penuh makanan itu pun terhenti. Menyusul gerakan tergopoh untuk tiba di deret antrian sesegera mungkin. Benar-benar pemilihan meja yang tepat, karena kami langsung mendapat urutan awal untuk ambil jatah ransum. Thanx to Hepi ! aheuheuheu.... *duww, ini laper ato napsu sih ?*
Sambil menyantap hidangan, kami mendengar MC menyebutkan jadwal acara sampai tengah malam nanti. Diiringi musik melayu yang mulai berdentam, kami terperangah mendengar rangkaian acara yang akan digelar. Sesuai judulnya yaitu "entertainment night", ternyata hiburan yang dimaksud masih tak jauh beda dengan hiburan dunia ala non muslim. Pengunjung dipersilakan untuk turun melantai bergoyang sepuas hati dengan berbagai jenis lagu nantinya. Ada hip hop, disco, slow pop, jazzy, melayu sampai dangdut sodara-sodara ! ck..ck..ck... Aku tertegun. Irama poco-poco yang amat kukenal dulu, sewaktu ikut rutin senam di Indo, menjadi pembuka acara goyang bersama itu. Beberapa wanita mulai turun ke lantai depan. Mempraktekkan gerakan dasarnya ramai-ramai seirama hentakan lagu. Yak ampyuun, jauh-jauh kemari cuma denger poco-poco ?
Hatiku meringis. Miris sekaligus terpana dengan fenomena tersebut. Rasanya gatal pingin gabung dengan mereka, hehe...*engga ding*, gatal pingin segera pulang ke rumah maksute. Padahal kalau mau, gerakan kombinasi pun akan aku ajarkan tuh. wakakakak....*ketauan masih gatal* Aku lirik Hepi, temanku. Tampak wajahnya pun jengah, menandakan ia setuju denganku.
Bergegas kami menghabiskan isi piring di hadapan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika kami pergi. Belum cukup malam untuk sebuah acara hiburan memang. Bisa dipastikan kami-lah tamu yang pertama pulang, tepat setelah makan. Biarlah, daripada telinga dan mata kami dibuai oleh pemandangan yang membuat hati bergumam tak tentu, lebih baik memang kembali ke hangatnya selimut di rumah.
Diluar, ternyata semakin malam hawa dingin makin dahsyat menggigit. Dalam sunyi dan lengangnya jalanan, kami hanya mendesah pelan. Menyayangkan bahwa hiburan yang didapat ternyata belum mampu menghilangkan penat akibat rutinitas aktivitas rumah tanggaku atau perkuliahan Hepi. Hanya hingar bingar musik dan pelampiasan hasrat gerak tubuh yang mungkin bisa tak terkendali. Andai malam hiburan itu diisi dengan ekspresi seni yang lebih berkualitas, seperti, pembacaan puisi, teater, atau demo solo alat musik mungkin lebih berarti. Apalagi ada charity untuk sesama muslim dibalik acara ini.
Ya, andai saja demikian, aku akan lebih bersimpati untuk ikut lagi acara serupa. Supaya donasi yang tersalurkan itu lebih berkah, dan setiap amal kebaikan itu terjaga dari hal-hal yang syubhat.
Malam-malam menjelang tidur sebuah sms menyelinap masuk, mengusik kantuk yang mulai menyergap. Membaca isinya seketika senyumku mengembang dan rinduku melayang...
" Ass. ibu pa kbr? Dah lama nggak telp. Pu2t dah kangen bu vien.Pu2t jadi juara bc puisi lg di bbrp tmp. Ibu ngga lupa pu2t kan? Salam dr ibu unt kel di aus. Kita kangen ibu vienna. Wassalam."
Dari Puput. Muridku semasa kelas satu dan dua di SDIT Muslim Cendikia, Tangerang. Terbayang kemudian wajahnya yang putih, bulat, imut menggemaskan. Bibirnya tipis, mungil. Binar matanya yang cerdas, lebih sering terlihat merajuk dibanding menentang jika dinasehati guru. Murid wanita tercantik yang dalam usia 7 tahun mampu membuat teman sebayanya yang pria, malu-malu tapi mau, berebut duduk di dekatnya. Atau dengan jumawa mengaku bahwa Puput pacar mereka. Hhhh...arus informasi rupanya begitu deras menghasut usia kencur, sampai merenggangkan urat malu, yang ketika di zamanku SMP saja sangatlah tabu untuk mengumumkan seseorang yang ditaksir diam-diam di depan khalayak. Kini anak-anak yang baru lancar bicara "R" sudah sebegitu bangga jika ditanya siapa pacarnya.
Tapi Puput memang mempesona. Aku ingat di awal tahun ajaran sekolah. Ia datang berjilbab mungil rapi ditemani ibunya. Wajahnya merengut, tipikal anak yang penuh tekanan di lingkungan sekolah baru. Dia terlihat sebal dengan lilitan jilbab yang diwajibkan di sekolah Islam ini. Selama di dalam kelas ia tak mau duduk tenang. Pandangannya lepas ke luar jendela tak peduli sekitar. Apalagi pada guru di depan kelas, boro-boro. Kubayangkan persis kelakuan Toto Chan dalam novelnya. Berkali-kali jilbabnya dilepas dan berkali-kali juga kami pasangkan kembali. Ketika ditanya mengapa ia tak mau memakai jilbab, ia hanya menjawab pendek, "panas", sambil melengos acuh. Aku gemas padanya. Ingin kutatap sinar matanya, tetapi ia selalu menghindar. Tapi aku tak bosan memasangkan kerudung mungil itu selalu setiap ia buka.
Sampai akhirnya dua bulan berselang. Puput mulai terlihat lebih nyaman di kelas. Ia kerap tersenyum dengan gigi-gigi putih kecil berderet rapi tersembul manis di wajah. Suara manjanya berartikulasi jelas penuh intonasi jika disuruh membacakan sebuah teks. Tak heran ia terpilih sebagai pembaca berita pada acara assembly akhir tahun ajaran sekolah. Gayanya terlihat lebih elegan dibanding presenter cilik zaman sekarang yang sok kenes dan centil dibuat-buat di layar kaca. Satu hal yang khas dari Puput, ia suka menulis diary. Hobby Puput, yang ternyata telah ditekuni sejak dari TK B, ini terbongkar ketika kami menerapkan PR menulis diary tiap akhir pekan tiba. Dengan antusias ia segera menyambut dan menyerahkan tepat waktu dengan alinea paling panjang daripada teman sekelasnya. Bacaan Qiro'atinya juga begitu melesat dengan makhroj yang jernih dan jelas. Dalam acara lomba Hifzhul Qur'an juz 30, aku sertakan ia karena memang layak untuk dinominasikan. Meski tak meraih juara, aku bangga ia tampil penuh percaya diri.
Di tengah semester, ibunya kemudian bercerita perihal kemajuan Puput. Dengan wajah tersipu ia berkata kerap ditegur putri sulungnya itu jika keluar rumah tidak menutup aurat."Wanita muslimah itu harus berjilbab bu", begitu urai Puput pada ibunya. Aku mengulum senyum menyimak penuturan jujur itu. "Puput sekarang juga rajin mengaji bu Vienna. Dia juga bilang kalau orang Islam itu harus bicara benar. Tak boleh berbohong", sambung ibu Puput cepat. Betapa berbinar matanya ketika menceritakan putri semata wayang itu. Terasa ada hawa sejuk mengaliri rongga dadaku. Ah, Puput....
Menjelang keberangkatanku pindah ke Perth, Puput lebih banyak diam. Pandangan mata sayunya bertambah sendu jika menatapku. Setiap murid kuminta menulis surat cinta untukku, sebagai kenang-kenangan yang bisa kubaca tiap rindu mendera. Puput menulisnya penuh perasaan. Uraian katanya betul-betul membuat hatiku melayang. Begini bunyinya :
Ass.wr.wb Bu Vienna kau guru yang baik, romantis, lucu dan cantik. Kau tidak pernah marah. Kami selalu dimanja. Disaat kami sedang sedih, kau sedih. Di saat kami senang, kau senang. Di hati kami selalu ada bu Vienna. Janganlah engkau pergi. Kami akan mendo'akanmu. Terimakasih bu Vienna. (Puput)
*di bawah tulisan itu, Puput membuat gambar dua muslimah berjilbab. Satu besar, satu kecil. Keduanya diberi anak panah, menunjukkan aku dan dirinya bergandengan tangan. (Aiiih...romantis loh katanyah..) *blushing* Waktu pun terus bergulir. Puput kini menginjak tahun keempat di Sekolah Dasar. Selama kepergianku dirantau hanya Puput yang masih setia menyambangi aktivitasku disini. Menyapaku riang lewat sms. Bercerita prestasinya menulis puisi dan berdeklamasi, mengadu ketika ia harus pindah ke sekolah negeri karena usaha ayahnya tak cukup untuk membayar SPP di sekolah swasta, mengingatkan agar aku menjaga ibadah sholat, mengungkapkan rasa rindunya, mendo'akan kesehatanku, berbagi kebahagiaan saat ia bersama keluarga, dan selalu bertanya kapan bisa bertemu aku lagi.
Tiap pulang ke tanah air, Puput dan keluarga masuk dalam daftar wajib penerima oleh-oleh. Rasanya setiap melihat alat-alat tulis dan boneka aku langsung ingat Puput. Namun aneh, setiap aku bertemu dengannya, Puput nampak seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ia begitu malu untuk berbicara denganku. Ia hanya menatap dalam sambil senyum-senyum saat aku berbicara dengan ibunya. Memperhatikan setiap gerikku dengan seksama lewat ujung matanya. Ibu Puput pun heran. Padahal jika sudah di rumah Puput pasti membicarakanku penuh semangat dan mengajak untuk bertemu denganku lagi. Terbukti dalam sms yang ia kirim persis ketika aku harus kembali lagi ke Perth setelah liburan panjang akhir tahun lalu..,
"Ass. semoga ibu Vien sdh sampai dgn selamat. Amiin. Kalau ibu sdh jauh Pu2t baru nyesel kemaren ga bisa ketemu ibu lagi. Wassalam.
Seumur-umur baru kali ini aku menyempatkan diri bersentuhan langsung dengan kegiatan menghias kue. Selain merasa penuh kesadaran bahwa diriku tak memiliki bakat yang mumpuni di bidang ini, juga tiap ingin menikmati sepotong kue cukup membeli atau pesanlah pada ahlinya. Supaya adil maksudnya..ada yang membuat juga harus ada yang membeli. *alasan.com*
Namun kali ini berbeda. Kesempatan datang disaat aku punya cukup waktu luang dan kondisi lingkungan yang mendukung. Dalam arti, berada dalam kondisi dirantau yang semua harus serba bisa dilakukan...Jadi kenapa tidak mencoba belajar hal yang satu ini ? Syukurlah kita langsung praktek menghias kue, sehingga bisa beli sponge cake yang ready to decorate sebagai sasaran. Kalau mesti buat kuenya lagi, sepertinya aku termasuk urutan belakang dalam hal rasa dan bentuk. Ga menjanjikan banged.
Baiklah, kursus dimulai kira-kira pukul 10 pagi di kediaman guru kita. Ada lima orang peserta disitu berikut 'boncengan' mereka yang masih unyil-unyil. Kecuali Miaw si neng geulis yang lincah dan aku plus d boys yang setia mendampingi dengan kerusuhannya. Mbak Miming, sang suhu kita hari itu berpenampilan sangat meyakinkan sebagai guru (ya iyalaah...). Dengan serius tapi santai berusaha menjelaskan bagaimana cara membuat whipped cream yang menjadi bahan baku dalam menghias kue. Sambil sesekali mempraktekkan dengan gesit cara membentuk hiasan berupa kerang, pagar, bunga, daun, bintang, dll. Beliau masih juga sabar membesarkan hati kami yang lebih sering bikin bentuk ga jelas dan ga rata akibat gemetarnya tangan yang masih kaku. And of course, I'm the pathetic one...:(
Sambil diselingi dengan makan siang dan menyusui (sessinya Yuli dan Yusi niih ), training terus berjalan santai tapi pasti. Semua peserta diminta mengerahkan ide untuk menghias kue masing-masing. Ada yang penuh bunga, pakai badut (special request from faiqa dan hikmah), dedaunan, pagar makan tanamannya miaw, atau berbentuk hati milikku ituh.
Alhamdulillah, tepat jam 4 pm, kue-kue cantik itu sudah berjajar minta diabadikan. Fotografer merangkap tuan rumah, Mr.AGK, tampil dengan propesional dan cekatan mengambil gambar dari segala sudut. (ehem, promosi ga grates nih). Akhirnyaaa, hasilnya bisa dilihat disini. Dengan keterbatasan ide, sedikit nekad, percaya diri dan senyum sumringah...kami berhasil mengakhiri kursus yang menyenangkan ini dengan hati berbunga. Biarin deh berantakan, yang penting semarak penuh warna !
PS : silakan diintip kreasi kue dan masakan isimewa lainnya ala jeung Miming di SINI
Ruko Gading Serpong, Jl. Raya kelapa Puan AF 1/19, Tangerang
Sudah lama sebenarnya aku ingin mengabarkan pada dunia bahwasanya aku menemukan sebuah tempat makan yang ruarrr biasa kenikmatannya yang mengakibatkan air liur selalu menagih menuju kesana. (halaah, bombastis mode ON). Awalnya kabar ini selalu digembar-gemborkan oleh ipar tercintah, sebagai partner kompak dalam berburu jajanan lezat ketika kami masih sering bersama di Indo. Melalui sambungan interlokal, waroeng SS (nama populer) ini ia sebut-sebut dengan semena-mena dan penuh semangat dalam mengabarkan sebuah nikmat tak terlupakan. Demi menancapkan bayang-bayang sebuah cita rasa ia tega mendeskripsikannya tanpa melihat air mukaku yang berkali-kali menelan ludah. Muka kepingin ga jelas gitu lah...hehehe
Walhasil, atas penanaman hasrat yang sangat intens tersebut, program pertamaku ketika mudik tahun lalu adalah memuaskan selera lidahku sekaligus membuktikan kabar heboh yang dibawa bertalu-talu di telingaku secara jarak jauh itu. Aku ingat di pagi hari sebelum kita get lunch di SS, iparku dengan penuh bijaksana berkata, "Kalo mau makan di sana, kita jangan sarapan pagi sis, ini harus diikuti demi keinginan kita untuk tetap terlihat berbentuk." Dia berbicara pelan didepanku sambil melirik ke sekeliling, tepat di telingaku, yang kala itu sudah terlanjur memasukkan suapan sarapan pagi ke mulut. Seakan-akan pesan itu begitu membahayakan untuk dilanggar. Beuh, aku hanya melengos dan menghabiskan santapan pagi itu santai. Tubuh berbentuk seperti apa yang dia maksud. Gitar kan ga mungkin, sahutku dalam hati. Hanya sebuah mimpi usang yang hanya membuat stress para ibu-ibu umumnya.
Tepat jam makan siang, ba'da sholat dzhuhur pergilah kami. My mom, my sister in law serta anak-anak yang setia mengintil dan berteriak-teriak rusuh tancap gas menuju waroeng SS yang letaknya ternyata cuma 'kepeleset nyampe'.
Memasuki ruangannya, kesan yang tertangkap sederhana dan unik. Ruang makan disitu dibuat menjadi dua bagian. Sebagian untuk lesehan, sisanya buat yang ga suka makan sambil menekuk lutut. Pastinya kami memilih yang pertama. Posisi lesehan rasanya lebih mendukung gaya makan ala kuli yang akan kami peragakan kemudian. Lalu kulihat beberapa pajangan yang unik tertempel dilindungi pigura di dindingnya. Isinya kebanyakan artikel atau tips dengan gaya bahasa yang lucu. Mengingatkan permainan kata produk dagadu Jogja. Maskot waroeng SS yaitu Mr. Huuh Haah yang disimbolkan dengan cabe merah mengkilat, berkacamata (kenapa juga pake kaca mata ? ), tersenyum mengacungkan jempol persis di depan loket dapur.
Hari itu aku menyerahkan pesanan pada ahlinya. Ibu dan iparku. Memasrahkan diri akan dibawa kemana lidahku nanti. Disini tersedia 21 macam sambal (yang sudah ditemukan kreasinya) dengan nama-nama nyentrik. Alisku sampai berkerut dan bergumam...ini kita mau makan sambal pakai nasi atow makan nasi pakai sambal ya ? Kalau tidak salah waktu itu kami memesan : Nasi putih satu cething (satu bakul kecil), sambal tempe semangit, sambal kecap, sambal pusing, wader goreng (semacam teri), sambal gobal-gabul, dan ayam goreng sebagai pemanis.
Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Suasana hiruk pikuk mendadak sontak berubah. Begitu tuma'ninahnya kami makan, hingga yang terdengar hanya suara tarikan cairan di hidung (waks...), berikut kecapan 'Huuh-Haah' seperti nyanyian suku primitif di pedalaman. Obrolan pun terhenti, sedang tangan begitu giatnya menyendok nasi ke mulut dan menyeka keringat yang bercucuran, memenuhi seluruh wajah. (gaya kuli angkut makan dengan sempurna terwakili sudah).
Dalam waktu kurang dari setengah jam, seluruh piring ludes tak bersisa. Jari-jari tangan pun tak luput untuk dibersihkan satu persatu. Kali ini anak-anak langsung rebah karena lingkar celana mereka sulit untuk dikancingkan. Jilbab kami miring tak simetris akibat terlalu aktif menguyah. Bibir kami memerah alami dan terasa sedikit menebal. (atau agak ndower lah bhs gaulnya). Laksana prajurit yang kalah usai pertempuran, aku terduduk lemas tak berdaya dengan bibir megap-megap persis ikan mujaer. Ancyuurrr....
Sambil meneguk minuman dingin berkali-kali aku hanya berkomentar pendek pada sponsor : "Kita harus sering-sering ke sini." Spontan iparku meledek, "Yeee, kita mah udah dari duluu, ente aja yang telat....". (Yeee, namanya juga dirantou). *si dower pun tambah maju*
Begitulah, selama aku berlibur ke kampung halaman sudah tak terhitung berapa kali aku makan di waroeng SS. Istilah "kapok sambal" betul-betul menjelma nyata sobats. Rasa jahanamnya melambai-lambai tiap kali perut bereaksi minta diisi. Kini, aku hanya menelan liur pasrah. Sambal udang favorit plus sambal tempe yang khas itu cuma bisa menari-nari di kepalaku, sambil tersenyum mengenang "SALAM PEDAS ABIS"-nya Mr. Huuh Haah.
PS : Sobats, bagi yang doyan puedeess abis di Indo..bisa berkunjung ke : - Jogjakarta - Bandung - Solo - sini, info paling Komplit.
Selamat ber-Huuh Haah ! inget tips ini : "jangan sarapan pagi dulu Boss" ;D, en "ati-ati kalo buat dinner, bisa sulit tidur karena perut bereaksi panass"