Isy Kariman Aw Mut Syahidan

ilalang's posts with tag: kidz

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryAntara Amanah dan FitnahNov 10, '08 6:04 PM
for everyone

Sepanjang hasil pengamatanku ‘berkeliaran’ secara maya dari rumah ke rumah yang dimiliki seorang ibu, sungguh tak pernah habis untaian kata yang diungkapkan tentang buah hatinya. Berbagai tipe blog ibu-ibu dari jaman dulu hingga sekarang, sudah banyak membuktikan kenyataan itu. Apakah ia tergolong ibu muda, pertengahan atau jelang lansia, selalu tercantum sekelumit cerita berkisar sang penyejuk mata.

Bahkan cerita sudah digores semenjak proses menjadi ibu dimulai. Dari telat datang bulan, tes kehamilan, ‘ngidam’pas hamil muda, sampai tri semester berikut, diurai dengan detil segala gejala dan perasaan seorang ibu pada khalayak di jagad maya. Tentu saja berita kelahiran jabang bayi segera diumumkan dengan gejolak suka cita  luar biasa, berikut pose bersama permata hati yang nampak mesra.

Oya, mohon maaf sebelumnya bagi kaum bapak yang mampir, tulisan saya ini bukan bermaksud diskriminasi. Hanya sebagian besar contoh saja kok yang diambil dari kaum ibu. Meski para ayah juga tak kurang yang menampilkan cerita cintanya dengan anak-anak mereka. Tapi rasanya belum ada yang sedetil torehan cerita ibu tentang masalah ini. Wajarlah jika pada umumnya sosok ibu lebih dekat dengan anak, karena mereka pasti lebih banyak berinteraksi  secara hati dan fisik.

Gitruu...:)

Lanjut yak,

Seiring dengan pergantian hari, tiap tahap perkembangan anak yang memang menarik untuk dicermati, selalu dikupas dengan rinci. Kebahagiaan yang meliputi sepanjang waktu itu nampaknya akan sangat sayang jika disimpan seorang diri atau antar keluarga/kerabat saja. Semua rasa, bangga, sedih, kagum, marah, lelah, geram, bahagia, inginnya juga dibagi pada semua sahabat maya.

Mulai dari cerita ringan seperti, main slang air, coretan pertama di tembok, celoteh iseng dan lucu, cara buang air, kata-kata cadel, gaya sisiran rambut, kebiasaan tidur, jalan-jalan tamasya, gerak tubuh, mimik wajah, tangan dilipat, duduk yang manis,…deesbe-lah. Sampai cerita yang agak berat, macam sakit parah, kelainan fisik, terapi bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, kecelakaan, penganiayaan, bakat terpendam, penghargaan istimewa,… wuih banyak banget deh pokoknya. Yaaa, semuaaanya diberitakan teramat indah dibubuhi harap serta untai do’a yang tersemat bagi karunia Allah berharga itu.. Kalau perlu seluruh dunia tahu dan ikut mengamininya. Kalau bisa semua makhluq ikut memahami, menanggapi pun merasakan betapa besar rasa sayang ibu terhadap putra-putrinya. Tiap kalimat yang terangkum rapi dalam file yang ditulis oleh seorang ibu mengandung asa, agar jika mereka besar nanti bisa menyelami kisah kasih yang tulus tak pernah putus. Tercatatkan bagi jiwa-jiwa baru cikal bakal generasi penerus.

*Coba bayangkan bagaimana kasih sayang Allah pada kita, yang kadarnya sangaaaat jauuuh melebihi kasih sayang ibu pada anaknya ? *


Sesama wanita dengan peran yang serupa,  aku selalu larut menyimak kisah cinta seorang ibu yang bergelora. Ikut tersenyum mengamati wajah-wajah mungil tanpa dosa di kumpulan album mereka. Turut tenggelam dalam cerita pilu penuh guncangan saat buah hati harus terkapar di rumah sakit. Terbawa geli dengan celoteh lucu plus ga penting putra/i mereka. Trenyuh membaca kegetiran ibu bila si anak mulai sulit untuk diajak komunikasi. Kagum dengan perjuangan mereka mendidik keturunannya dengan sabar dan bijaksana. Tak jarang airmata ikut-ikutan menggenang, akibat haru terhadap deskripsi kasih sayang dari tiap anak mereka yang tak terduga bentuknya. Ah, masih banyak lagi sebenarnya perasaan yang berkecamuk tiap menikmati kisah mereka. Rasanya jika semua dikumpulkan, bisa-bisa menambah seri buku “Chicken Soup for a Mother Soul” hingga edisi tak terhingga.

Menyentuh, menggetarkan dan penuh warna.

Biasanya setelah itu aku suka kembali merenungi perjalanan karir sebagai ‘madrasah’ bagi dua pejuang kecilku. Rasanya masih banyak hak mereka yang belum kutunaikan dengan sempurna.

Berada dalam kondisi dirantau di Negara yang minim komunitas muslim, seringkali membuat hati ketar-ketir menjaga keimanan mereka. Beberapa teman senior yang sudah kategori punya mantu juga ikut menelorkan wejangan setiap ada kesempatan berbincang. Rata-rata yang punya anak wanita, banyak yang segera menikahkan setelah mereka lulus Senior High School. Yang punya anak pria mewanti-wanti agar selalu awas terhadap gelagat anak yang mudah terbius racun ‘drugs’. Kisah pergaulan remaja yang begitu bebas disini lebih sering membuat cemas dan hati bertanya gamang,

“Apakah mereka bisa selalu terjaga di jalan-Nya yang lurus?”

*sambil terbayang surat At-Tahrim ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”*

“Dapatkah aku membesarkan mereka di tengah hiruk pikuk godaan duniawi yang semakin tak terkendali ?”

“Bagaimana kelanjutan hidupmu nanti , nak ?”

hhhhh…

Memang semua kekhawatiran itu tak berguna kalau tiada usaha membesarkan anak-anak dengan pendidikan agama sedari dini. Melalui media keluarga, tempat pertama mereka dibesarkan. Wadah tumbuh yang paling ideal dalam mengambil contoh berikut ilmu guna bersosialisasi. Namun tetap saja ada kecemasan bergayut jika bekal yang kusiapkan untuk mereka tak mencukupi. Sedang diri ini masih dalam terseok-seok belajar untuk menjadi orang tua, guru, kakak, sahabat, bagi mereka.

*sigh, lagi*

Berdasarkan literatur  Islam yang pernah kupelajari, kedudukan anak bisa berfungsi amanah juga fitnah (ujian). Dua posisi ini perlu dicermati betul oleh orangtua. Ia bisa menjadi investasi yang menguntungkan orangtuanya di akhirat kelak bila kita mampu mengemban amanah Allah ini dengan benar. Mampu menanamkan aqidah yang mantap, menasehati dengan lembut dan sabar, dan memberi teladan dalam berakhlaq mulia. Sebaliknya ia pun bisa menjadi ujian/fitnah, jika kehadirannya ditengah keluarga malah memudarkan kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya. Lantaran perhatian orangtua yang hanya tercurah demi memenuhi kesejahteraan duniawi mereka saja, akhirnya sering berujung terabaikannya waktu-waktu ibadah. Berhati-hatilah juga dalam mensikapi kelebihan potensi anak baik lewat tulisan maupun lisan kita. Sebab ia bisa menjadi sinyal tumbuhnya sikap saling berbangga-bangga diantara orangtua. Alangkah baik jika yang dibanggakan berupa prestasi akhirat agar menjadi cambuk untuk berlomba dalam kebaikan dengan sesama. Tapi bila yang dijadikan ukuran kebanggaan cuma berkutat seputar prestasi dunia……?

Hhmm….nampaknya kita perlu lebih giat ‘belajar’ lagi jadi orangtua, bila ingin ‘lulus’ dari  ujian’ Allah ini.


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". [ Qs. Al-Hadiid : 20 ]

Belajar bareng yuk ?

***********

pic taken from here



Blog EntryDialog Cinta, Suatu MalamOct 21, '08 1:44 AM
for everyone

Setiap malam menjelang tidur ada ritual yang tak pernah dilewatkan oleh pejuang-pejuang kecilku. Ritual singkat yang membuat mereka candu gelisah bila tak tertunai sebelum menutup mata. Sejak mereka kecil, mungkin saat usia Umar, sulungku, 3 tahun (Hamzah baru saja lahir), aku mulai membiasakan ritual ini untuk mereka.

Kuusap kepalanya, kubelai ubun-ubunnya, sambil komat-kamit berdo'a (seperti di sini) :

"Allahumma ihfazh hu min baini yadaihi wa min kholfihi wa 'an yamiini hi wa 'an syimaali hi waq dzi fit tauhiida fii qolbi hi wa a'inni 'alaa tarbiyati hi yaa Arham Arraahimiin. Allahuma inni u'iidzuhubika wa dzurriyatahu min asyyathoonirrojiim."

Selalu. Saat tiba waktu beristirahat di pembaringan, mereka kan datang dan berkata,

" Eh, Ummi kan blom do'ain kita..."  atau

"Oiya, do'ain dulu dong Mi...." 

seraya menyorongkan kepala-kepala mungil di depan wajahku.
Atau, jika mereka melihatku masih sibuk menyetrika ataupun sedang online di depan komputer..tetap mereka mengingatkan manja,

"Nanti Ummi ke kamar ya do'ain kita...."

Begitupun saat aku ingin tidur lebih cepat dari jam tidur mereka, karena kurang sehat atau terlampau penat, tatkala aku pamit tidur, salah satu tetap akan ingat dan berkata cemas,

" Nanti gimana dong Mi do'ainnya....?"

Biasanya kujawab sedikit bawel,

"Makanyaa, cepet gosok gigi dari sekarang. Udah gitu langsung sholat 'Isya.
Mumpung Ummi belom tidur...Jadi bisa dido'ain."

*exhausted, kadang bikin galak mode ON*

*******

Malam itu, saat aku menunaikan ritual kecilku seperti biasa...
Terbitlah rasa ingin tahuku : Mengapa mereka begitu addicted dan terus menagih jika do'a Ummi belum terlaksana.
Kudekati Umar. Sepertinya ia sudah lebih rasional untuk dijadikan teman diskusi.
Setelah mendo'akannya, aku berbaring disisinya dan bertanya,

Ummi : "Bang, kenapa sih abang selalu minta do'ain Ummi sebelum tidur ?"

Umar : "Enak ajaah...., dielus-elus terus disayang sama Ummi."

Ummi : "Then, how do you feel after di do'ain Ummi ?"
            "Are you feel safe, secure, happy ...or what ?" *tatapan menyelidik*
            
(aku kasih option supaya ia mudah mengekspresikan rasa hatinya)

Umar : Diam berfikir agak lama dengan mata menerawang....
           Sejurus kemudian dia menatapku sambil menjawab mantap,
           "Feel grateful......"

Ummi : Bengong ga percaya dengan apa yang terdengar..
            "Apa bang...?" *suara pelan tercekat*

Umar : "Feel grateful that I have a mom like you."

Ummi : "Ohhhh......"

Kubenamkan wajahku ke dalam pipi empuknya. Lembut dan lamaaaa......
Lalu kubisiki telinganya dengan untaian do'a penuh syukur dan harap pada-Nya.


Ya Allah masukkan ia ke dalam generasi Rabbani yang Kau cintai....

     

Blog EntryTarget Ramadhan The BoyzSep 1, '08 9:37 PM
for everyone



Semakin dekat hari-hari mendekati Ramadhan, seperti biasa aku kembali mendengungkan petuah nan bijak bestari bagi Umar dan Hamzah, dua bocah laki-laki kucinta itu. Seperti biasa pula Umar menyimak dengan serius dan Hamzah terlihat cuek sambil bermain benda-benda di sekitarnya. Kadang kupikir si bontot ini memang masih sulit diberi pengertian dengan cara ceramah yang mengandung kecerewetan bermutu. *teuteup..* Jadi kufokuskan pada abangnya saja kemudian.
Kami lalu menyusun target bacaan Qur'an yang harus Umar kejar selama bulan Ramadhan.
Ya, minimal dalam sehari dia kurayu agar mampu menyelesaikan setengah juz. Maksimalnya se-juz. Alhamdulillah dia menyanggupi, meski aku harus siaga mengingatkannya tiap waktu sholat (kecuali dzhuhur, karena dia masih di sekolah).

Nah, ternyataa..pada hari pertama kemarin, siapa sangka Hamzah pun mampu menahan lapar dan haus. Meski sahurnya istimewa karena mulai jam 7.30 am, dan di pertengahan hari 'jebol' sedikit dengan beberapa gigitan roti, dia mau menahan lagi sampai magrib tiba. Ummi sampai sorak sorai bergembira, tepuk tangan dan jejingkrakan. *hehe..untung ga sampe ngemil-ngemil*
Ah..ah...rupanya dia mendengar juga petuahku. Ga sia-sia kemarin-kemarin ngomong sampai berbusa-busa di sepanjang jalanan ke sekolah. *kering-kering dah tengggorokan*

Dan hari ini...ya di hari kedua ini, hai orang-orang yang berpuasa, saksikanlah ! *eleuh*
Untuk pertama kalinya Hamzah mau ikutan sahur di waktu yang sebenarnya. Dengan mata mengantuk dia rela kusuapi, sambil main nintendo DS (supaya melek dikit). Memang jika dibandingkan dengan abangnya, yang memulai puasa penuh di usia 4,5 tahun, usia Hamzah yang 6 tahun ini agak sedikit terlambat. Biarlah...yang penting dia sudah mau memulai tanpa banyak rewel dan ngambek. ;)) 

Sebelum berangkat sekolah tadi dia masih bertanya bekal rotinya.
Aku pompa terus semangatnya bahwa dia bisa menahan lapar dan haus seperti kemarin. Sedikit tersipu, dia mengaku lupa kalau sedang berpuasa.

Aku bilang bahwa Ummi begitu bangga pada kemauannya untuk berlatih puasa.
Dan kukatakan, akan ada hadiah banyak menanti karena usahanya.

Dari Allah langsung pun melalui Ummi. InsyaAllah.

Mudah-mudahan kuat ya nak....



Photo AlbumOuting TPA Qurrota'ayun (19 photos)May 21, '08 8:06 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Satu program yang dinanti tiap liburan term sekolah oleh murids TPA (dan guru2nya pastii...) adalah Outing, alias Bertamasya sambil belajar begitu maksudnya kira-kira.
Sebenarnya sejak daku diserahi mandat mengurusi TPA dan perniksnya, terhitung sudah tiga kali kita mengadakan Outing. Maunya sih sering-sering, tapi apa daya...waktu dan biaya sulit dikompromikan. Jadi setahun sekali rasanya sudah cukup membahagiakan anak-anak dan para pengurus yang baik hati, tidak sombong, murah senyum, suka ngemil dan rajin bergaya ketika difoto itu.
(weleehh, siapa banged ini ya..?)

Berhubung seksi dokumentasi begitu sulitnya untuk dihubungi dan sejak dulu aku hanya mengemis ceceran foto dari berbagai kamera, maka postingan photos berikut hanya menampilkan dua tahap outing, yaitu :

- Tahun 2007 lalu, ke Scitech dengan
Horizonnya, planetarium yang terkenal seantero Perth.
Sayangnya waktu ke tempat ini semua larut dengan suguhan atraksi dan
berbagai sains eksperimen di dalam gedung. Jadi foto-fotonya juga seadanya
banget. Alhamdulillah aktivitas setelah itu, di Burswood Park ada juga beberapa
yang diabadikan. Meski hari ketika itu sangat mendung dan kami diguyur hujan
lebat sepulangnya. Hmm..jadi inget guru-guru bikin payung lebar dari terpal
untuk antar anak-anak kembali ke bus. Seru, karena kita kegirangan jadi basah
semuaa....
Agak-agak norak emang.

- Tahun 2008, Liburan term I bulan April kemarin.
Outing kita ke :Whiteman Park.
Whiteman Park ini adalah taman yang sangat luas dan lebih berupa taman
perlindungan tanaman dan hewan. Didalamnya ada kebun binatang, tempat
bermain, taman pepohonan macam Kebun Raya Bogor-lah, kolam renang,
toko-toko souvenirs, dan hiburan tranportasi kereta api mini.

Karena kegiatan outing TPA kali ini bertema "Treasures Hunting", maka kita
memilih lokasi yang layak dijadikan tempat mencari jejak.
Acaranya lumayan sukses....Alhamdulillah.
Padahal survey ke tempat tersebut cuma dilakukan sekali saja. Itupun banyak
perombakan lagi dalam penentuan lokasi tiap pos. Selebihnya ya
mengandalkan gladi imajinatif temen-temen yang ga ikut survey.
Akibatnya ada satu kelompok yang kesasar melulu dari satu pos ke pos lain.
Mungkin juga karena guide-nya error dalam hal membaca peta.
huehehe.. (kebanyakan bikin kueh kali...)

Senang rasanya melihat anak-anak yang begitu riang berlarian dan seriyus memecahkan games yang kita buat. Ditambah dengan kreasi 'yel-yel' tiap kelompok yang lucu, kreatif dan bikin sakit perut, membuat hari terasa begitu singkat. Beberapa jam berlalu dan letih nampaknya belum menghampiri, kami sudah harus segera kembali ke rumah.

Membayangkan tiap peristiwa bersama mereka, selalu saja menyisakan senyum di hati. Tengkyuuu so much to all teachers ! Hanya Allah saja yang dapat membalas segala susah payah, tenaga, pikiran dan waktu yang dicurahkan untuk bekerja dengan sukarela di TPA kita. Jangan bosen dibawelin kepsek. Kalo udah pada bosen, jadi kepsek aja sekalian. qeqeqe....
Afiiit, stand by terus jadi sie acara ya....

So, mau kemana lagi kita liburan nanti ? Any request...?



Blog EntryKecupan dan Do'a untuk UmarApr 3, '08 10:39 PM
for everyone
Kemarin [3/04], sembilan tahun lalu adalah sejarah hidupku yang tak terlupakan.
Kebanggaan, keharuan, kegembiraan, kesyukuran, seolah jadi satu menyelimuti perasaan.
Impian dan harapan wanita seluruh dunia telah menghampiriku.
Ya, saat itulah aku menjadi seorang ibu. Sebuah fungsi naluriah yang didamba kaum hawa.
Meski penderitaan, kesulitan dan segala bentuk siksaan lahir batin seringkali mendera selama sembilan bulan hingga proses persalinan. Terbuktilah ketahanan fisik wanita lebih kuat dari pria, walau ia acap terlihat lemah lembut gemulai.

Sulungku, Umar, terlahir normal 3.25 kg.
Disambut sukacita oleh seluruh keluarga.
Dipenuhi rangkaian do'a dari sanak saudara dan handai taulan.

Subuh menjelang, tepat di usianya yang ke-9 ia terjaga di sampingku.
Aku menatapnya dalam dan membelai rambutnya. Berbisik pelan mengingatkan bahwa ia sudah beranjak besar. Mencium keningnya lebih lama seraya berdo'a :

"Allahumma ihfazh hu min baini yadaihi wa min kholfihi wa 'an yamiini hi wa 'an syimaali hi waq dzi fi tauhiida fii qolbi hi wa a'inni 'alaa tarbiyati hi yaa Arham Arraahimiin. Allahuma inni u'iidzuhubika wa dzurriyatahu min asyyathoonirrojiim." *
(penggalan do'a syaikh Ahmad Al-Qotton ini biasa kupakai untuk mengantar anak-anak tidur sambil memegang ubun-ubun mereka.)

Lalu berpesan padanya agar ia lebih rajin untuk mengulang hafalan Qur'an-nya dan menambah tilawah hariannya menjadi dua halaman. Ia mengangguk dan tersenyum.
Ketika kutanya makanan apa yang ingin aku buatkan hari itu, ia menjawab setengah mengantuk, "Bikin sup aja deh mi, yang ada wortel dan kentangnya. Sama perkedel jagung."
Duh, sederhana sekali keinginanmu nak. Begitu pengertiannya pada Ummi-mu yang tidak mahir memasak ini. *hiks..

Begitulah seringkali ketika usianya bertambah.
Selalu sederhana, tak ada yang spesial.
Tak ada hadiah.
Juga kue ulang tahun dan lilin.
Apalagi pesta.
Ia pun tak pernah memintanya, walau aki dan enin-nya bersikeras untuk membelikan kue ulang tahun.
Biarlah, memang aku ingin membiasakannya.
Hanya kecupan lebih lama dan do'a saja yang ia dapat kini.
Dan Umar selalu saja penuh pengertian.....pada siapapun.



Ya Allah, berikan aku kemampuan untuk menjaga amanahMu ini.



*arti do'a diatas : "Ya Allah jagalah dia dari depannya, belakangnya, sampingnya. DAn curahkan tauhid di dalam hatinya dan tolonglah aku dalam mendidiknya. Ya Allah, sesungguhnya aku mohonkan perlindungan kepadaMu atas dirinya dan keturunannya dari syaithon yang terkutuk."


Blog EntrySekotak coklat untuk kejujuran HamzahMar 18, '08 5:01 AM
for everyone

Musim panas seperti tak berkesudahan. Hawanya begitu membuat kering kulit dan tenggorokan. Cuaca yang menyengat tak jarang pula menyebabkan sebagian orang kehilangan kesabaran atau lebih mudah marah karena hal-hal sepele.

Memandangi kedua anakku sepulang sekolah di musim ini, seringkali terbit rasa ibaku untuk menghibur kelelahan mereka dengan sepotong es krim. Meski tentunya aku tidak akan setiap hari menghadiahi es krim, kecuali dengan syarat. Dan seperti biasa,  kami pun membuat kesepakatan kecil selanjutnya, bahwa mereka akan mendapat hadiah es krim jika dan hanya jika 'lunch' mereka habis tandas pada hari itu. Sebenarnya lunch yang aku sediakan untuk mereka bukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Terbatasnya waktu makan siang di sekolah adalah alasan yang paling sering dikemukakan anak-anak hingga sulit menghabiskan makan siang bawaan mereka. Ditambah godaan untuk bermain dengan teman-teman....waahh, boro-boro habis tuh makanan, lapar saja mungkin bisa hilang seketika.

Akhirnya dengan kesepakatan itulah, laporan yang sama kuterima tiap hari begitu mereka masuk mobil sepulang sekolah.

"Lunch abang habis mi. Ga tau Hamzah.", Umar lugas melapor seraya melirik adiknya.
Sementara yang dilirik pura-pura sibuk pasang seat belt dan senyum  dikulum.
Hmm...ini pasti  tanda ga habis pikirku. 

"Coba aja Ummi cek sendiri deh punya Hamzah", bungsuku langsung menyerahkan lunch box-nya dengan gaya misterius.

"Oo...oh, Subhanallah...punya dede juga habis nih...!", seruku berdecak kagum. ( karena biasanya Hamzah ini yang suka bermasalah dalam menghabiskan lunch).

Mulanya dia tersenyum bangga dipuji demikian. Dan hampir saja aku membelokkan kemudi stir ke arah 'warung es krim' sebelum sesaat kemudian Hamzah melanjutkan 'pengakuan'nya,

"...engg...kan tadi waktu lunch time H makan roti, trus waktu H taro sebentar ada yang step.., ga tau siapa. H ga liat his face. Jadi rotinya H buang, udah kotor ", sambil terbata dia berusaha menjelaskan. (Dia memang biasa menyebut dirinya dengan 'H')

"Yaah, berarti Hamzah ga ngabisin lunch-nya dong ?"
"Masih banyak atau tinggal dikit tadi ?"
"Siapa yang injak makanan Hamzah ?"
"Kok ga lapor ke teacher-nya ?"
Berondongku dengan pertanyaan yang membuat dia semakin terpojok.

"Ah-ah mohon maaf ya sayang, kita ga jadi beli es krim."
"Abis makan siang Hamzah ternyata ga habis " , ujarku datar tanpa perasaan.

Dan mulailah perjalanan pulang ke rumah hari ini diwarnai oleh kekesalan yang membuncah di dada Hamzah. Merengek sambil menahan tangis kemarahan, sementara kakinya terus menendangi bangku di depannya. Bibir mungilnya terus menciut  manyun, sambil mengggerutu tak jelas. Alisnya bertaut, 'nyureng', inget istilah sunda dari mamaku jika aku cemberut.
Aksi nyurengnya itu masih berlanjut sesampainya di rumah. Padahal saat itu tetanggaku, Eileen, seorang nenek yang hidup sendirian di sebelah rumah persis, datang tiba-tiba masuk garasi sambil menenteng sebuah kantong plastik di tangannya.
Oalaa.....dengan sedikit berbasa-basi dan senyum ramahnya ia lalu menyodorkan sekotak coklat untuk kami. Ahaa...satu kejutan manis di sore hari.....

Hamzah tetap tak bergeming. Ngambek.
Tantrumnya kambuh.
Kemarahannya baru sedikit reda setelah iseng-iseng aku mengambil fotonya yang sedang manyun. Ampyuuun....narsis tingkat tinggi nih, dia langsung senyum bergaya gituu. (entah dari mana bakat ini turunnya. *pura-pura ga tau*)



Pada awal menuliskan ini, aku hanya berpikir hanya sekedar ingin bercerita. Namun sesaat sebelum menyelesaikannya, aku seperti tersadar....bahwa sekotak coklat yang kini tergeletak di meja makan itu mungkin adalah hadiah dari Allah untuk bungsuku.
Hadiah, karena dia telah jujur padaku tentang kejadian lunch time-nya tadi siang. Meski dia tahu akibatnya tak mendapat es krim di sore nan menyengat.
Dan Allah telah menggantinya dengan hadiah yang lebih manis dan banyak.

Sedang aku termangu akan kesadaranku yang datang terlambat.
Kesadaran untuk menghargai sebuah kejujuran.




Photo Albumde Boyz (16 photos)Mar 16, '08 3:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Keseharianku menjadi lebih berwarna ketika lahir dua 'tentara' kecilku ini.
Setiap saat selalu ada saja ulah mereka, yang terkadang membuat emosi begitu membara, namun di saat lain hati terasa sangat sejuk dan damai. Merekalah amanah dan fitnah yang mampu membuat seorang ibu rela melakukan apa saja demi kebaikan buah hatinya. Mampu membuat seorang istri yang lemah menjadi kuat walau diterpa ujian fisik dan mental sekaligus dalam rumah tangga. Mampu meneguhkan hati wanita manapun untuk membuktikan kodratnya.

Sesungguhnya di tengah tingkah polos, jeritan tangis pun tawa, tatapan mata manja, ciuman sayang, peluk hangat, komentar iseng atau berjuta pertanyaan ingin tahu mereka...., ada do'a yang tak putus bagi kebaikan keduanya,
ada cemas dan harap menggayut bagi perjalanan hidup mereka kelak. Akankah aku menjadi ibu yang dapat mengemban amanah Allah ini dengan baik ?
Men-tarbiyah mereka sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul ?

Siang dan malam, do'a itu selalu terpanjat.
Bagi kalian buah hatiku.

"Ya Allah jadikanlah anak-anakku dan keturunannya kelak sebagai generasi Rabbani, yang senantiasa berkomitmen memegang syari'at-Mu. Bermujahadah dalam amal sholih karena-Mu. Dan matikanlah mereka sebagai syudaha di jalan-Mu......."

Semoga Allah perkenankan.

Photo AlbumKhitanan Hamzah (14 photos)Feb 17, '08 2:36 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sudah direncanakan dari setahun sebelumnya kami berencana meng-khitan Hamzah jika libur ke Indonesia akhir 2007 lalu. Berbagai provokasi dan iming-iming pun dikerahkan setelah itu. Mulai dari aki, enin, abo, nenek, paman, tante, tetangga, teman semua selalu mengungkit masalah khitan jika berbicara padanya. Maksudnya sih untuk membiasakan telinga dan hati Hamzah jika saatnya tiba nanti.
Alhamdulillah, cukup berhasil rupanya usaha kami. Dibanding abangnya, Hamzah terlihat lebih tegar ketika menit-menit 'eksekusi' dilakukan. Teriakannya ga terlalu histeris lah. Masih sempet senyum kecut pula ketika difoto sebelum dijahit.

Proses khitan ini kami pilih yang ala konvensional. Banyak memang metode khitan lain yang memberi solusi tidak berdarah, tidak sakit dan tidak dijahit. Tapi kami memilih yang biasa dilakukan secara medis. Mungkin karena anak pertama juga dilakukan seperti ini dengan dokter yang sama, jadi biar adil disamakan juga lah perlakuannya dgn si abang. (Padahal pingin juga eksperimen pake metode lain, sapa tau hasilnya beda. hehehe...Buat anak kok coba2 yaa...alat vital nih !)

Beberapa bagian sengaja di sensor. Khawatir dikategorikan pornografi nanti..:p
Hamzah sendiri ngeri kalo liat foto2nya. Mungkin bikin dia ngilu dan membangkitkan kenangan dramatis yang tak mau terulang lagi seumur hidup.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.