Sudah lama sebenarnya aku ingin mengabarkan pada dunia bahwasanya aku menemukan sebuah tempat makan yang ruarrr biasa kenikmatannya yang mengakibatkan air liur selalu menagih menuju kesana. (halaah, bombastis mode ON). Awalnya kabar ini selalu digembar-gemborkan oleh ipar tercintah, sebagai partner kompak dalam berburu jajanan lezat ketika kami masih sering bersama di Indo.
Melalui sambungan interlokal, waroeng SS (nama populer) ini ia sebut-sebut dengan semena-mena dan penuh semangat dalam mengabarkan sebuah nikmat tak terlupakan. Demi menancapkan bayang-bayang sebuah cita rasa ia tega mendeskripsikannya tanpa melihat air mukaku yang berkali-kali menelan ludah. Muka kepingin ga jelas gitu lah...hehehe
Walhasil, atas penanaman hasrat yang sangat intens tersebut, program pertamaku ketika mudik tahun lalu adalah memuaskan selera lidahku sekaligus membuktikan kabar heboh yang dibawa bertalu-talu di telingaku secara jarak jauh itu. Aku ingat di pagi hari sebelum kita get lunch di SS, iparku dengan penuh bijaksana berkata, "Kalo mau makan di sana, kita jangan sarapan pagi sis, ini harus diikuti demi keinginan kita untuk tetap terlihat berbentuk." Dia berbicara pelan didepanku sambil melirik ke sekeliling, tepat di telingaku, yang kala itu sudah terlanjur memasukkan suapan sarapan pagi ke mulut. Seakan-akan pesan itu begitu membahayakan untuk dilanggar. Beuh, aku hanya melengos dan menghabiskan santapan pagi itu santai. Tubuh berbentuk seperti apa yang dia maksud. Gitar kan ga mungkin, sahutku dalam hati. Hanya sebuah mimpi usang yang hanya membuat stress para ibu-ibu umumnya.
Tepat jam makan siang, ba'da sholat dzhuhur pergilah kami. My mom, my sister in law serta anak-anak yang setia mengintil dan berteriak-teriak rusuh tancap gas menuju waroeng SS yang letaknya ternyata cuma 'kepeleset nyampe'.
Memasuki ruangannya, kesan yang tertangkap sederhana dan unik. Ruang makan disitu dibuat menjadi dua bagian. Sebagian untuk lesehan, sisanya buat yang ga suka makan sambil menekuk lutut. Pastinya kami memilih yang pertama. Posisi lesehan rasanya lebih mendukung gaya makan ala kuli yang akan kami peragakan kemudian.
Lalu kulihat beberapa pajangan yang unik tertempel dilindungi pigura di dindingnya. Isinya kebanyakan artikel atau tips dengan gaya bahasa yang lucu. Mengingatkan permainan kata produk dagadu Jogja. Maskot waroeng SS yaitu Mr. Huuh Haah yang disimbolkan dengan cabe merah mengkilat, berkacamata (kenapa juga pake kaca mata ? ), tersenyum mengacungkan jempol persis di depan loket dapur.
Hari itu aku menyerahkan pesanan pada ahlinya. Ibu dan iparku.
Memasrahkan diri akan dibawa kemana lidahku nanti. Disini tersedia 21 macam sambal (yang sudah ditemukan kreasinya) dengan nama-nama nyentrik. Alisku sampai berkerut dan bergumam...ini kita mau makan sambal pakai nasi atow makan nasi pakai sambal ya ?
Kalau tidak salah waktu itu kami memesan : Nasi putih satu cething (satu bakul kecil), sambal tempe semangit, sambal kecap, sambal pusing, wader goreng (semacam teri), sambal gobal-gabul, dan ayam goreng sebagai pemanis.
Tak lama kemudian, pesanan pun datang.
Suasana hiruk pikuk mendadak sontak berubah. Begitu tuma'ninahnya kami makan, hingga yang terdengar hanya suara tarikan cairan di hidung (waks...), berikut kecapan 'Huuh-Haah' seperti nyanyian suku primitif di pedalaman. Obrolan pun terhenti, sedang tangan begitu giatnya menyendok nasi ke mulut dan menyeka keringat yang bercucuran, memenuhi seluruh wajah. (gaya kuli angkut makan dengan sempurna terwakili sudah).
Dalam waktu kurang dari setengah jam, seluruh piring ludes tak bersisa.
Jari-jari tangan pun tak luput untuk dibersihkan satu persatu. Kali ini anak-anak langsung rebah karena lingkar celana mereka sulit untuk dikancingkan. Jilbab kami miring tak simetris akibat terlalu aktif menguyah. Bibir kami memerah alami dan terasa sedikit menebal. (atau agak ndower lah bhs gaulnya). Laksana prajurit yang kalah usai pertempuran, aku terduduk lemas tak berdaya dengan bibir megap-megap persis ikan mujaer. Ancyuurrr....
Sambil meneguk minuman dingin berkali-kali aku hanya berkomentar pendek pada sponsor : "Kita harus sering-sering ke sini." Spontan iparku meledek, "Yeee, kita mah udah dari duluu, ente aja yang telat....". (Yeee, namanya juga dirantou). *si dower pun tambah maju*
Begitulah, selama aku berlibur ke kampung halaman sudah tak terhitung berapa kali aku makan di waroeng SS. Istilah "kapok sambal" betul-betul menjelma nyata sobats. Rasa jahanamnya melambai-lambai tiap kali perut bereaksi minta diisi. Kini, aku hanya menelan liur pasrah. Sambal udang favorit plus sambal tempe yang khas itu cuma bisa menari-nari di kepalaku, sambil tersenyum mengenang "SALAM PEDAS ABIS"-nya Mr. Huuh Haah.
PS :
Sobats, bagi yang doyan puedeess abis di Indo..bisa berkunjung ke :
-
Jogjakarta-
Bandung-
Solo-
sini, info paling Komplit.
Selamat ber-Huuh Haah !
inget tips ini : "jangan sarapan pagi dulu Boss" ;D, en "ati-ati kalo buat dinner, bisa sulit tidur karena perut bereaksi panass"