Isy Kariman Aw Mut Syahidan

ilalang's posts with tag: qur'an

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
MusicTarhib RamadhanAug 28, '08 10:01 PM
for everyone
Keimanan menjadi penentu bagi tiap mukmin untuk mengoptimalkan ruh ibadah di bulan Ramadhan. Puasa sebagai ibadah utama di bulan suci juga melambangkan kesyukuran kita atas karunia tertinggi Allah itu, yakni : Iman.
Rangkaian do'a khusus di bulan Ramadhan yang memenuhi langit dunia ketika kita Shoum hendaknya betul-betul diresapi maknanya. Terutama yang berkaitan dengan harapan untuk kehidupan akhirat.

Seperti biasa Taujih Ust. AA, penuh metafora.., berbobot dan selalu menggugah semangat ibadah. Apakah itu Shaum, Sholat, Tilawah, maupun Qiyam.

Lagi-lagi terimakasih tak terhingga pada akh Wanda Yulianto, yang begitu rajin mengirimi rekaman Ustadz Abdul 'Aziz. Moga jika ada pahala dari tiap hati yang tercerahkan, niscaya mengalir juga untukmu.
JazakaLlah bi ahsanil jazaa...

VOC004.WAV   

Blog Entry[Dia Inspirasiku] Belajar dan Mengajar Al-Qur'anAug 7, '08 10:04 PM
for everyone

Suatu hal yang tak pernah kusangka sebelumnya, jika kepindahanku ke negeri Kangguru ini membawa berkah  bagi sebagian saudara seiman.
Masih terbayang di benakku dahulu beratnya rasa hati meninggalkan, bukan saja sanak saudara, namun juga aktivitas mengajar Al-Qur’an untuk murid-murid Sekolah Dasar dekat tempatku bermukim. Belum lagi kegiatan mengajar tahsin Qur’an di masjid bagi mahasiswi atau karyawati di akhir pekan. Betapa singkat terasa pertemuanku dengan mereka. Sepertinya baru saja kureguk manis pahit berkecimpung dalam dunia pendidikan dan menikmati jerih payah menanamkan hafalan pada mereka, aku harus meninggalkan semua itu ke negeri orang.
Menuju Perth, ibukota bagian barat Australia, dimana suamiku mendapat kontrak kerja disini. 

Dua bulan berselang setelah aku menetap di Perth, awalnya beberapa teman dekat bertanya, mungkinkah aku mengajarkan tajwid Qur’an pada mereka setelah tahu latar belakang kegiatanku dulu. Tentu saja dengan senang hati kusanggupi permintaan itu. Bagai kucing diumpani ikan, aku kembali bersemangat menjalani hari-hari di kota sepi ini. Otakku terasa mengembang lagi setelah sekian lama diperas dalam urusan persoalan domestik rumah tangga yang tak akan kunjung habis jika dipikirkan. Gairah untuk menyampaikan satu ayat Allah saja seperti menggebu-gebu, walau grafik imanku lebih sering berada di bawah standart teman-teman yang kunilai sholih. Duh....

Tak dinyana belum lama satu kelompok majlis Qur’an berjalan, semakin besar animo ibu-ibu Indonesia yang ingin bergabung. Mulai dari yang berstatus Permanent Resident sampai Student nampaknya cukup antusias dengan kajian Tahsin Qur’an ini. Ada juga beberapa yang berasal dari Singapura atau Malaysia. Satu kelompok yang maksimal kubatasi hingga sepuluh orang, membludak hingga lebih dari lima belas orang. Maka pembagian pun dilakukan agar proses pembelajaran menjadi efektif. Sebab agak sulit memantau perkembangan tajwid tiap individu jika terlalu banyak murid dalam satu kelas. Sampai akhirnya hari-hariku penuh diisi dengan kelompok Tahsin Qur’an yang berbeda. Dimulai pagi selepas mengantar anak-anak sekolah, sampai jadual menjemput tiba, aku singgah dari pintu ke pintu nyaris setiap hari karena masing-masing ingin rumahnya ketempatan. Kembali kupuaskan rindu pada aktivitas mengajar dan belajar. Belajar untuk mengajar atau mengajar dalam rangka belajar. Terus demikian. Memenuhi dahaga atas ilmu yang memang tidak boleh berhenti untuk digali dan diberi.

Belajar dan mengajar.
Inilah dua kata yang kemudian selalu berputar di otakku sejak aku me
ndapat ilmu darinya. Ya, sekitar delapan tahun lalu. Setelah aku mengikuti pengkaderan singkat calon pengajar ilmu tahsin Qur’an secara intensif oleh beliau : Ustadz ‘Abdul ‘Aziz Abdur Rau’f Al-Hafizh, Lc, dialah sumber inspirasi gerak langkah dakwahku hingga kini.
Di kalangan penghafal Qur’an, nama beliau memang sudah tidak asing lagi.
Sebagai direktur Lembaga Tahsin Al-Qur’an Al-Hikmah (Mampang-Jakarta) ketika itu, reputasi beliau begitu ternama di kalangan aktivis Islam. Saat mendapat kesempatan emas untuk masuk ke dalam kelompok Qu’ran yang dipandu dengan beliau, aku seakan tak percaya. Aku bertekad untuk tak melewati barang sehari pun absen dari kelasnya, kecuali karena alasan yang sangat urgen. Alhamdulillah kupenuhi janjiku pada akhirnya. 

Pertemuanku dengan beliau disebabkan oleh terseleksinya diriku dalam pengkaderan guru tahsin yang dapat siap mengajar pada lembaga tahsin Qur’an yang baru didirikan di kompleks rumahku. Karena sumber daya pengajar sangat minim dan begitu mendesak, kami ikut pengkaderan dengan cara yang dipersingkat. Kurang lebih dua bulan lamanya, empat hari dalam seminggu, aku dan beberapa kawan muslimah digembleng kurang lebih sehari tiga jam. Senin hingga Kamis, Ustadz AA (begitu sebutan kami di belakang beliau) hadir selalu tepat waktu setelah menempuh perjalanan dengan bis dari Jakarta Selatan ke Karawaci-Tangerang.

Aku ingat penampilannya begitu sederhana. Pakaiannya pun sudah kami hafal.
Perawakannya sedang, rambutnya ikal, senyumnya lebih sering dikulum.
Suaranya khas. Serak dan berat. Beliau jarang berbicara keras dan banyak.
Setiap kalimat yang teruntai dari bibirnya niscaya mampu membuat hati seseorang terketuk ingat akan akhirat. Membuat diri terpekur akan kesibukan yang menipu hingga terabaikan interaksi dengan Al-Qur’an. Melecut semangat kami dalam memperbaiki bacaan Qur’an, memompa gairah untuk menghafal, menumbuhkan optimisme yang tinggi pada janji Allah bagi mereka yang selalu disibukkan dengan kalam-Nya dan menggerakkan harapan kami untuk bisa mengajar sedikit namun pasti. Beliau menanamkan kesabaran pada jiwa kami agar bermujahadah dalam keta’atan berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dari segi membaca, memahami, terlebih menghafal. Motivasi yang beliau sampaikan bukan sekedar keluar dari lisan, namun dicontohkan secara nyata lewat pikiran dan tingkah laku.

Masih lekat segala hal yang beliau ucap, baik teguran, nasihat maupun sindiran. Masih menempel dengan baik setiap gerik mata, bahasa tubuh atau isyarat tangan. Masih kukenang semuanya sampai sering kuceritakan kembali pada murid-muridku dengan ungkapan penuh kekaguman. Mereka memang tidak mengenal beliau. Tapi dengan bangga kusampaikan seluruh wejangan dan ilmu yang pernah beliau ajarkan padaku. Kadang penuh haru dan terbata kuulang lagi nasihat beliau yang seringkali menyentil qolbu. 
Secara antusias aku ceritakan pula  bagaimana cara beliau menegur bacaanku yang keliru ketika talaqqi (membaca Qur’an di hadapan guru), dengan hanya mengetuk spidol ke meja tanpa Qur’an di hadapannya. Atau sikap beliau ketika mengajar makhorijul huruf dengan bentuk bibir yang tepat, gaya beliau saat mendengarkan setoran hafalan kami juga tiap nasihat beliau tak luput kukutip agar dengan rinci bisa kusampaikan pada murid-muridku kini.  Bahkan saking rindunya akan nasihat beliau, aku buru koleksi ceramah singkatnya di Masjid Habiburrahman, Bandung melalui bantuan seorang sahabat yang kutahu ia aktif mengikuti kajian Qur’an bersama Ustadz AA, sehingga ia sudi mengirimkannya padaku via email.  

(Beberapa diantaranya bisa kalian dengarkan di sini, wahai sobats...)

Buku Pedoman Dauroh Qur’an (PDQ) yang beliau tulis pun akhirnya menjadi buku yang paling laris dicari oleh teman-temanku di sini. Duakali aku kembali dari tanah air, selalu disertai duapuluh buku yang langsung ludes begitu digelar. Sedemikian intensnya aku menampilkan Ustadz AA dalam bayangan mereka, sampai banyak yang penasaran seperti apa sosok yang menjadi inspirasiku itu. Kendati akhirnya terbayar dengan bantuan VCD Tahsin yang kubawa tahun lalu, namun saat melihat mereka terdiam menyaksikan Ust. AA di layar kaca, hatiku berucap...andai mereka bisa sehari saja duduk bersama beliau pasti akan lebih terasa bekasnya.


Aku memang masih jauh dari sempurna dalam mengajarkan KitabuLlah .
Belum tuntas pula kupraktekkan seluruh nasihat Ustadz AA dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hafalan Qur’anku pun lebih sering macet dibanding melaju mulus. Mengulang-ulang hafalan bahkan kerap terlupakan dari jadual ibadah harian.
Hanya bermodal pada dua kata tadi yang terus berdengung melambungkan harapku. Dua kata yang bersumber dari hadits Rasul saw, yang begitu masyhur, tentang keutamaan interaksi dengan Al-qur’an, ”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an”. Kutipan hadits yang  tak pernah bosan diulang-ulang oleh Ustadz AA setiap membuka atau menutup majelis di hadapan kami. Bagai mengukir diatas batu, dua kata itu kini terpatri di relungku. Jelas kulihat dan terasa bila kuraba. 

Belajar dan mengajar Al-Qur’an telah menjadi ’dopping’ bagi energiku sehari-hari, mudah-mudahan sampai maut menjemput. Dua amalan yang menjadi sumber harapanku (dengan sangat) agar bisa menutupi lubang dosa-dosaku yang lalu dan akan datang. Dan yang terpenting, inilah cara yang paling tepat untuk membalas segala kebaikan Ustadz AA atas sedikit ilmu yang pernah beliau turunkan padaku. Meski kutahu pastilah sudah berlimpah pahala yang mengalir padanya karena ilmu yang terus menerus terpakai dari banyak pribadi yang menjadi murid beliau. Jua karena kuyakin akan sabda Rasul saw, tentang pahala ilmu yang ditularkan itu tak kan terputus bagi pemberinya meski jasad berpisah dari ruh. Maka tetap kuniatkan  dan kupinta pada Allah swt, bahwa bila ada pahala yang kudapat dari usahaku berinteraksi dengan Al-Qur’an semoga selalu diteruskan ke rekening amal sholih beliau. Sebagai ungkapan rasa terimakasihku yang tak ternilai padanya. Atas benih inspirasi yang menumbuhkan (lagi) satu pohon di taman Qur’ani berakar ilmu, berbatang amal, berdaun sabar dan berbuah pahala.

JazakaLlah bil Jannah yaa Ustadz Kariim....

"Allahumma irhamnaa bil Qur'aan....."


***********************
P.S : 
Terimakasih buat Mbak Wanda yang penuh semangat dan cinta mengadakan sayembara menulis dengan tema : "DIA INSPIRASIKU". Sungguh membangkitkan motivasi dalam menuang rasa syukur ke bentuk tulisan. Semoga membuat banyak MPers tergugah untuk saling menularkan inspirasi demi kebaikan diri dan orang lain. Ayooo...yg mo ikutan nulis, buruan diklik link-nya mbak Wanda ituuh.



MusicTaujih Qur'an Ust. Abdul 'Aziz 'Abdur Ra'ufJul 26, '08 9:10 PM
for everyone

Dari beberapa taujih Ustadz AA, rekaman yang baru saya terima ini sungguh menyentuh realita yang kita alami sekarang.
Beliau mengingatkan, bahwa dari berbagai cobaan dunia yang menimpa umat manusia, yaitu kelaparan, ketakutan, kemiskinan, perginya orang-orang terkasih di sekeliling kita, itu hanyalah sebagian kecil saja jika dibanding rahmat dan nikmat Allah SWT.

Sebegaimana Umar bin Khattab ra berujar, "Selama musibah itu tidak menimpa agamaku, maka musibah itu merupakan sesuatu yang kecil."
Dan ingatlah, selalu ada kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar menghadapi setiap musibah dan ujian, yaitu Jannatu na'iim. InsyaAllah.

Selamat menyimak, semoga dapat meningkatkan iman dan amal kita.


PS :
Maaf, ini postingan yang diupload lagi setelah sebelumnya gagal.
Mohon laporannya jika masih tak terdengar dengan jelas ya.


Ust.aa Ba'da Subuh   




Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. An-Nahl : 98)

Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan syaitan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al-Qur’an. Godaan itu antara lain:

  1. Waswas syaitan bagi pengajar Al-Qur’an.
    Godaannya adalah “Berhentilah mengajar Al-Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!” Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al-Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila tiap pengajar tunduk dengan waswas tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
    Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki sesungguhnya hanya Allah Swt, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar Al-Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara 2 hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah Swt dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.
  2. Waswas syaitan bagi pembaca Al-Qur’an.
    Godaannya adalah menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul waswas perasaan sudah terlalu lama bersama Al-Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain. Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada wakut untuk tilawah Al-Qur’an.
    Sebagai solusinya, carilah jawaban dari dalam diri sendiri, contohnya:
    • Kita kecam diri sendiri: “Mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup sedangkan untuk bertilawah Al-Qur’an tidak ada waktu?” Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada-tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?
    • Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?” Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan memandang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah Swt kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al-Qur’an.

  3. Waswas syaitan bagi penghafal Al-Qur’an.
    Godaannya adalah bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal. Sebetulnya hanya satu keinginan syaitan: “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al-Qur’an!”
    Sebagai solusinya, antara lain:
    • Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?” Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:
      • Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi bentuk taubatannasuha kepada Allah Swt.
      • Ingin mendalami agama Islam lebih jauh, sesuai ungkapan salafush shalih: “Tidak disebut seorang itu alim kecuali jika ia telah hafal Al-Qur’an.”
      • Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.
    • Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al-Qur’an dan mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.

  4. Waswas syaitan bagi orang yang memahami Al-Qur’an.
    Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tasfir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al-Qur’an. Beberapa solusinya antara lain:
    • Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al-Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al-Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al-Qur’an karena tiap kegiatan ada fadhillah-nya.
    • Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku. Misal dalam satu pekan tiap hari tilawah, tiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja.  [ Ust. Abdul 'Aziz Abdur Ra'uf, Lc, Al-hafizh ]

"Ya Allah, jangan palingkan hatiku dari kitab-Mu dan jangan Kau biarkan lidahku berat untuk membaca dan menghafalkannya......"


*picture taken from : google*



Blog EntryBacalah SejenakMay 30, '08 4:39 AM
for everyone

Simaklah wahai makhluk berakal sempit,
berwajah dosa,
bergelimang murka, berhias kesah.
Rayu dirimu.
Gamitlah seluruh sendi jiwa...
saat alunan berirama itu meluluhlantakkan nafsu melulu.
Ialah kalimat kebenaran
yang menenangkan berontak pongah kaum durjana,
menyejukkan letupan hasad,
meniupkan ruh hamasah calon syuhada,
melantunkan kidung cinta pada penyimpan kesumat,
menyucikan debu para pendosa,
jua membangkitkan geliat iman ke pelosok dunia.

Dengarlah nadanya,
ketukannya,
intonasinya,
temponya....
Hingga kau larut dalam tiap helaan nafas-nafas suci.
Menghirup aroma dzikr penuh sensasi.
Terkesima dengan seluruh pori-pori.
Terbuai menyelinap diantara kisi hati.
Hingga gemetar, gentar terbelenggu bayang maksiat seorang diri.
Kemana kau pergi berlari ?

Kemarilah.....
Ikuti bacaannya.
Lantangkan suara. Kumpulkan segenap kemerduan nirwana.
Lamat-lamat merayap mengeja.
Biar terbata, tak  mengapa.
Usah segan, kan menanti dua pahala.
Mengayunlah perlahan tak kenal lelah, tak pantang putus asa.
Bagaimana ?

Ah, wajahmu berseri kini.
Pertanda telah bersemi taman hati.
Saatnya menggali makna, menyingkap ilmu,
mengurai amal, mengubah diri.
Ingat-ingatlah : jangan jemu terlebih henti.
Bacalah sejenak, lalu resapi.
Hingga terpatri dalam memori.
Tidakkah kau ingin ia menjadi saksi,
....di hari yang datangnya pasti ?



"Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk  membaca Al-Qur'an karena hendak cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu."
[ Al-Qiyamah : 16-18 ]




Link: http://www.quranflash.com

Sobats, berikut ada sedikit informasi tentang KitabuLlah yang diperoleh dari sebuah milis. Menarik juga untuk dipraktekkan.
Mudah-mudahan menjadi satu tambahan wawasan bagi yang belum mengetahui.

Untuk mempermudah pencarian halaman Al-Qur'an ketika membaca atau menghafal dengan menggunakan mushaf Utsmani cetakan versi Timur Tengah, ternyata dapat kita temukan dengan memakai sebuah rumus mudah, yaitu :

Nomor Juz dikali 2, dikurangi 2, kemudian hasilnya diikuti angka 2.

sebagai contoh :
Kita ingin membuka juz 15 pada mushaf,
15 x 2 - 2 = 28
diikuti angka 2, jadi = 282.

Sehingga dapat kita buktikan pula bahwa juz 2 ada di halaman 22, juz 3 di hlm 42, ...dan juz 30 di hlm 582.

Silakan mencoba sendiri ya nanti...:)
Oia, sebagai tambahan salah satu ciri fisik mushaf Utsmani versi Timur Tengah itu adalah setiap juz-nya terdiri dari 10 lembar atau 20 halaman.
Dan setiap halaman terdiri dari 15 baris. Biasa disebut 'Qur'an Pojok' juga oleh kalangan penghafal qur'an, karena setiap halamannya yang pasti berakhir
di pojok/akhir ayat. Memudahkan memang bagi yang sering Muroja'ah (mengulang-ulang hafalan).

Tapi ingat, rumus ini hanya berlaku untuk mushaf Utsmani cetakan versi Timur Tengah, tidak berlaku untuk cetakan versi Indonesia.
Ada juga beberapa cetakan mushaf terjemah versi Indonesia yang halamannya sama dengan versi Timur Tengah, seperti terjemahan yang diterbitkan oleh
Syaamil dan Diponegoro.

Nah, buat sobats yang belum memiliki Al-Qur'an Utsmani bisa lihat contohnya pada link tercantum diatas.
Bagus banget site-nya. Kita bahkan bisa memilih model Qur'an yang ada ahkam tajwidnya... (ada 8 warna sbg indikatornya), yang setahu saya masih agak sulit dijumpai di beberapa daerah kecuali memesan pada yang berangkat Umroh atau Haji ke Tanah Suci.

Mampirlah sejenak, insyaAllah bisa menentramkan hati.



VideoSaad Nomani, PART 3Apr 29, '08 9:10 AM
for everyone
[ Imitation of Syaih Budair, Hudzhaifi ]

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim hanya akan menambah kerugian ."
(Qs. Al-'Isra : 82)


Import.flv (20.2 MB)

VideoSaad Nomani, Part 2Apr 29, '08 9:00 AM
for everyone
[ imitation of Syaikh Affasy, Ghamidy ]

"Jangan Engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) ini dengan cepat, karena hendak cepat-cepat menguasainya."
"Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (didadamu) dan membacakannya."
"Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu."

(Qs. Al-Qiyamah : 16-18)


Import.flv (18.9 MB)

VideoSaad Nomani, PART 1 Apr 29, '08 8:51 AM
for everyone
[ Imitation of Syaikh Shuraim and Sudais ]

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka bertambah kuat imannya dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal."
(QS. Al-anfal : 2)


Import.flv (19.4 MB)

Blog EntryAMAZING TASMI'Apr 29, '08 5:51 AM
for everyone
Ahad malam [ 270408 ], puluhan pasang telinga tersihir demi mendengar lantunan Qur'an yang dibaca secara medley. Bagai mendengar belasan reciter tingkat dunia berjejer adu kemampuan, jama'ah begitu sontak hening..terpekur, sambil berulang melafadazkan 'asma Allah.

Ba'da 'Isya tepat acara itu dimulai.
Bau wewangian khas Timur Tengah bertebaran di masjid Mirabooka bertingkat dua lantai yang mayoritas dipenuhi wajah-wajah arab. Wanitanya berabaya hitam, hidung mancung, bulu mata lentik, jelita jika dipandang. Kaum pria sepintas saja lalu lalang di bawah sebelum acara dimulai, kebanyakan berpakaian gamis atau ala pakistan dan tentu saja berjanggut panjang menghiasi wajah teduh mereka.

Aku menyapa jama'ah di sebelah kiriku. Dua akhwat bertubuh tinggi besar yang begitu khusyu' dalam isya'nya barusan adalah muslimah asal Bosnia. Mereka sungguh tertib di dalam masjid. Ketika acara hendak dimulai, salah satunya bertepuk tangan agar jama'ah lainnya segera diam dan mendengarkan. Di kananku, nampak tiga mahasiswi merapat ke sisiku. Cantik-cantik dan tertutup rapat. Kusapa mereka dalam bahasa inggris yang agak terbata, menanyakan darimana asalnya. Rupanya ada yang mengenaliku. Ahaa, pantas saja sedari tadi aku merasa di perhatikan. *ge-er mode ON*. Ternyata ia pernah hadir dalam Qur'an Class di musholla Curtin Uni, dahulu saat aku belajar mengajar tahsin bagi mahasiswi disana.

Adalah Syaikh Saad Nomani yang menjadi bintang tamu malam itu.
Beliau masih belia, baru 27 tahun. Usia 15 sudah tuntas menghafal seluruh isi Al-Qur'an. Ijazah ilmu Qur'an dan Haditsnya setumpuk. Kini berprofesi sebagai pengajar Qur'an di Madinah Almunawwarah. Keistimewaannya, beliau mampu meniru suara para Syaikh Qur'an hampir sebanyak 75 gaya bacaan. Banyak yang nyaris mirip !

Berulang kali Ibu Yessi, yang mengajakku ke tempat itu, menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku pun tertular. Sebuah tanda yang sama, atas kekaguman tak terkira dari kemampuan Syaikh Saad yang mudah berganti-ganti suara. Kadang berat dan rendah, kemudian berganti tinggi dan cepat. Berayun-ayun intonasinya, jernih dan jelas pengucapan ahkam tajwidnya. Subhanallah.
Cuplikan ayat-ayat Allah dibaca penuh perasaan dan tartil. Tepat ketika surat favoritku dibaca, dengan meniru bacaan Syaikh Mishary Rashid, gemuruh di dada tak bisa lagi kutahan. Pandanganku kabur. Akhirnya terurai juga airmata yang kutahan sejak tadi.
Dalam senyapnya suasana, kulihat jama'ah banyak yang menunduk. Tekun mendengarkan penuh perasaan. Hanyut dalam buaian lafadz indah surat cinta Allah pada hambaNya.
Rangkaian tilawah ini akhirnya ditutup dengan bacaan Syaikh Abdurrahman As-sudais, Imam Masjidil Haram, yang terkenal dengan ketinggian nada suaranya itu. Lengkap pula dengan bacaan takbir yang mengiringi, layaknya beliau berdiri sebagai Imam sholat di depan Ka'bah. Aku memejamkan mata beberapa saat. Menerawang jauh, membayangkan suasana Al-Haram hadir di hati. Langitnya yang bersih di waktu shubuh, jama'ah yang sibuk thawaf dan berdzikir, lantainya yang dingin, aroma hajar aswad di sekitar, serta bangunan kubus berselimut hitam yang menyatukan umat islam sedunia itu....ah dalam beberapa menit jiwaku serasa betul-betul melayang kesana.

Sobats MPers ingin tahu rasanya ?
Klik disini, di mari atau yang ini.
Lalu pejamkanlah mata, hadirkan kekhusyu'an hati, bayangkan suasana sholat berjama'ah di mana sobats pernah mengalami masa-masa berkesan disana. Bagi yang pernah ke Mekkah atau Madinah niscaya bisa membangkitkan nostalgia yang selalu membuat rindu seumur hidup agar kembali lagi ke sana. InsyaAllah.



VideoBeautiful presentation of Surah Ar-RahmanApr 14, '08 7:53 PM
for everyone
Entah mengapa surat ini menjadi surat favoritku sejak dahulu begitu pertama kali membaca artinya. Jika membacanya, hatiku bergetar. Rasanya sekelilingku ikut syahdu menyimak lantunan firman Allah ini. Bumiku berpijak hening, suara angin terhenti, gesekan daun terpekur, kicau burung senyap, larut dalam untaian kalimat suci sejumlah 78 ayat itu.

Sebuah ayat yang diulang sebanyak 31 kali dan hampir selalu berselang-seling itulah sungguh yang membuat surah ini begitu unik dan istimewa. Menyelami maknanya bagai menampar diri agar selalu tersadar bahwa semua kenikmatan hidup di dunia bersumber hanya dariNya, Allahu 'azza wajalla. Kita tak lain hanya peminjam. Yang kadang tak tahu diri dan bahkan lupa bahwa semua ini tak abadi. Kecuali disana, tempat dengan dua bidadari atau dengan nyala api diantara air yang mendidih.


*Fabi ayyi aalaa i Rabbikumaa tukadzdzibaan?*


Import.flv (20.3 MB)

LinkAl-Qur'an Online + Tafsir + Asbabun NuzulMar 7, '08 10:22 AM
for everyone
Link: http://ccc.1asphost.com/assalamquran/default.asp

Salah satu link tentang KitabuLlah yang ada di bookmarks list saya ini rasanya banyak membantu dalam menambah referensi 'Ulumul Qur'an ketika mengajar.


Mudah-mudahan bermanfaat bagi sahabat MP'ers untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.
Setuju ?

"Sebaik -baik kamu adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya" [HR.Muslim]


LinkBeragam E-book Islam dan KristologiMar 7, '08 10:10 AM
for everyone
Link: http://www.pakdenono.com/home.htm

Ini salah situ situs yang menurut saya didalamnya cukup banyak terdapat E book Islam dan download CD or VCD gratis.
Hanya bisa mendo'akan bagi si pemilik, moga amalnya menyediakan sarana ilmu bagi orang lain dibalas dengan kebaikan berlimpah oleh Allah SWT.

Silakan menjelajahinya dan mengambil yang bermanfaat untuk 'amar ma'ruf nahi munkar.

Blog EntryJangan Suka Memvonis DiriFeb 26, '08 8:53 PM
for everyone

Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk hati mereka karen keingkaran mereka. Maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

(QS Al-Baqarah [2]:88)

Sikap suka memvonis diri bertolak belakang dengan tawadlu untuk membuka diri terhadap dakwah. Ketika dakwah Rasulullah ditanggapi kaum Yahudi dengan “Saya tidak mungkin mampu menerima da’wah ini, karena hati saya sudah tertutup” berarti mereka bukan saja jauh dari hidayah Al-Qur’an bahkan Allah Swt melaknat sikap kufur tersebut dan mereka jauh untuk menjadi manusia yang beriman.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an, apapun bentuknya - bertilawah, menghafal, mentadabburkan, mengajarkan atau memahaminya - tanpa didukung oleh keimanan yang memadai akan menyebabkan jiwa merasa berat, susah, repot, dsb. Keimanan yang telah Allah karuniakan kepada kita hendaknya dijadikan modal utama untuk dapat hidup bersama Al-Qur’an.

Ungkapan-ungkapan bernada pesimis yang keluar di alam bawah sadar kita akan menjadi suatu vonis yang “mematikan” dan menjadikan diri kita berada di dalam kondisi kelemahan total. Jangankan untuk melakukan upaya berinteraksi dengan Al-Qur’an, sekedar keinginan saja tidak mungkin terjadi dalam diri kita sekalipun kita sudah beriman.

Kita harus optimis dan membantah ungkapan-ungkapan tersebut agar keluar dari kungkungan ketidakberdayaan diri yang sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri. Berikut contohnya:

  1. Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih tidak bakat”
    Berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan masalah bakat atau tidak bakat. Ia adalah kebutuhan hidup orang beriman, sebagaimana tubuh butuh makan, minum dan tidur. Bakat biasanya berkaitan dengan keterampilan seperti menjahit, atau olah raga seperti juara bulutangkis. Mustahil kalau kita tak siap shalat 5 waktu dan tidak shaum karena alasan tidak bakat. Permasalahan sesungguhnya biasanya terkendala oleh pola pikir yang salah sehingga menghasilkan penyikapan yang salah pula.
  2. Bantahan terhadap vonis diri: “Ah, ana sih memang ditakdirkan gak bakalan mampu menghafal”
    Takdir adalah kehendak Allah Swt. Dari mana kita tahu bahwa Allah Swt telah menghendaki kita untuk tidak dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an? Kalau hanya dari perasaan, itu artinya berburuk sangka kepada Allah Swt. Seharusnya syaitan yang kita jadikan kambing hitam, dan kita berlindung kepada Allah dari godaan syaitan. Atau kemungkinan lain, karena kita terlalu banyak dosa dan jiwa kita terlalu jauh dari kesucian. Jika itu penyebabnya, bertaubat dan mohonlah ampunan kepada Allah Swt. Lengkapilah dengan banyak berdzikir dan beramal shalih agar Allah Swt memberi kekuatan kepada diri kita untuk bisa mengatasi rasa malas, futur dan tak bergairah terhadap Al-Qur’an.
  3. Bantahan terhadap vonis diri: “Bagaimana mungkin orang seperti ana yang sibuk seperti ini bisa menghafal Al-Qur’an”
    Allah Swt menciptakan manusia dengan dibekali kemampuan yang sangat luar biasa untuk beradaptasi terhadap kehidupan. Artinya, sesibuk apapun kita, kalau kita mau dan bertekad kuat, insya Allah kita bisa melakukannya. Sudahkan kita mengakui bahwa berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini? Kalau jawabannya ‘ya’ tetapi kita belum melakukannya artinya ada ketidaksesuaian antara hati dan lidah, entah hati yang berbohong atau lidah yang tak jujur.
    Kita pasti akan menyempatkan diri untuk sesuatu yang kita anggap penting. Kalau menunggu “kalau sempat”, syaitan tak akan pernah membiarkan diri kita untuk sempat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kitalah yang harus menyempatkan diri, minimal 40 menit dari 24 jam per hari agar kita bisa khatam tiap bulan sekali.

Kalau kita mengakui kebenaran bantahan di atas, mulailah dari sesuatu yang paling mudah untuk dilakukan. Misal tilawah 5-10 halaman per hari, menghafal 1-1/2 halaman per pekan. Lalu perbanyaklah doa agar Allah Swt menolong kita untuk mampu dan bisa berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan pola yang sebaik-baiknya. Semoga Allah Swt. melindungi kita dari hati yang dikunci mati karena kekafiran.


Sumber : 17 motivasi berinteraksi dengan Al-qur'an, Ust.Abdul 'Aziz 'Abdur Ra'uf, Al-hafizh



VideoSurah Qiyamah - Mishary Rashed AlafasyFeb 22, '08 4:50 AM
for everyone


Dengar, dengarlahkanlah suaranya dengan konsentrasi penuh....
Bukalah di depanmu Surat Cinta dari Rabb-mu,
Ikutilah bacaannya perlahan, jelas dan tartil,
Renungilah artinya, pahami maknanya...

Niscaya matamu akan semakin bening dengan air yang menggenang,
dan hatimu gemetar antara harap dan cemas.


Import.flv (8.3 MB)



Taujih ini kiriman seorang sahabat yang rajin mengikuti ta'lim Qur'an dengan Ust. Abdul 'Aziz. Ustadz AA, begitu biasanya saya dan teman-teman menyebut beliau, ketika masih digembleng dalam satu kelompok tahsin Qur'an secara intens. Ah, sekian lama sudah...

Akhirnya rindu itu sedikit terbayar setelah mendengar suara sang ustadz, walau sekedar rekaman seadanya. Cukuplah membakar energi untuk memperbaiki interaksi dengan Qur'an : tilawah, muraja'ah pun menghafalnya. Untuk kemudian tadabbur berikut aplikasinya...mengiringi, pelan tapi pasti.

Rencananya taujih ini akan saya posting secara berseri. Namun bukan berarti saling bersambung satu dengan yang lain. Soale, agak lupa juga urutannya waktu dikirim. Hiks, ketauan deh arsipnya ga rapi..;(

Taujih 01 ini membahas tentang berbagai motivasi dalam berinteraksi dengan Al-qur'an. Minimal ada tiga motivasinya yaitu : motivasi untuk ibadah, motivasi untuk berilmu dan motivasi untuk berdakwah.
Adakah ketiganya menjadi motivasi kita untuk berdekatan dengan Qur'an ? Atau...salah satu saja dari 3 motivasi tersebut ? Jika demikian cukuplah untuk terus ditekuni. Asal jangan sampai tidak ada motivasi sama sekali.
USt Abdul Aziz Abdul Rouf 22 juli 2007   



Taujih 02 Ust AA ini berisi tentang motivasi untuk selalu mengedepankan kesabaran dalam beramal. Sebagai contoh nyata adalah amal dakwah Nabi Nuh as. Selain itu, sebuah amal akan terasa hasilnya ketika kita bisa tekun menjalaninya secara rutin. Sesungguhnya Allah akan menunjukkan jalan kemudahan bagi siapa yang serius dalam beramal.

Berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah salah satu amal ibadah yang membutuhkan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, jika dengan Al-qur'an itulah seorang muslim dituntut untuk memiliki 3 jenis kesabaran..yaitu : Sabar dalam keta'atan pada Allah, Sabar dalam menjaga diri dari maksi'at, dan Sabar dalam menghadapi musibah.
Ketika kita pernah merasakan beratnya mujahadah dalam tilawah, menghafal dan mengajarkan pada orang lain, maka ketahuilah kita berada dalam kesabaran untuk ta'at pada Allah swt.

Happy listening, hope it will increase your patience with Kitabullah.

VOC009   

Blog EntryMerayu Diri Agar Mencintai Al-qur'anNov 7, '07 7:16 AM
for everyone
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?

Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.

Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:

  1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
  2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
  3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
  4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
  5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
  6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
  7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
  8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.

Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:

  1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
  2.  Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
  3.  Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
  4.  Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
  5.  Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
  6.  Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?

Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.

“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)

Bagian dari buku "17 motivasi berinteraksi dengan Al-qur'an", karya Ust. Abdul 'Aziz 'Abdur Ra'uf, Al-Hafizh, Lc.

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.