What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Terik menghujam bumi kala bayang rapuh meniti langkah Desir angin gamang kian menggoda sumpah Ragu meliuk, mengerling, memutar arah Bising bercampur aduk pada sudut gelap berjelaga Tawa, tangis, rintih, murka Tarik ulur tumpang tindih lumpuhkan waras Berselang seling antara laju roda waktu yang menggilas kadang malas kerap was-was Sadar ! atau kutampar Buyar ! sebelum menyala gusar Apa mengatur siapa ? Lawan kecamuk diri Perangi sang hawa di tepi Kaki yang lumpuh atau hati menyerah mati ? Rela menelan kalah umpama bayang tumbang di siang hari
[ 6107, 23/10/08, 9.08 pm ]
PROSES KREATIF...
Puisi ini adalah sebuah dialog hati pada jiwa yang kadang dijerat was-was untuk maju menyampaikan sebuah amanah di jalan panjang nan terjal bernama Dakwah. Menumpuknya lalai dan khilaf acap jadi alasan untuk menghindar dari janji sebagai penyeru. Selalu berdalih namun tak kunjung memperbaiki diri. Hanya kemauan keras untuk bangkit sajalah yang bisa menepis segala ragu. Sebelum hawa nafsu kembali mengangkangi.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Berawal dari sedikit ragu ketika undangan Qiyamullail bersama sisters dari Muslim Woman Support Centre (WMSC) datang melalui sms. Seorang sahabat asal Singapura, sis Suryati, yang sudah lama kukenal mengirim sms undangan itu seminggu sebelumnya. Isinya yang singkat cukup membuat hatiku terperanjat, disusul keraguan untuk bisa menyempatkan hadir disana. Bukan.., bukan karena aktivitas tahajud bersama tidak menggugah hasratku, tapi karena ada permintaan khusus agar aku juga bisa memberi sedikit speech tentang Qiyamullail. Tentu dalam bahasa Inggris, karena mereka yang hadir nanti berlatarbelakang dari berbagai bangsa. Ya Allah.....why me ?
Beberapa kali sms itu datang meminta konfirmasi, hanya kudiamkan saja. Maksud hati akan kureply setelah punya alasan tepat untuk menghindar dari permintaan yang membayangkannya saja sudah bikin perut mules. Andai speech itu dalam bahasa ibuku, mestilah kutimbang dengan perasaan tak seberat ini. Sampai tibalah hari H, dimana sore harinya sister Suryati menelpon kembali...(dengan logat Malay)
”Gimana Vien, udah siap kan ngisi nanti malam ?”
”Siapa saja kawan-kawan Indonesia yang bisa ikutan ?”
”...Baru juga nge-print makalah hasil browsing di Internet.”
(ketauan dah, nanya ustadz gugel dulu)
”Bu Suryati aja deh yang ngomong, kan bahasa Inggrisnya lebih bagus. Rasanya kok kurang menghayati kalo nyampein materi bukan dalam bahasa Indo...belum lagi banyak vocab yang ga ngerti. Tentang agama lho ini bu, gawat kan kalo ga berangkat dari hati yang paham. Trus.....bla..bla..bla” , panjang lebar aku beralasan.
”Ah...sudah tak apa. So you can practising your English in front of us. That’s great kan ?”
”Coba mana saya dengarkan dulu, kamu punya materi.”
Aku tertawa pahit.
”Waduh, ini kumpulan materinya juga panjang. Blom sempet saya ringkas. Betul deh saya ga siaaap..” suaraku mulai memelas blass.
”Hoho....don’t worry lah sister, nanti saya dampingi. Ok, don’t be too late ya..after maghrib, saya ketemu kamu di rumah sister Aminah.”
Bu Suryati menutup pembicaraan.
Glek…aku lemas tak berkutik.
Nego gagal, tak ada satupun alasan shahih bisa kulontar. Mana suami juga sudah mendukung dan menyatakan mampu meng-handle acara sahurnya d Boys. Sebenarnya aku juga sangat ingin datang untuk melewatkan malam dengan Qiyamullail bersama sisters dari berbagai negara. Asik dan berkesan pastinya bertambah banyak saudari seiman.
Andai tak perlu ada tugas berat itu…
Hhhh...sungguh tugas macam ini selalu kuterima dengan hati gamang, sekalipun dalam bahasa Indonesia. Rasa diri tak pantas, masih banyak khilaf, banyak maksiat, banyak lalai, keikhlasan juga perlu dikaji ulang,.....fiuuh too many weaknesses kalau mau didata satu persatu. Entah, apakah mungkin memang bisikan syaithan yang turut bermain agar langkah dakwahku surut, sebagaimana perkataan suami ketika kuungkap selimut gundah tiap saatnya datang kesempatan menyampaikan sedikit saja dari Kitabullah.
Ba’da maghrib aku mulai bergegas. Benakku berputar cepat siapa gerangan yang akan kuajak dan punya peluang besar untuk bermalam bersama. Tentunya juga bisa memback-up performaku nanti. *Aha...ibu Yessy ! Nama itu langsung muncul di kepala. Beliau yang kuanggap seperti ibuku ini memang sudah terkenal aktif dalam berinteraksi dengan komunitas Muslim di Western Australia. Acara seperti ini pasti tak mungkin dilewatkannya. Tepat dugaanku, bu Yessy dengan antusias dan bersemangat menerima ajakanku. Bahkan setengah berteriak dia bilang bahwa Sister Aminah (sang tuan rumah) adalah sahabat baiknya sejak dulu aktif di MWSC. Oh, ternyata bu Yessy juga salah satu pengurus di sana. Memang rizqi ga kemana ya, meski beliau terluput dalam undangan mereka, nyatanya tetap bisa hadir denganku.
Kami tiba di tujuan sekitar jam 8 malam.
Rumah sister Aminah sangat besar. Beberapa mobil terparkir rapi di pekarangannya. Di dalamnya, di salah satu ruangan yang difungsikan sebagai musholla, sudah terlihat beberapa wanita melakukan sholat ’Isya berjama’ah. Tenang dan khusyu’.
Setelah selesai mereka menyapa kedatangan kami. Sister Aminah nampak begitu surprise dengan kedatangan bu Yessy. Sister Suryati memandangku riang dan berbisik, ”Alhamdulillah, kamu datang juga Vien.” Hehehe, dia agak khawatir aku melarikan diri rupanya.
Tak lama kemudian kami melanjutkan sholat tarawih 8 rakaat. Tiga imam memimpin jama’ah secara bergantian. Mereka masih muda belia. Ada yang hafal, ada juga yang memakai Mushaf. Subhanallah, suaranya begitu jernih mengalir dengan makhroj berlogat Aussie.
Tibalah saat yang membuat jantungku bergemuruh dan mual mulai menjalar.
Kacau...
Ibu Suryati membuka acara dengan suara yang syahdu. Rasa harumulai meliputi ku saat itu. Kami duduk melingkar. Tak banyak yang bisa hadir. Ada duabelas orang semuanya termasuk diriku. Kutatap mereka sekeliling : beragam usia, warna kulit, latar belakang keturunan, namun satu keyakinan. Tumbuh rasa takjub di hati melihat kesungguhan mereka berIslam di negeri ini.
Alhamdulillah acara diawali dengan ta’aruf, jadi aku masih punya waktu untukmenentramkan hati. Mulailah satu-satu mengenalkan dirinya....ada yang asli Aussie, keturunan Indonesia, Cina, Afghanistan, India juga Somalia. Beberapa muslimah muda ada yang masih kuliah ataupun sudah kerja. Dua diantaranya adalah putri Sister Aminah sendiri yang keturunan Cina.
Ingin rasanya kuulur sessi perkenalan itu hingga lebih panjang, namun apa daya saat eksekusi itu datang juga. Saat semua mata memandang kearahku penuh perhatian menanti. Saat aku sendiri lebih banyak menunduk tak mampu menatap mereka kembali.
Oh my…
Dengan terbata aku memohon pemakluman mereka terlebih dulu akan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas.
“Honestly, I’m very unconfident giving this kind of talk to you…because my English is not quite good. But I’m trying to take this opportunity to give a speech in front of you. Just because I think that all of you won’t laughing at me if I make some mistakes then…”
dan sister Suryati dengan jahilnya nyeletuk,
”.....yeah, they won’t laughing at you, but sure do...I will.”
Sisteeeeeeerrrrrrr please deh !
Kupelototi dia yang ngikik geli diiringi tawa yang lain.
Lumayan agak turun rasa tegang…
So, tetap berbekal naskah 4 lembar yang kupegang erat dengan dalils yang sudah termaktub didalamnya, kusampaikan materi Qiyamullail sambil beberapa kali dibantu oleh sis Suryati dan bu Yessy agar lebih pas menerjemahkan kalimat. Sekitar 45 menit termasuk diskusi sedikit tentang Laylatul Qodr usai sudah. Beberapa sisters yang tak bisa ikut mabit karena besok harus kerja pamit pulang. Waktu saat itu sudah menunjukkan jam 11.30 am, dan kita harus segera istirahat supaya nanti malam bisa kuat bangun untuk mempraktikkan Qiyamullail secara berjamaah.
**************
Qum !
Bangunlah !
Wahai orang-orang yang berselimut....
Rabbanaa...
Di malam ganjil-Mu kami menghadap
Dalam desah cemas dan harap
Walau berat sungguh mata menatap
Jua payah tubuh menopang tegap
Rabbanaa..
Izinkan lelehan air mata jadi saksi
Lantunan kalam-Mu jadi peneguh hati
Di sepertiga malam penghujung bulan suci
Agar langkah kami ringan di akhirat nanti
Rabbanna….
Dengan kerendahan hati kami menguntai do’a-do’a
Bagi diri, keluarga, keturunan, saudara-saudara kami yang tengah berjuang membela agama-Mu, yang tertimpa musibah, yang terdzholimi, yang berada dalam kesempitan hidup, yang sedang lalai serta bagi mereka yang sudah mendahului kami.
Ampunilah segala dosa kami dan berilah kami pertolongan untuk berjuang menegakkan Islam di dalam diri dan di atas bumi-Mu.
Allahumma innaa nas aluKa ridhooKa wa aljannah, wa na'uudzubika min sakhotika wa an-naar.
****************
Selama 3 tahun menikmati perguliran malam-malam Ramadhan yang mampir di langit kota ini, dengan izin Allah aku mendapat kesempatan yang mengesankan.
That’s the most unforgetable wonderful night I’ve ever had in Perth during Ramadhan.
Jazakumullah bil Jannah to sister Aminah dan keluarga atas wakaf rumahnya di malam ke-27. Juga pada seluruh sisters yang hadirsemoga Allah senantiasa menjaga keimanan kita untuk tetap kuat menjalankan syari’atNya di manapun kita berpijak. Buat sister Suryati, semangat terus dengan dakwah lewat tarbiyah. Dan buat bu Yessy, selalu kuungkapkan : I love you more and more…
Jika Laylatul Qodr turun pada malam itu, moga kita semua mendapat keberkahan Allah atasnya.
Catatan ini kurangkai penuh modifikasi setelah menyimak nasihat singkat jelang berbuka puasa di konsulat minggu lalu. Ustadz Abdullah Mu'adz, dalam kesempatan itu, hanya menguraikan beberapa poin dengan banyak ilustrasi bergaya betawi. Pemakaian bahasanya yang lancar dan khas seringkali membuat audience tersenyum geli, tanpa mengurangi sedikitpun pesan yang dikandung. Bahkan bagiku, pesannya langsung menancap tajam di hati dan membuatku tertunduk dalam....... : malu pernah menjadi korban kuasa hawa nafsu.
*************
Ibarat sebuah medan peperangan, Ramadhan menjadi ajang seorang muslim berjuang mengerahkan daya upaya untuk meluluhlantakkan satu musuh utama bernama hawa nafsu. Musuh yang bersumber di tiap diri insan itu memang lebih sering ditunggangi oleh syaithon sebagai provokator kemungkaran setia hingga akhir zaman. Dibisikannya berbagai tipu daya berbumbu indah, sehingga sang hawa larut terseret mabuk dalam pusaran yang seringkali berdampak rasa senang di jiwa. Padahal kesenangan tersebut semu, karena hanya terbaluri oleh nikmat berorientasi nilai-nilai duniawi. Anehnya meski bersifat membius sesaat, si pelaku kerap menjadi candu untuk mereguknya kembali, padahal nurani sudah berkata sebaliknya. Nah, hawa jenis inilah yang jika dalam istilah syari'at dikenal dengan sebutan : Ammarotul bis suu'.
Kembali pada tujuan 'berperang' di bulan suci, supaya kemenangan gemilang dapat kita raih dengan mudah, maka strategi jitu harus dirancang sedemikian rupa demi melibas sang musuh. Salah satu cara yang paling ampuh adalah dengan mengenal karakter hawa nafsu sendiri. Dengan cara ini diharapkan, kita bisa mengukur sejauh mana daya biusnya mampu mengaktifkan dopamin di otak dan dapat menelikungnya agar tak berkutik. Mengalahkannya dengan telak karena akal dan hati telah bersekutu dalam celupan nur Ilahi.
Dibawah ini ada beberapa sifat hawa nafsu yang mesti dicermati. Dan jika kita simak satu-satu, niscaya terasa betapa kita (eh, saya maksudnya) pernah diperdaya olehnya di waktu-waktu iman sedang lemah dan hubungan dengan Allah dirasa mengendur.
1. Terus meminta, tak pernah berhenti. Contoh yang paling simpel mungkin jika kita belanja kebutuhan sandang, entah baju, sepatu, dan asesoris lainnya, sepertinya selalu saja ingin menuruti trend atau selera mata. Padahal yeng tersedia di rumah sudah lebih dari cukup, tapi belum puas kalau belum memiliki model dan corak terkini.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan seperti ini sebagaimana hewan yang suka menjulurkan lidahnya...
"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir."[ Qs. 7 : 176 ]
2. Senang menabrak rambu-rambu Rambu-rambu yang dimaksud bukan hanya syari'at dalam agama, tapi juga mencakup norma universal, bahkan kadang logika juga diterabas. Coba saja tengok kelakuan pemuja seks bebas di dunia. Tidak cukup puas dengan lawan jenis, yang homogen dilirik juga. Bosan dengan sesama, binatang pun jadi sasaran. Na'udzu billahi min dzaalik ! Akal sebagai kendali logika sudah pindah rupanya ke telapak kaki, hingga kelakuan tak ubahnya seperti hewan....Bahkan lebih hina.
3. Mencari berbagai alasan pembenaran. Demi memanjakan hawa nafsu yang terus merongrong, biasanya seseorang sering mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya. Padahal dia sendiri sudah resah dalam kubangan dosa. Sebagaimana sabda Rasul saw, "Bahwa dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan tidak suka jika hal itu diketahui orang."
4. Membuat dalil sendiri Tidak cukup dengan mencari alasan (poin datas), maka dicarilah dalil-dalil dari ayat Allah untuk menguatkan argumennya. Alih-alih terlihat benar, tindakan ini malah membuat seseorang makin terperdaya oleh belitan hawa nafsu. Hati dan akalnya tertutup untuk melihat kebenaran hakiki. (hmm, jadi inget para aktivis JIL..)
"Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji , mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui ?" [ Qs. 7 : 28 ]
5. Menungggangi pikiran dan perasaan Ketika hawa nafsu sudah menjadi panglima, maka ia pun bertindak sebagai juru bicara atas semua tindak. Akal dan hati bagai dicocok hidungnya, akan menurut kemana pun nafsu memerintah. Sampai mungkin tanpa sadar ia telah menzhalimi dirinya. Mungkin ia merasa bebas, tak terikat oleh rambu dan aturan agama...namun sungguh sebaliknya ia terkekang oleh hawa nafsu yang memperdayakan akal. Hingga fitrahnya tenggelam dalam kubangan nafsu pekat, tak bisa lagi membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuanNya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya ? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat ? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?"[ Qs.45 :23 ]
6. Bersinergi dengan kelicikan iblis. Sudah barang tentu segala kemungkaran akan diback up sepenuhnya oleh biang musuh manusia, yaitu iblis. Dengan segala kelicikan, iblis akan merayu hawa nafsu untuk terus berpaling pada kesesatan. Dan ia rela menghiasi jalan maksiat agar nampak 'lurus' dan indah. "Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya..." [ Qs. 15 :39 ]
Sobats, begitulah sifat hawa nafsu yang tak terkendali. Ia tak mungkin kita hilangkan dari jiwa. Seumpama api, ia akan membakar dan menghanguskan apa saja yang didekatnya. Namun kita tetap membutuhkan kehangatan api tersebut di kala dingin datang menyengat dan sebagai penerang saat gulita. Demikian halnya hawa nafsu. Ia butuh diarahkan agar sesuai fitrah insani kita. Mendampinginya dengan pengetahuan yang berlandaskan Qur'an dan Sunnah hingga tunduk, rela berbuat apa saja demi kebaikan diri dan ummat.
Moga Ramadhan ini menjadi saksi kemenangan kita melawan hawa nafsu. Alangkah indahnya jika kita termasuk golongan yang dipanggil sang Kekasih seperti ini :
"Hai jiwa yang tenang... Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku."
Sebenernya tulisan ini reposting dari file lama... Lagi iseng benahin sudut-sudut 'rumah', eh ada yang kurang sedep di mata liat tampilan postingan berjudul diatas. Trus, diutak utik kesana kemari malah makin berantakan. Daripada putus asa tak guna, kuposting saja lagi.
Memang dicomot dari sini, bukan tulisan pribadi. Namun kusuka betul membacanya berulang kali. Seperti membisikkan sebuah sindiran pada jiwa, yang kerap digugah lalai atau jenuh atau malas atau lupa atau.... Whatever-lah tiap alasan itu. Yang pasti ujungnya memang : FUTUR.
Jadi.. aku sangat ingin menyimpannya di sini. Mohon dipersori bagi yang pernah mampir dan kasih komen waktu dulu. Moga ga bosen untuk baca lagi dan meninggalkan jejak (lagi). :))
**********
Mungkin kita hanya sekadar makin sering terlambat. Mungkin juga sekadar sering lupa. Atau cuma sedikit bertambah lalai. Atau mungkin cuma sekadar semakin enteng untuk tidak terlibat. Bisa juga semacam ketenangan dalam kealpaan. Dan tentu kita tidak menyebutnya sebagai futur….
Bisa jadi, kita cuma sedikit malas. Di mana dengannya, dalih kita menjadi agak banyak dan bervariasi. Atau kita hanya semacam sedikit pilih pilih tugas. Ada agak banyak tugas yang kita rasa sudah tidak pantas (lagi) kita kerjakan. Dan kita juga tidak menyebutnya sebagai futur….
Mungkin kita hanya sedikit terganggu. Kita hanya sedikit agak terganggu dalam tilawah, atau dalam puasa atau mungkin lainnya. Sebenarnya tidak berat, cuma sekadar agak sulit menikmatinya. Dan kita memang sulit mendefinisikannya sebagai futur….
Kita mungkin cuma semacam bosan. Atau sekadar ingin melongokkan kepala ke luar sana. Atau kita cuma kaget kecil-kecilan. Atau sedikit silau. Atau bahkan, sedikit lebih ringan daripada itu. Dan sulit bagi kita untuk menyebutnya futur….
Atau kita cuma sedikit tersadarkan. Pada realitas keluarga kita. Anak dan istri kita. Rumah dan kendaraan kita. Sedikit tersadar akan realitas karir kita. Atau sedikit menghitung-hitung realitass sosial kita. Dan tentu saja itu bukan futur…
Bisa juga kita cuma sekadar melihat tikungan sejarah. Ada yang berbeda di depan sana. Dan kita semacam sedang sedikit membuat apresiasi. Atau (paling tidak) semacam antisipasi. Tidak lebih dari itu. (mungkin) itu juga bukan futur…
***********
keterangan dikit ajah....
[ FUTUR ] secara bahasa : berhenti setelah bergerak atau malas setelah giat. secara istilah : minimal ---> malas atau kurang semangat dalam mengemban amanah dakwah. maksimal ----> berhenti atau diam setelah sebelumnya giat dan aktif.
Pernahkah tak ada judul..? aku, kau, dia atau kita ?
Training ESQ pasti sudah familiar di telinga sebagian masyarakat Indonesia, terlebih di kalangan para pekerja kantoran yang memang menjadi target utama pelatihan SDM semacam ini. Disinyalir ada 500 ribu orang alumni ESQ yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia dan beberapa Negara. Jadi rasanya review yang kutulis disini cuma pelampiasan kesan dan rasa hati tak begitu penting dibanding review para tokoh ternama yang sudah bertumpuk tentang ESQ. Tapi biarlah, sapa tau ada yang berminat membaca pandangan seorang yang hina dina, penuh dosa namun suka bercerita ini. *halaah*
Mudah-mudahan yang mampir ga bosan dan cape karena harus scroll down terus membaca tulisan yang cukup panjang. (kalu bosan, kemari lagi laen kali yak..;p)
Training ESQ ini adalah yang pertama kali diadakan di Australia (Perth), bertempat di gedung Konsulat Indonesia. Sekitar 90 orang peserta terdiri dari pria dan wanita segala usia mengikuti dengan tertib jalannya training selama dua setengah hari. Beberapa diantara mereka ada juga ternyata yang bukan muslim. Rombongan trainer dari Jakarta, termasuk the founder: Pak Ary Ginanjar Agustian, membuka acara dengan wajah sukacita meski terlihat sedikit lelah. Rupanya panitia betul-betul telah bekerja keras dua hari sebelum hari H mendekor ruangan aula konsulat hingga nampak berbeda dari yang biasanya.
Secara singkat dapat kukatakan training ini banyak menguras persediaan air mata. Sejak hari pertama sedu-sedan sudah mulai mewarnai ruangan konsulat. Materi yang disajikan menggiring peserta kedalam suasana yang membangkitkan rasa haru, cemas, takut, sedih, pilu, dan rindu. Dari awal aku pun sudah bisa membayangkan akan begitu keadaannya. Itulah mengapa aku bertekad meluangkan waktu untuk berpartisipasi didalam pelatihan tersebut, tak lain ingin mencari suasana yang bisa bikin aku menangis sejadi-jadinya. Untuk melembutkan hati yang kian kesat beberapa waktu belakangan. Kita mungkin bisa saja mencucurkan air mata disaat-saat tertentu ketika menghadap-Nya. Namun biasanya sikap itu hadir dikala hati sedang sulit atau pikiran begitu buntu dirundung masalah. Dan seberapa sering rasa itu hadir juga tergantung seberapa peka kondisi iman kita.
Jadi...yaa sebisanyalah kucari suasana itu. Saat kutahu airmataku sedikit tersumbat karena kepekaan yang memudar akibat terbiasa larut dengan maksiat. *AstaghfiruLlah...*
Detail tentang apa dan maksud pelatihan ESQ mungkin bisa sobats lihat di situs maupun preview-nya yang sudah banyak tersebar di jagad dunia maya. Karena itu aku hanya ingin mendeskripsikan sesuai kapasitas ilmu seorang pembelajar. Mohon maap sebelumnya jika ada momen yang terlupakan atau cara pandang yang berbeda dari kebanyakan alumni.
Isi pelatihan ini pada intinya adalah materi-materi dasar Islam yang dikemas dengan sangat menarik sehingga tidak membosankan peserta. Hal ini disebabkan oleh fasilitas multimedia plus seperangkat penunjangnya: bahan presentasi berupa klip video atau musik lengkap dengan sound system yang memadai. Materi Ma'rifatuLlah yang bila disampaikan dalam bentuk ceramah agak sulit dicerna, tampil memukau melalui penggambaran ihwal terbentuknya alam semesta. Teori Big Bang dipaparkan secara ilmiah dan langsung dikaitkan dengan ayat-ayat Allah yang telah turun 14 abad silam. Semua begitu menghujam nurani dan menggetarkan seluruh syaraf untuk bertakbir memuja kebesaran Ilahi.
Sepanjang pelatihan, ayat-ayat Qur'an bertebaran bukan saja memenuhi dua buah layar di hadapan. Namun juga ikut menyelinap ke setiap sudut hati, mengajak otak bekerja dan mengirim pesan pada syaraf mata hingga begitu mudah basah karena berbagai rasa yang berkecamuk di dada. Inilah bentuk tadabbur Qur'an yang dipandu oleh audio visual. Dengan menggabungkan berbagai ilmu seperti, fisika, sejarah, biologi, kimia, dan psikologi, training ini mampu membuat hampir seluruh peserta betul-betul terlibat secara emosi pada setiap materi. Meski kami tidak sedang berada di alam terbuka, beberapa cuplikan gambar tentang alam semesta nyatanya mampu membuat kita seolah berada di sana.
Pada hari kedua, nampak para peserta sudah mulai familiar beradaptasi dengan metode mereka. Materi yang bertujuan akhir pada pembentukan kepribadian berlandaskan nilai-nilai Ilahiyah (baca : Asmaul Husna), mulai dipompa lebih kuat ke dalam benak. Hadits, "Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa Rabbahu" (Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya), dihembuskan tiada henti sebagai panduan yang mengantarkan peserta untuk merenung lebih teliti ke dalam jiwa. Di sinilah rupanya titik balik kesadaran manusia sebagai hamba. Manakala kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan "Siapa kamu?" niscaya dengan bangga kita sering berucap nama, jabatan, profesi, tanpa berpikir bahwa semua itu dulunya adalah sesuatu yang tak dapat disebut. Begitulah, kami secara perlahan namun pasti diberi arahan praktis untuk memahami materi Ma’rifatul Insan sekaligus menerapkannya. Agar selalu berkesinambungan tiga potensi yang melekat pada tiap manusia yaitu : jasad, akal dan ruh (body, soul, and mind).
Lalu dengan mengandalkan terapi jiwa berbasis ilmu psikologi, peserta digiring untuk mengoptimalkan segenap fungsi panca indera dan hati hingga merasa seakan-akan Sang Maha Pencipta tepat berada di hadapan. Situasi inilah yang kemudian banyak membuat peserta tersungkur, menggigil, gemetar, tersedu sedan dan tampak seketika semua pribadi menjadi jujur. Jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap-Nya. Dibalik mata yang basah, kudengar samar banyak bibir mendesahkan dosa yang diperbuat dan permohonan ampun. Aku pun merinding. Dalam pilu dan tubuh yang berguncang, saat itu rasanya tak dapat kuhentikan rintihan pengakuan dosa yang meluncur lirih begitu saja dari mulut. Apalagi ketika di layar terpampang perjalanan seorang mayit mulai dari dimandikan hingga dikubur. Lalu pertanyaan demi pertanyaan terdengar bergema di liang kubur itu. Begitulah setiap jiwa kelak akan mengalaminya...
Teriakan dari layar lebar dan suara isak tangis sontak tumpang tindih bergemuruh. Kulirik tubuh di didepanku rebah tak berdaya menahan luapan getaran emosi yang hebat. *Duhai Rabb, tak mampu kupalingkan wajah nista ini dari-Mu...*
Cuplikan cerita dalam bentuk film tentang sejarah bangsa Jepang dan bagaimana mereka memiliki karakter juang yang kuat, napak tilas ke kota para Nabi, juga masa kejayaan umat Islam sepanjang abad ke-7 dan 14 menjadi ilustrasi penting bagi pembentukan pribadi muslim masa kini. Dari sejarah kita diajak berkaca dan menimba hikmah agar belajar mencari nilai postif dari mereka demi memperbaiki kekurangan di masa lalu dan menyempurnakannya kemudian. Tak luput jua tentu, kisah perjuangan dakwah Rasulullah saw diulas begitu dalam melalui penggalan film Ar-Risalah. Kusaksikan semua peserta diam tak bergeming... Hati mereka jika dapat dibuka mestilah berwarna sama: rindu dan haru. Saat aku merasa stok airmata sudah habis terkuras, kerinduan pada Rasulullah saw terbukti mampu mengorek cairan bening yang tersisa untuk kembali menerobos dinding retinaku. Arimataku jebol, tumpah ruah membasah hingga ke pelosok lubuk hati. Bagaimana tidak, risalah Islam yang kita nikmati saat ini adalah buah dari pengorbanan dan perjuangan Beliau saw dengan bertaruh kehormatan bahkan nyawa!
Ya Nabi salamun 'alayka....
Dua hari setengah tepatnya, emosi peserta diaduk-aduk. Kami menumpahkan tangisan begitu banyak, namun tak jarang gelak tawa kembali hadir membahana. Untuk menghindari kebosanan berada di satu ruang atau pegal karena duduk terlalu lama, para trainers membuat acara quiz, yel-yel, senam, ataupun permainan yang masih bernilai filosofi di baliknya. Saat itu peserta diajak tertawa, meski dengan mata sembab. Dalam hatiku miris bergumam... alangkah mudahnya kondisi hati itu berbalik. Dan demikianlah kiranya warna hidup, lara dan cita kerap menghampiri. Tangis dan tawa pun menghiasi, berubah-ubah sesuai kondisi hati.
Wa annahuu Huwa adhhaka wa abkaa. [ An-Najm : 43 ] Dan sungguh Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.
Di akhir acara beberapa kesimpulan ditegaskan lagi oleh trainer. Bahwasanya sasaran yang ingin dicapai dari pelatihan adalah kemampuan mengendalikan kecerdasan emosi yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain. Sedang pola 165, yang berlandas pada 1 Ihsan, 6 Rukun Iman, 5 rukun Islam, selayaknya selalu menjadi acuan bagi seorang muslim mengendalikan kemampuan tersebut. Tentu saja kemampuan meningkatkan mutu ESQ (akhlaq) ini mustahil diperoleh secara instan. Seyogyanya harus senantiasa diasah dengan latihan kontinyu melalui majilis-majlis yang dapat memantau dan menjaga keistiqomahan tekad untuk memperbaiki diri.
Seringkali memang terjadi salah kaprah bagi pihak yang memandang keefektifan pelatihan ini dalam mengubah pribadi seseorang. Dengan kata lain, training ESQ bukanlah cara singkat mencetak pribadi muslim yang langsung unggul di segala aspek. Ia hanya salah satu jalan menuju pemahaman akan hakikat jati diri manusia di hadapan Tuhannya. ESQ adalah satu pintu yang merangkum berbagai metode pengajaran agar terlihat interaktif dan logis sehingga mampu diterima oleh semua kalangan, baik berlatar belakang agama, budaya, usia, politik, ekonomi, status sosial, ataupun tingkat pendidikan yang berbeda.
Training ini bisa dikatakan sesuai untuk pemula dalam memahami Islam sebagai The way of life secara integral. (Bahkan di hari kedua, ada seorang non muslim yang menggaungkan syahadat. Kembali ke Islam dengan sukarela.) Sedang bagi para pemuka, selain dapat mencontoh metode dakwah dan menambah referensi ilmu, duduk bersama dalam training ini juga dapat sejenak mengisi ulang ruhani serta mengikis gejala sifat kejumawa-an dan antek-anteknya.
Mengenai mahalnya biaya pelatihan, yang sering disorot dan dipertanyakan banyak orang, mungkin akan lebih fair jika ada sedikit deskripsi bagi peserta tentang alokasi dari dana tersebut. Baiknya dijelaskan pula fasilitas apa saja yang didapat oleh peserta dengan keanggotaan yang berlaku seumur hidup. Pengelolaan ESQ sendiri sudah semakin profesional dengan bertransformasi menjadi sebuah korporasi yang berfokus pada bidang Sumber Daya Manusia. Maka penting untuk mecegah prasangka negatif yang menghasilkan tudingan miring semisal menjual agama dengan dalih pelatihan. Disamping itu perlu diupayakan subsidi silang dari para alumni, hingga semua lapisan masyarakat yang berminat bisa ikut dengan membayar separuh harga atau bahkan cuma-cuma.
Beberapa hal yang mungkin perlu diformat lebih baik lagi dari training ini adalah setting ruangan yang sedikit bercampur baur antara pria-wanita (karena sedikit memecah konsentrasi euy, ketika mendengar suara tangis kaum adam), penampilan kalimat Hadits yang belum dicantumkan sanadnya dan beberapa ayat Qur’an sebaiknya dikemas setelah merujuk pada ahli tafsir yang ada. Dengan penyampaian materi yang lebih sempurna, diharapkan pemahaman yang didapat tidak sepotong-sepotong. Yang tak kalah penting pula, hendaknya ada perhatian khusus bagi para alumni untuk dibina lebih intensif. Karena training ini sarat dengan nilai-nilai Islam yang universal, maka mereka yang sudah digodok didalamnya memiliki tangung jawab lebih untuk menjaga keistiqomahan. Syari’at Islam semoga bisa lebih teraplikasi secara nyata melalui majlis ilmu yang lebih kecil lingkupnya dan kontinyu, minimal sepekan sekali diantara mereka, sebagai media silaturrahim, penjaga amal, pegingat iman, dan penambah ilmu.
Dan bagi mereka yang mengaku pembelajar, sebagaimana sayah *ngaku-ngaku*, jika memang memiliki kesempatan waktu dan materi yang cukup, tidak ada ruginya menambah pengalaman lain yang positif di setiap tempat kita berpijak. Salah satunya adalah training ESQ ini. Pencerahan yang didapat, InsyaAllah setimpal dengan kocek yang dikeluarkan. Ketimbang nonton konser music -- bahkan musisi kaliber dunia sekalipun...Percaya deh. :)
Dalam hitungan minggu, Ramadhan kan merasuki. Banyak harap dan cemas mengiringi diantara lalu lalangnya maksiat di hati. Sementara lalainya diri kadang tak mau pergi. Kendati yang dirindu kian mendekati.
Saat Sya'ban disisi bumi yang masih berselimut dingin embun. Dengan segenap harap ku menghadap pada hati-hati yang mungkin terlukai, atau tergores begitu dalam akibat kata pun sikap dari kebodohan dan kelemahan pribadi, dari khilaf yang kerap membayang pun dari raga yang sering tak tahu diri. Izinkanku tulus berucap :
"Mohon lapangkanlah pintu maaf atas tiap jejak hadirku, bila telah meninggalkan benci yang berkepanjangan. Sungguh tak mungkin kuhapus coreng di hadap-Nya, jika dosaku pada sesama masih melekat. Karenanya ikhlaskanlah segala kelancangan, paling tidak di ujung nafasku kelak."
Allahumma baariklanaa fii Sya'ban wa balighnaa Ramadhan
Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat serta memperbaiki iman dan amal di Ramadhan tahun ini. InsyaAllah.
Seringkali seseorang berkata sambil setengah tertawa, ”Saya belum dapat hidayah”, ketika ditanya mengapa ia tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok.Beberapa teman wanitaku pun berkata malu-malu bahwa ia belum mendapat hidayah untuk menutup aurat dengan istiqomah, walau aku tak pernah menyinggung masalah itu. Atau ada juga yang telah berkecukupan materi untuk berangkat haji, menampik halus dengan jawaban, ”Saya belum dapat hidayah”, pada teman yang menyarankannya ke tanah suci dibanding sekedar liburan berjalan-jalan ke luar negeri. Padahal andai direnungi lebih dalam, bagaimana mungkin hidayah itu datang kalau kita tidak bersungguh-sungguh mencarinya ? Bagaimana seseorang mampu meninggalkan jerat narkoba misalnya, jika ia tak bersikeras menghindari lingkungan yang selalu mengajaknya kesana ? Bagaimana seorang wanita bisa menutup aurat dengan sempurna bila tak terbersit kemauan kuat untuk mematuhi salah satu syari’at Allah itu ?
Mengupas masalah hidayah memang cukup berliku. Karena setiap orang melalui pengalaman spiritual yang berbeda dalam menggapai pencerahan untuk hidupnya. Pencerahan yang kemudian mengantarkannya pada jenjang pemahaman dan pengamalan syari’at Allah yang lebih tinggi. Seorang temanku di usianya yang lebih dari 50 tahun menuturkan pengalamannya yang amat berkesan dalam mencari hidayah. Sejak lima tahun terakhir ia mengakui telah banyak perubahan besar dalam hidupnya. Tepatnya sejak ia mengalami cobaan, ketika salah seorang anaknya divonis kanker otak. Awalnya ia bagai orang linglung menerima berita itu. Berbagai terapi pengobatan ia jalani demi kesembuhan anaknya. Hampir saja ia mengambil jalan ke arah perdukunan sebelum akhirnya bertemu dengan seseorang yang menyadarkannya untuk merenungi semua cobaan tersebut dengan rasa ikhlas. Dengan berurai air mata ia bercerita bahwa saat itulah ia merasa hidayah telah berkenan masuk ke hatinya. Hingga ia berusaha mencari hikmah dibalik ujian dan perlahan-lahan mulai mendekat pada Yang Maha Berkehendak. Hidayah, yangistilah itu dulu begitu asing di telinganya ternyata mampu menembus sanubarinya meski di usia yang cukup senja. Padahal sebelum cobaan datang, setiap kenikmatan dunia pernah ia jalani. Sampai ia pun malu menyebutnya satu persatu. Kadang ia berkomentar pendek jika menasehati teman yang masih lalai dalam ibadah, ”Jangan kayak gue, dapet hidayah harus berkorban anak sakit otak dulu.”
Begitulah sesuai Sunatullah yang kita temui dalam perjalanan hidup, idealnya segala sesuatu akan datang jika kita berusaha mendapatkannya. Si A menjadi juara kelas jika ia sungguh-sungguh belajar. Si B ingin kaya maka ia bekerja keras dan rajin menabung. Si C selalu terlihat rapi dan menarik karena ia selalu merawat diri dan mengikuti perkembangan mode terkini, misalnya. Bayangkan demi prestasi dunia kadang kita mampu menempuh jalan yang sulit untuk mencapainya. Dan tentu semua hasil jerih payah itu memang tak lepas dari kehendak Allah. Namun adakah satu usaha untuk benar-benar mengikuti apa yang Allah inginkan dari kita ?
Jadi ingat, beberapa bulan lalu datang beberapa teman dari team ESQ Indonesia untuk mengadakan penjajakan (preview) sebelum training sesungguhnya bulan Agustus nanti di Perth. Berbagai organisasi dari komunitas Indonesia atau Malaysia diundang menghadiri acara ini secara gratis. Namun begitu selesai acara, banyak yang berkomentar sedikit skeptis tentang traning tersebut. Mereka membayangkan betapa mahal biaya yang harus dikeluarkan hanya demi sebuah pelatihan kepribadian dan spiritual. Tak pantas rasanya bila dakwah Islam mesti dijual dengan harga yang relatif tinggi. Apalagi isi acara itu kurang lebih tak ubahnya malam renungan pada acara orientasi Islam di masa sekolah/kuliah. Kendati dari hasil survey, training tersebut setidaknya banyak membawa pencerahan baru untuk berkehidupan lebih agamis bagi pesertanya, mereka yang menolak ikutan rata-rata berdalih bahwa hidayah akan pengetahuan Islam telah cukup didapat dari berbagai bentuk pengajian lain. Dan merasa tidak harus mengeluarkan biaya yang begitu besar hanya untuk ikut training yang dikemas secara Islami.
Aku hanya tercenung mendengar argumentasi yang terasa dangkal. Bila ada waktu luang dan materi yang cukup, mengapa tidak kita sisihkan untuk sebuah momen yang jelas-jelas menawarkan perbaikan bagi pribadi ? Sementara kita tak pernah pikir panjang untuk membelanjakan harta pada sesuatu yang bersifat duniawi. Sedang hidayah yang kita duga sudah diperoleh pun akan pudar jika tak dipelihara dengan serius, yang salah satunya dengan mengikuti berbagai kegiatan yang meningkatkan iman. Bukankah kita tak pernah tahu dari pintu mana hidayah itu datang jika begitu banyak alasan untuk membuka pintunya ?
Mungkin kita harus menyempatkan diri untuk bertanya pada jiwa... Jika kau merasa telah sampai hidayah atasmu, bagaimana caranya engkau mendapatkan karunia tak terhingga itu ? Apakah dengan pengorbanan menukar kesenangan dunia ? Apakah harus melewati cibiran dan pandangan sinis orang di sekitarmu ? Apakah harus dengan susah payah menanggalkan kebiasaan buruk yang menyenangkan hati ? Apakah harus menguras separuh lebih harta kekayaanmu ? Apakah dengan musibah yang menimpa keluarga atau dirimu sendiri ? Ketahuilah bahwa setiap jerih payah raga pun batin dalam menemukan hidayah akan dibayar kontan oleh-Nya. Oleh karena itulah ia begitu mahal dan berharga.
Dan terakhir, bila benar-benar telah kau rasakan manisnya hidayah di relung.. jaga dan siramilah dengan amal ibadah yang rutin. Sungguh ia bukan hanya karunia terindah dari Allah. Tapi juga termahal. Karena segala pengorbanan dalam menggapainya hanya bisa terbeli dengan surga.
Allahu'alamu bishshowab.
"Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin. Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." [ Qs. Al-Isra' : 19 ]
Dari beberapa taujih Ustadz AA, rekaman yang baru saya terima ini sungguh menyentuh realita yang kita alami sekarang. Beliau mengingatkan, bahwa dari berbagai cobaan dunia yang menimpa umat manusia, yaitu kelaparan, ketakutan, kemiskinan, perginya orang-orang terkasih di sekeliling kita, itu hanyalah sebagian kecil saja jika dibanding rahmat dan nikmat Allah SWT.
Sebegaimana Umar bin Khattab ra berujar, "Selama musibah itu tidak menimpa agamaku, maka musibah itu merupakan sesuatu yang kecil." Dan ingatlah, selalu ada kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar menghadapi setiap musibah dan ujian, yaitu Jannatu na'iim. InsyaAllah.
Selamat menyimak, semoga dapat meningkatkan iman dan amal kita.
PS : Maaf, ini postingan yang diupload lagi setelah sebelumnya gagal. Mohon laporannya jika masih tak terdengar dengan jelas ya.
Ada saatnya kita perlu berhenti dari rutinitas yang melenakan, Seharusnya kita pun berhenti dari aktivitas yang menggelisahkan, Selayaknya kita juga perlu berhenti dari kecenderungan nafsu, atau dari meratapi luka hati. Sepatutnyalah kita berhenti dari kebiasaan menipu jiwa. Dan berhenti dari keterpukauan semu.
Pada perhentian yang menyeruak muncul menampar kesadaran itulah kita berhenti. Di perhentian kala satu tarikan nafas panjang tak lagi kuasa menahan gelora hasrat itulah kita berhenti. Bila datang dorongan menghentak grafik lonjakan iman itulah waktu kita berhenti.
Biar terlewati tikungan tajam, jalanan sempit lagi berbatu. Melalui lika liku peta hidup dan ketidakpastian pencarian jejak harap. Supaya bebas dari was-was tergelincirnya kaki menapaki tanjakan terjal nan licin.
Maka pastikanlah kita harus berhenti. Agar setiap kelelahan terobati, agar tiada belenggu yang menyisakan kenistaan seorang diri. Semata-mata agar, syari'at-Nya kita tepati hati-hati.
Dan dimanapun kecemasan mengintai, kan selalu ada waktu perhentian itu menunggu bagi tiap jerit introspeksi.
[ 6107, 29/06/08, 2.22 pm ] *pic taken from google*
Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. An-Nahl : 98)
Dari kesimpulan penafsiran Imam Ibnul Qayyim terhadap ayat di atas, dinyatakan bahwa tak ada pekerjaan manusia yang akan mendapat gangguan syaitan yang lebih besar dan dahsyat daripada kegiatan bersama Al-Qur’an. Godaan itu antara lain:
Waswas syaitan bagi pengajar Al-Qur’an. Godaannya adalah “Berhentilah mengajar Al-Qur’an karena kegiatan itu tidak menjanjikan kekayaan, melainkan hidup dalam kemiskinan!” Seakan-akan bahwa dengan mengajarkan Al-Qur’an, maka manusia akan menjadi miskin dan jika meninggalkannya akan menjadi kaya. Bila tiap pengajar tunduk dengan waswas tersebut, akan hancurlah umat ini karena semakin sedikit generasi berikutnya yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Untuk mengatasinya, yakinilah bahwa pemberi rezeki sesungguhnya hanya Allah Swt, bukan manusia. Kemudian berpikirlah untuk mencari usaha yang halal, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar Al-Qur’an. Perlu dijaga kesinergian antara 2 hal tersebut karena sama pentingnya di sisi Allah Swt dan jika dipadukan insya Allah akan memberikan keberkahan.
Waswas syaitan bagi pembaca Al-Qur’an. Godaannya adalah menunda-nunda bagian juz yang harus dibaca pada sebuah masa tertentu. Walaupun sudah mulai membaca, timbul waswas perasaan sudah terlalu lama bersama Al-Qur’an atau tiba-tiba tidak dapat berkonsentrasi, atau harus segera menyelesaikan tugas-tugas yang lain. Demikian pula waswas seakan-akan tidak ada wakut untuk tilawah Al-Qur’an. Sebagai solusinya, carilah jawaban dari dalam diri sendiri, contohnya:
Kita kecam diri sendiri: “Mengapa untuk kegiatan yang lain tersedia waktu yang cukup sedangkan untuk bertilawah Al-Qur’an tidak ada waktu?” Persoalan sesungguhnya sebenarnya bukanlah ada-tidaknya waktu, tetapi adakah kemauan dari dalam diri kita untuk menyempatkannya atau tidak?
Bila tak mampu berkonsentrasi, berhentilah sejenak, tanyakan pada diri: “Sudah berapa lamakah kita ber-tilawah? Sudahkah kita merasa dinasehati oleh Allah dengan apa yang kita baca?” Jika belum, mulailah dengan konsentrasi baru dan memandang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pesan langsung dari Allah Swt kepada kita yang harus dihayati, dan jika tidak melakukannya maka kita rugi besar. Sekian tahun rajin membaca Al-Qur’an tetapi selama itu pula kita belum merasakan ruh dan nikmatnya Al-Qur’an.
Waswas syaitan bagi penghafal Al-Qur’an. Godaannya adalah bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Timbul rasa pesimis dalam menghafal. Sebetulnya hanya satu keinginan syaitan: “Berhentilah saat ini juga untuk menghafal Al-Qur’an!” Sebagai solusinya, antara lain:
Kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa motivasi yang terngiang saat dahulu mulai menghafal?” Beberapa motivasi yang mungkin menjadi jawaban antara lain:
Ingin membersihkan kehidupan masa lalu yang kotor dan kelam penuh maksiat, kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi bentuk taubatannasuha kepada Allah Swt.
Ingin mendalami agama Islam lebih jauh, sesuai ungkapan salafush shalih: “Tidak disebut seorang itu alim kecuali jika ia telah hafal Al-Qur’an.”
Ingin memanfaatkan masa remaja yang produktif dengan kegiatan yang dapat dikenang saat dewasa.
Segeralah bergaul dengan orang-orang yang sedang menghafal Al-Qur’an agar tidak merasa sendiri dalam ber-mujahadah dan bersabar dengan Al-Qur’an dan mengetahui bahwa begitu banyak orang yang lebih bersemangat dan tahan banting.
Waswas syaitan bagi orang yang memahami Al-Qur’an. Godaannya adalah berpindah-pindah kegiatan. Saat membaca tasfir malah ingin tilawah dan demikian pula sebaliknya. Lalu menyepelekan kegiatan yang satu karena larut dalam kegiatan yang lain, misal meremehkan orang yang menghafal karena sedang mempelajari sebuah tafsir dan meyakini bahwa hanya dengan mempelajari tafsirlah metode interaksi yang paling baik dengan Al-Qur’an. Beberapa solusinya antara lain:
Sadarilah bahwa hakikat interaksi dengan Al-Qur’an mencakup membaca, menghafal dan memahami, berniatlah membaca dan menghafal saat memahami Al-Qur’an. Jangan remehkan orang yang membaca dan menghafal saat kita memahami Al-Qur’an karena tiap kegiatan ada fadhillah-nya.
Sadarilah bahwa hakikat berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah harus memiliki waktu-waktu yang terbagi secara baku. Misal dalam satu pekan tiap hari tilawah, tiap tiga hari sekali membaca tafsir dan sehari sepekan menghafal. Jika bisa istiqamah, niscaya akan dirasakan perkembangannya dari segi wawasan, keimanan, pemikiran dan mentalitas. Pasti akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kegiatan berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam bentuk membacanya saja. [ Ust. Abdul 'Aziz Abdur Ra'uf, Lc, Al-hafizh ]
"Ya Allah, jangan palingkan hatiku dari kitab-Mu dan jangan Kau biarkan lidahku berat untuk membaca dan menghafalkannya......"
Setiap aku melihat seorang yang -cenderung- renta, menyapu jalanan ataumembersihkan fasilitas umum dengan rutin dan tekun, aku merasa kagum pada keikhlasannya. Terngiang perkataan suami, ketika ia mengomentari seorang kerabat yang berprofesi sebagai Ustadz yang kerap berkeliling dengan sepeda dari kampung ke kampung. Ustadz tersebut menderita albino sehingga memiliki penglihatan yang sangat kurang tajam, karenanya ia harus bersepeda super lambat dan hati-hati. "Mungkin dia tidak terkenal di dunia, tapi bisa jadi begitu populer di kalangan penduduk langit", komentar yang singkat namun cukup menyentil batinku.
******* Dalam pikiranku, tiap insan yang memiliki kecenderungan bergaul dan memperluas jaringan kekerabatannya dalam satu komunitas di ruang lingkup tertentu, cukup menjadi pemicu yang membuatnya rentan terjangkiti virus popularitas. Semakin banyak dikenal orang, semakin hati membuncah ingin terus menjaga kelestarian pamor dan memperluasnya jika mungkin. Angin bangga diri meniup makin kencang ketika sesuatu yang ditonjolkan telah menyedot perhatian orang banyak dan menjadi buah bibir yang sering diperbincangkan dari waktu ke waktu.
Karena itu, demi mendongkrak kesan yang sudah dibangun pada benak publik tentangnya, segala bentuk keunikan gaya hidup, prilaku, karya tulis, tutur kata, ataupun asesoris dalam penampilan, senantiasa diasah agar dapat tampil berbeda dari kelaziman. Kenyataan ini tak dipungkiri telah menjadikan popularitas sebagai sesuatu yang didamba bagi mereka yang banyak berprofesi di depan layar. Dengan kata lain, sebagai orang yang memiliki kapasitas amal atau ilmu tertentu yang mengharuskannya lebih sering tampil di muka khalayak.
Salah satu contoh yang paling mudah untuk melihat gejala penyakit ini adalah pada mereka yang berkecimpung di dunia hiburan. Di dunia entertainment, dimana kepopuleran suatu hal yang dicari dan sangat melekat pada pelakunya telah memotivasi para artis pujaan dalam mencari sensasi. Melalui hal-hal kecil seperti cara berpakaian, gaya bicara, model rambut, koleksi barang-barang antik, sampai rela melakukan hal yang berdampak merugikan diri sendiri seperti bergonta-ganti pasangan, bercerai, berselingkuh, terjerat kriminalitas atau narkoba dipublikasikan begitu gencarnya di setiap media. Bahkan kadang berita itu direkayasa sedemikian rupa demi menaikkan rating ketenaran yang sudah diincar. Taraf ini mungkin bisa dikategorikan kronis, karena sudah tak peduli lagi oleh rasa malu hingga meraih popularitas lewat pengumbaran aib pribadi.
Di kalangan yang lebih menonjolkan kadar intelektualitas, pun mewabah. Tak kurang tokoh sosial, politik, ekonomi, budaya, termasuk agama, dapat terserang candu popularitas ketika ide atau opini mereka terekam oleh media dan diapresiasi masyarakat. Tak peduli apakah sambutan hangat ataupun cibiran sinis, yang penting namanya terlibat dalam perbincangan terkini. Titel pun mulai disemat di depan nama demi menjaga citra muatan kecerdasan (baca : IQ), sebagai bukti terhadap wewenang ilmiah yang dimiliki. Terkadang deretannya begitu panjang, hingga menenggelamkan nama si pemilik gelar sendiri : Prof. Dr. dr. H. Fulan bin Anu, Msc. MBA. SH. ST. (ck..ck..kalo kurang tambahin sendiri deh, yang pasti tinggal nambah satu lagi yaitu: Alm. ;p*)
Semakin runyam kemudian ketika virus ini dengan semena-mena hinggap pada mereka yang kerap dijuluki Aktivis Dakwah atau lebih kita kenal dengan Da'i. Seorang aktivis dalam benak kita tentulah orang yang harus selalu aktif dalam menjalankan roda hidupnya. Bila dikaitkan dengan kata Dakwah, maka setiap aktivitasnya mestilah diupayakan agar selalu berlandaskan nafas dan semangat menebar nilai-nilai Islam di setiap segmen kehidupan masyarakat sekitarnya. (Oh, heroik sekali kedengarannya...) Keadaan ini tentu membuat para da'i harus tampil sebagai penggerak bagi tumbuhnya motivasi beramal sholih, minimal di lingkungan sekitar. Dimana ia harus menjadi contoh pertama yang memang layak untuk diikuti. Betul ga ? :)
Nah, disinilah timbulnya celah si bibit virus popularitas berkembang biak. Dalam konteks istilah agama, virus ini mungkin identik dengan Riya'. Salah satu penyakit hati yang ditakuti karena dapat 'membumihanguskan' amalan karena sifatnya samar dan sulit dideteksi oleh penderitanya sendiri. Begitu bahayanya dampak Riya', Rasulullah saw sampai memberi 'warning' bagi para sahabat dengan bersabda : " Yang paling aku takuti menjangkiti kalian adalah syirik kecil, yaitu penyakit riya' ". Karena ia mampu menyelusup halus, merayap menguasai hati, mecairkan ikhlas dan memusnahkan pahala.Ibarat semut hitam yang berjalan di batu hitam di malam yang gelap gulita. Siapakah yang bisa melihat keberadaannya kecuali Allah swt ? Siapa yang tidak bergidik ngeri membayangkan kemungkinan susah payah kita memberi kebaikan pada orang lain hangus tak berbekas karena ulah hati yang jumawa ?
Maka jika seorang da'i sudah terpedaya dengan virus popularitas tadi, bukan tidak mungkin yang ia dapat adalah memang ketenaran di mata penduduk bumi. Setiap lapisan masyarakat mengenalnya, harum namanya di seantero jagad...namun ternyata penduduk langit enggan menyapanya. Bahkan mengetahui keberadaannya pun tidak. Sungguh menyedihkan bukan ? Alangkah amat jauh ketertipuan atas bangga diri terhadap popularitas semu. Alangkah besar kerugian kita disisi Allah. Berjuang dengan dalih menegakkan agama-Nya, namun cuma catatan kosong yang kita hadapi di akhirat. Na'udzu biLlahi min dzaalik.
Sobat, tulisan ini bukan dibuat untuk menafikan nilai-nilai baik yang sudah seharusnya ditebar bagi kebaikan ummat, tapi lebih kepada ajakan untuk selalu mewaspadai bibit riya' yang bisa merontokkan benih amal yang kita tabung sebagai bekal menuju kampung keabadian. Aku dan kalian mungkin saja terkena virus ini. Mewaspadainya sambil beramal sholih itu harus. Mencermati hati agar tidak mudah terlena dengan kepopuleran itu perlu. Mengagumi pekerjaan mereka yang mungkin di mata umum termarginalkan dan dianggap remeh, itu bisa jadi mengasah mata batin kita untuk kembali berada pada jalur keikhlasan.
So, tinggal pilih..ingin populer di dunia atau di langit ?
Berada di antara ragam manusia dengan warna rambut dan kulit, aku seperti sebutir pasir di tengah gurun. Ketika meluncur kalimat salam dan shalawat dari tiap mulut yang berbeda kepala itu bergumam mendesah, aku bergetar. Gemuruhnya selalu saja menyentak rindu yang bersemayam dalam tiap desir aliran darah. Bergema terpantul-pantul di sanubari. Menyeruak hebat ke permukaan, membuat genangan di pelupuk mata.
Rindu serindu rindunya ! Padamu ya Rasulullah saw...
Dari sekian banyak coretan emas tentang Beliau saw, aku ingin mengutip rangkaian kalimat indah Syeikh 'Aidh Al-Qorni, dengan sedikit tambahan dari hatiku. Mengajak kalian sahabatku untuk berbagi kerinduan disini. Berbagi rasa atas sunnah Beliau saw yang mungkin terlewati....
"Dia yang beribadah di gua Hira'. Dia pembawa syari'at Allah yang begitu bersih, lurus dan putih. Ia pemberi sya'faat dan pelaku Isra. Dia yang memiliki kedudukan terpuji, yang disebutkan dalam Taurat dan Injil. Dia yang mendapat pembelaan dari Jibril. Dia pemimpin orang-orang shalih. Dia contoh dan simbol orang-orang yang menang.
Betapa indahnya nama dan yang diberi nama. Selamat datang wahai Al-Habiib, yang mulia. Jika seseorang bicara tentangnya, membentanglah berbagai